10 June 2022, 05:00 WIB

Setelah Kemajon lalu Kemlinthi


Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group|Podium

img
MI/Ebet

KEMLINTHI. Jujur, istilah ini sudah lama, sangat lama, tidak saya dengar. Maka, ketika politikus PDI Perjuangan Trimedya Panjaitan melontarkan istilah itu, saya terbawa nostalgia masa silam.

Kemlinthi ialah bahasa Jawa untuk menggambarkan seseorang sombong, sok. Belagu kalau istilah anak muda sekarang. Dulu, puluhan tahun lalu ketika saya masih tinggal di kampung halaman di Klaten, Jawa Tengah, kemlinthi akrab di kuping saya. Ia biasa dilekatkan kepada mereka, terutama bocah laki-laki, yang sombong, yang banyak tingkah, yang sok pintar.

Banyak sinonim dari kemlinthi. Ia sama artinya dengan kementhus. Bedanya, kementhus lebih sering dilekatkan kepada wong lanang yang telah menginjak remaja atau menjelang dewasa.

Padanan lain kemlinthi ialah kemlancang atau kumalungkung. Bisa juga adol bagus. Intinya, istilah-istilah itu dirancang untuk menggambarkan polah laki-laki dengan konotasi negatif.

Kemlinthi murni istilah Jawa. Namun, ia tiba-tiba meng-Indonesia setelah Trimedya Panjaitan menyuarakannya. Trimedya bukan orang Jawa. Dia orang Batak, tapi mengaku tahu arti kemlinthi karena istrinya kelahiran Jawa. Maka, ketika dia menyebutkan istilah itu untuk Ganjar Pranowo, berarti bukan sekadar kebetulan. Dia memang ingin menggambarkan Ganjar sombong, sok, belagu.

Bagi Trimedya, Ganjar kemlinthi karena manuvernya untuk nyapres di 2024 sudah kelewatan. ''Ganjar apa kinerjanya 8 tahun jadi gubernur? Selain main di medsos, apa kinerjanya? Tolong gambarkan track record Ganjar di DPR? Kemudian sebagai gubernur selesaikan Wadas itu. Selesaikan rob itu. Berapa jalan yang terbangun? Kemudian sekarang diramaikan kemiskinan di Jateng malah naik,'' cetusnya kepada wartawan (1/6).

''Kalau kata orang Jawa kemlinthi ya, sudah kemlinthi dia. Harusnya sabar dulu dia jalankan tugasnya sebagai gubernur Jateng. Dia berinteraksi dengan kawan-kawan struktur di sana DPD, DPC, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, itu baru,” ketus Trimedya.

Bukan hanya Trimedya yang menyebut Ganjar kemlinthi. Jauh sebelumnya, Mei 2021, elite PDIP lainnya, Bambang Wuryanto, bertukas sama meski dengan istilah yang agak berbeda. Kata Bambang Pacul yang asli orang Jawa, Ganjar sudah kemajon. ''Wis kemajon (sudah kelewatan). Yen kowe pinter, ojo keminter (kalau kamu pintar, jangan sok merasa pintar).''

Kemlinthi dan kemajon sama-sama labelisasi yang buruk. Benarkah Ganjar memang kemlinthi? Betulkah dia kemajon? Biarkan itu menjadi urusan internal PDI Perjuangan. Trimedya, Bambang Pacul, dan Ganjar sama-sama kader PDI Perjuangan. Pangkal soal panasnya hubungan di antara ketiganya terkait dengan PDI Perjuangan.

Kalau Trimedya dan Bambang Pacul menganggap Ganjar sudah kelewat batas, biarkan itu diselesaikan secara adat di internal PDI Perjuangan. Mereka punya aturan organisasi. Mereka punya dasar untuk menilai siapa anggota yang benar, siapa yang keluar jalur.

Kalau ada yang heran bukan kepalang kenapa PDIP kok malah resah dan gelisah ketika kadernya bernama Ganjar Pranowo punya popularitas dan elektabilitas tinggi, biarkan itu menjadi sikap mereka. Kiranya kita perlu repot-repot untuk mengulik-uliknya.

Pun kalau drama panas tersebut oleh sebagian pihak dianggap sengaja digulirkan dan dipelihara untuk menaikkan pamor Ganjar, biarkan PDIP yang menjawabnya nanti. Sebagai pemain, partai banteng moncong putih berhak mengkreasi taktik apa saja selama sesuai regulasi.

Kendati sama-sama satu rumah, Trimedya, Bambang Pacul, dan Ganjar berbeda arah. Saya tidak punya kapasitas untuk menilai arah siapa yang salah. Namun, bolehlah di antara sekian banyak jenis 'serangan' Trimedya kepada Ganjar, saya sepakat soal pentingnya track record.

Track record, rekam jejak, calon pemimpin memang penting. Apalagi buat calon pemimpin tertinggi, calon nakhoda kapal besar bernama Indonesia. Apakah track record Ganjar buruk seperti Trimedya bilang? Apakah sebagai gubernur, Ganjar acak adut? Tidak sedikit yang punya penilaian berbeda. Namun, kalau boleh jujur, tak banyak yang bicara soal kinerja Ganjar. Para pendukung fanatiknya pun nyaris tak pernah membeberkan prestasi sang idola.

Anggaplah Trimedya sedang mengingatkan yang sedang lupa. Lupa bahwa memilih pemimpin tidak boleh hanya didasarkan pada citra semata. Citra yang bisa dipoles, apalagi di zaman sekarang ketika media sosial dapat diandalkan sebagai pisau bedah plastik. Pisau untuk memoles seseorang yang sejatinya buruk terlihat baik. Atau sebaliknya, pisau untuk membuat seseorang yang sesungguhnya baik tampak buruk.

Memilih pemimpin berbasiskan pencitraan ialah awal malapetaka. Ngeblangsak kalau kate orang Betawi. Memilih pemimpin berdasarkan rekam jejak ialah langkah yang bijak.

Tentu prinsip itu tak cuma untuk Ganjar, tapi juga untuk yang lain. Untuk Anies Baswedan, untuk Prabowo Subianto, untuk siapa pun bakal capres atau cawapres.

Penulis terkenal kelahiran Austria Peter F Drucker mengingatkan, ''Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya." Semoga pemimpin semacam itu yang dihasilkan Pemilu 2024. Masih cukup waktu bagi kita untuk mencermatinya.

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA