05 January 2022, 05:00 WIB

Ganjar-Anies dalam Indeks Kebahagiaan


Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group|Podium

img
MI/Ebet

DALAM rumus politik, segala sesuatu bisa menjadi amunisi. Di tangan politikus dan para aktivis politik nyaris tidak ada hal yang tidak bisa dipolitisasi. Apalagi bila sesuatu hal tersebut menyerempet sosok-sosok yang berpotensi menjadi calon pemimpin di negeri ini. Pasti isu itu makin lezat untuk terus digoreng.

Itu pula yang terjadi seusai Badan Pusat Statistik (BPS) merilis capaian indeks kebahagiaan nasional dan daerah, pekan lalu. Kebetulan hasilnya menarik untuk menjadi bahan 'kajian'. Sebab, ada dua daerah yang dipimpin gubernur yang dalam berbagai survei elektabilitas capres selalu berada di peringkat tiga besar. Kebetulan pula capaian indeks kebahagiaan kedua daerah itu berbeda: yang satu naik, satunya lagi turun.

Daerah yang indeks kebahagiaannya naik ialah Jawa Tengah. Kebetulan gubernurnya Ganjar Pranowo, peringkat 1 atau 2 survei elektabilitas capres 2024 dalam berbagai lembaga survei. Sebaliknya, wilayah yang capaian indeks kebahagiaannya turun ialah DKI Jakarta. Nama gubernurnya Anies Baswedan, peringkat 3 survei capres oleh sejumlah lembaga.

Dalam survei BPS itu, indeks kebahagiaan warga Jawa Tengah mencapai 71,73 poin dan terus meningkat sejak dipimpin Ganjar Pranowo. Pada 2014 atau saat awal Ganjar menjabat, indeks kebahagiaan Jateng baru 67,81 poin. Kemudian pada 2017 naik menjadi 70,92 poin.

Sebaliknya dengan Jakarta. Indeks kebahagiaan di Ibu Kota Negara kali ini turun jika dibandingkan dengan capaian indeks pada 2017 ketika Anies dilantik memimpin Jakarta. Saat itu, angkanya berada di 71,33 poin. Pada survei 2021 kali ini, angka indeks kebahagiaan DKI turun menjadi 70,68. DKI Jakarta kini berada di urutan ke-27 dari 34 provinsi pada indeks kebahagiaan versi BPS.

Ganjar tentu ikut bungah dengan capaian ini. Namun, ia 'cukup proporsional' mengomentari hasil survei yang digelar BPS pada rentang Juli hingga Agustus 2021 tersebut. Ganjar mengungkapkan meningkatnya indeks kebahagiaan masyarakat terjadi karena masyarakat sendiri. Ketika masyarakat bisa hidup aman, damai, dan tenteram, otomatis indeks kebahagiaannya akan naik.

"Bagi saya, hal yang penting kalau kita komunikasi dengan masyarakat sama-sama saling menjaga perasaan saja," kata Ganjar. Selain itu, lanjut Ganjar, suasana kehidupan masyarakat Jawa Tengah yang saling menolong juga memberikan dampak. Sikap tolong-menolong antarmasyarakat yang tinggi membuat kehidupan semakin nyaman.

Akan halnya Jakarta, belum banyak komentar yang didapat. Gubernur Anies Baswedan belum menanggapi. Wakil Gubernur Ahmad Riza Patria menyatakan baru mau mempelajari survei BPS tentang indeks kebahagiaan tersebut. Beberapa analis menyebut turunnya indeks kebahagiaan di Ibu Kota didominasi karena faktor ekonomi. Tekanan ekonomi di Jakarta boleh jadi lebih hebat ketimbang di Jawa Tengah atau daerah lain.

Yang paling heboh tentu pihak-pihak yang kerap mengambil posisi berseberangan dengan Anies. Bagi mereka, hasil survei indeks kebahagiaan ini seperti umpan lambung matang yang berpotensi menjadi gol bila disundul secara pas. Salah satu 'sundulan' itu ialah memelesetkan tagline kampanye Anies, 'Bahagia Warganya, Maju Kotanya' menjadi 'Bahagia Gubernurnya, Sengsara Rakyatnya'. Pemelesetan dilakukan Eko Kunthadi, pegiat media sosial yang memang berseberangan dengan Anies.

Apa pun bentuk kritiknya, sepedas dan seganas apa pun kecamannya, tentu itu ialah konsekuensi demokrasi. Orang boleh dan sah berpendapat dalam perspektif masing-masing. Apalagi, basis argumentasi ialah fakta terbuka, yakni survei BPS. Yang penting tidak memfitnah, menyebarkan informasi palsu, menghasut dengan ujaran kebencian.

Saling berbalas kritik, beradu argumentasi, memajukan perspektif berbeda, itu iklim yang sehat. Semuanya vitamin pendongkrak imunitas. Tentu 'perang perspektif' itu subjektif. Mereka yang pro Ganjar mungkin menyebut bahwa capaian indeks kebahagiaan itu merupakan bukti sahih kinerja gubernur.

Sementara itu, yang pro Anies mungkin akan menyebut bahwa capaian indeks kebahagiaan bukan satu-satunya indikator kinerja. Apalagi, survei tersebut mengandalkan persepsi yang boleh jadi berbeda dengan capaian di lapangan. Mereka boleh jadi akan menyodorkan kisah sukses lain, misalnya, capaian vaksinasi, pembangunan Jakarta International Stadium, atau penataan taman dan trotoar.

Perang perspektif itu bagus. Ia meningkatkan literasi. Dalam pandangan Jurgen Habermas, 'perang nalar' seperti itu wujud dari teori tindakan komunikatif yang sehat dan menyehatkan bagi tatanan sosial kita. Yang penting, jangan lupa bahagia.Abdul Kohar

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA