03 June 2021, 05:00 WIB

Soekarno dan Pastor Sahabat tanpa Sekat


Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group|Podium

img
MI/Ebet

KOTA Ende, Flores, menjadi tempat Soekarno menggali dasar negara. Di tempat pembuangan itulah Bung Karno membangun relasi tanpa sekat dengan pastor-pastor asal Belanda. Ia mengolah batin dan budinya bersama para pastor.

Persahabatan mereka ikut dikenang setiap memperingati Hari Lahir Pancasila. Presiden Joko Widodo menetapkan 1 Juni sebagai hari libur. Ditetapkan melalui Keppres Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila. Salah satu dasar pertimbangannya ialah Pancasila sebagai dasar dan ideologi Negara Republik Indonesia harus diketahui asal-usulnya.

Keppres itu menyebutkan untuk pertama kalinya Pancasila sebagai dasar negara diperkenalkan Soekarno, anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, di depan sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945.

Soekarno memperkenalkan Pancasila. “Aku tidak mengatakan bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanya menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri, dan aku menemukan lima butir yang indah,” kata Soekarno.

Lima butir yang indah itu didapati dari permenungan Bung Karno di bawah pohon sukun di Ende. Pada prasasti di pohon sukun itu tertulis “Di kota ini kutemukan lima butir mutiara, di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.”

Bung Karno dibuang ke Ende pada 14 Januari 1934. Dibuang karena dia menghadiri pertemuan politik di rumah Mohammad Husni Thamrin, Jakarta, pada 1 Agustus 1933. Ia ditangkap ketika ke luar dari rumah, kemudian dipenjarakan selama delapan bulan tanpa proses pengadilan.

Pada 28 Desember 1933, Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, De Jonge, mengeluarkan surat keputusan pengasingan Soekarno yang saat itu berusia 32 tahun ke Ende. Ia berada di sana selama tepat empat tahun, sembilan bulan dan empat hari. Setelah itu ia dipindah ke Bengkulu.

Setelah 13 tahun meninggalkan Ende, dalam kapasitasnya sebagai Presiden, Bung Karno mengunjungi Ende pada 1951. Saat memulai pidato, Bung Karno mencari sahabatnya selama pembuangan. “Mana Pater Huijtink?” Pater Gerardus Huijtink SVD, Pastor Paroki Ende, naik panggung dan bersalaman. “Saya masih mempunyai utang 70 gulden, Pastor,” kata Bung Karno.

Bung Karno ialah seorang yang menghargai arti persahabatan. Menarik untuk disimak percakapan Bung Karno dengan dua pastor Belanda seperti diungkapkan Otto Gusti Madung dalam makalah Pancasila dalam Pusaran Diskursus Liberalisme versus Komunitarisme.

Otto menulis bahwa pada masa 1934 hingga 1938 Bung Karno mengalami masa pembuangan di Kota Ende, Flores. Di tempat ini ia antara lain menjalin persahabatan dengan sejumlah misionaris Katolik asal Belanda. Di Ende yang kala itu masih sangat terpencil, Soekarno boleh menggunakan perpustakaan para misionaris SVD (Societas Verbi Divini–Serikat Sabda Allah) dan berdiskusi dengan para misionaris Belanda di Biara St Yosef.

Konon, lanjut Otto, dalam sebuah percakapan dua misionaris Belanda, yakni Johanes Bouma dan Gerardus Huijtink yang dalam perjalanan waktu telah menjadi teman akrab Bung Karno, pernah mengajukan dua pertanyaan penting kepada Bung Karno yang mendorongnya berpikir serius tentang Pancasila.

Pertama, “Di mana tempat mamamu yang beragama Hindu itu di dalam negara yang mayoritas muslim?” Kedua, “Di mana tempat orang-orang Flores yang mayoritas Katolik ini dalam negara yang Marxis dan mayoritas muslim itu?”

Bung Karno, kata Otto, merumuskan Pancasila sebagai basis ideologis yang dapat mempersatukan Indonesia yang plural. Sebagai simbol identitas kolektif bangsa Pancasila mengatasi identitas-identitas komunal sehingga setiap pribadi, kelompok, pandangan hidup, dan agama dapat mewujudkan dirinya secara autentik tanpa harus membahayakan yang lain.

Persahabatan Bung Karno juga diungkapkan John Dami Mukese seperti yang ditulis dalam portal endekab.go.id. Ia menjelaskan bahwa relasi Bung Karno dengan para misionaris SVD di Ende yang semuanya berkebangsaan Belanda turut memberi kontribusi yang sangat berarti dan bernilai.

“Khusus persahabatannya dengan Pater Yohanes Bouma SVD yang adalah Regional Sunda Kecil waktu itu, dan Pater Geradus Huijtink SVD yang adalah Pastor Paroki Katedral, sangat membantu Bung Karno dalam menemukan bentuk dan rumusan yang lebih konkret dari dasar negara yang sedang diperjuangkannya,” kata Mukese.

Ditulis dalam buku Bung Karno dan Pancasila: Ilham dari Flores untuk Nusantara bahwa dari hasil persahabatan ini, dari diskusi-diskusi mereka, akhirnya Soekarno mematangkan ide-idenya tentang dasar negara Indonesia, Pancasila.

Dasar negara itu dimatangkan dalam diskusi bersama para sahabat. Memperingati Hari Lahir Pancasila sama saja mengenang persahabatan tanpa sekat dan toleransi itu lahir di Flores.

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA