08 April 2021, 05:00 WIB

Luluh Lantak Surga Kecil Itu


Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group|Podium

img
MI/Ebet

PULAU Adonara sering disebut sebagai surga kecil yang tersembunyi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Disebut surga kecil karena kawasan seluas 509 km2 itu berpanorama sangat indah.

Kawasan itu porak-poranda diterjang banjir bandang, Minggu (4/4) dini hari. Titik terparah banjir bandang ada di Desa Nelelamadike, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur. Desa berpenduduk 1.246 jiwa yang terdiri atas 366 keluarga itu berada di punggung Gunung Ile Boleng.

Kawasan itu disesaki hamparan batu dan tanah yang keluar akibat letusan gunung tersebut ratusan tahun silam. Website resmi desa, Nelelamadike.opendesa.id, menyebutkan Desa Nelelamadike sebelumnya bernama Lewo Lamanele yang berasal dari Gunung Boleng. Ada relasi erat antara masyarakat dan gunung tersebut.

Apakah masyarakat setempat tidak lagi menjaga gunung itu sehingga dikirim banjir bandang? Berdasarkan laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Flores Timur 2008, kelestarian hutan di daerah itu sedang dalam ancaman akibat pembalakan liar.

Banjir merupakan isu lingkungan yang selalu terjadi setiap tahun di Kabupaten Flores Timur terutama pada musim penghujan. Permasalahan tersebut terkait dengan kondisi topografi wilayah pada daerah-daerah tertentu yang mempunyai kelerengan yang curam lebih dari 40%.

Berdasarkan laporan resmi itu, pada daerah dengan kelerengan yang curam itu seharusnya terdapat kawasan lindung mutlak berupa hutan dengan jenis tanaman tahunan. Bencana banjir dan longsor terjadi akibat tidak adanya penahan tanah, yaitu akar pohon, sehingga pada saat hujan, lapisan tanah ikut hanyut bersama air hujan.

Banjir bandang di Adonara, menurut Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM, akibat gerakan tanah. Analisis yang dimuat di Vsi.esdm.go.id menyebutkan gerakan tanah terakhir terjadi di Adonara.

Penyebab gerakan tanah diperkirakan, antara lain, curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya bencana dan kemiringan lereng yang curam mengakibatkan batuan yang bersifat lepas mudah bergerak.

Rekomendasi yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM antara lain melestarikan pepohonan kuat berakar dalam terutama pada lereng terjal guna mempertahankan kestabilan lereng dan mencegah erosi air permukaan.

Kerusakan hutan penyebab utama banjir bandang. Bencana di negeri ini datang silih berganti. Ada tiga jenis bencana menurut UU 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana, yaitu bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial.

Berdasarkan data Indeks Risiko Bencana Indonesia (2013), 80% kabupaten/kota di seluruh Indonesia merupakan daerah dengan tingkat risiko tinggi terhadap bencana. Sebanyak 322 kabupaten/kota dari 497 kabupaten/kota masuk ke kelas risiko tinggi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut banjir bandang sebagai bencana yang relatif baru dikenal. Karakteristik banjir bandang dibedakan dengan banjir pada umumnya oleh kecepatan arus air, waktu genangan air yang relatif cepat hilang, yaitu kurang dari 6 jam.

Saat ini belum tersedia peta risiko bencana banjir bandang. Buku Risiko Bencana Indonesia (2016) yang disusun BNPB menyebut banjir bandang merupakan banjir besar yang mengalir dan menghanyutkan banyak material seperti air, pasir, tanah, batu, lumpur dan kayu yang bergerak ke dataran lebih rendah. Kecepatan aliran air bisa sampai 160 km/jam.

Banjir bandang dapat terjadi dalam waktu yang sangat cepat dan kadang sulit untuk diprediksi. Flores Timur salah satu daerah langganan banjir bandang.

Banjir bandang di Flores Timur, menurut laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Flores Timur 2008, merupakan efek dari rusaknya ekosistem alam dan hujan yang sering terjadi berinteraksi dengan faktor ekologi, geologi, dan vulkanik.

Pada 1979 terjadi banjir yang menimpa hampir semua desa di Kecamatan Larantuka, menimpa semua daerah atau perkampungan yang berada di sekitar lereng Gunung Ile Mandiri. Ratusan penduduk kehilangan nyawa karena mereka menempati dataran rendah atau lereng gunung dengan kemiringan 40%.

Tragedi kemanusiaan 1979 itu dijadikan lagu yang liriknya antara lain, 'Dua tujuh malam Rabu, Februari bulan itu, tujuh sembilan yang kelabu tak dapat kulupakan. Lumpur batu yang mengganas, tak berperi dan berbelas, merenggut harta korban jiwa, tak dapat kulukiskan…'.

Ya, tak dapat dilukiskan surga kecil itu luluh lantak.

 

Ralat

 

Pada tulisan Podium Rabu (7/4) berjudul Ingatan Pendek Bahaya Bencana terdapat kesalahan judul dan pencipta potongan bait puisi. Yang benar ialah potongan puisi karya Bara Pattyradja berjudul Adonara, Tanah Mahar Gading. Demikian pembetulan kami. Penulis mohon maaf.

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA