02 September 2020, 05:00 WIB

Membakar Salinan Kitab Suci


Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group|Podium

img
MI/Ebet

KERUSUHAN melanda Swedia akhir Agustus 2020. Pemicunya, pembakaran salinan Alquran yang dilakukan aktivis kelompok sayap kanan anti-Islam. Kelompok penentang pembakaran salinan kitab suci umat Islam itu berunjuk rasa dan bentrok dengan polisi.

Pendeta Kristen Terry Jones mengancam membakar salinan Alquran pada 2011. Terry Jones menganggap Islam harus bertanggung jawab atas serangan teroris 11 September 2001. Karena banyak mendapat kecaman, Pendeta Jones urung melaksanakan ancamannya. Namun, dua pengikutnya dikabarkan betul-betul membakar Alquran.

Pengunjuk rasa di Portland, Amerika Serikat, membakar Alkitab dan bendera Amerika awal Agustus 2020. Unjuk rasa disertai pembakaran salinan kitab suci umat kristiani itu dipicu kematian pria kulit hitam George Flyod di tangan polisi Mei 2020.

Pada Januari 2013, Ibrahim Ali mengajak warga muslim Malaysia menyita dan membakar salinan Alkitab yang menyebut kata ‘Allah’ di dalamnya. Menurutnya, menggunakan kata ‘Allah’ untuk kata Tuhan atau ‘God’ dalam bahasa Inggris hanya boleh digunakan umat Islam. Ibrahim Ali ialah ketua Perkasa, kelompok yang mendorong hak-hak etnik muslim Malaysia dan memiliki hubungan dekat dengan koalisi pemerintah. Umat Kristen dan Dewan Pengacara mendesak pemerintah Malaysia mencopot Ibrahim dari parlemen.

Kita tentu mengecam pembakaran salinan Alquran, Alkitab, serta kitab suci agama lain. Pembakaran salinan kitab suci biasanya didasarkan pada kebencian seperti pembakaran salinan Alquran di Swedia dan Amerika atau pembakaran salinan Alkitab di Portland, Amerika. Pembakaran salinan kitab suci kadang juga didasarkan pada perasaan paling benar atau paling berhak serupa seruan pembakaran salinan Alkitab di Malaysia. Pembakaran salinan kitab suci jelas melanggar kemerdekaan beragama.

Oleh karena itu, bila hendak mengutuk, kita semestinya mengutuk pembakaran salinan kitab suci agama apa pun. Kita jangan cuma mengutuk ketika salinan kitab suci agama yang kita anut yang dibakar.

Tulisan ini memakai frasa ‘salinan kitab suci’, ‘salinan Alquran’, atau ‘salinan Alkitab’. Berita-berita di media Tanah Air biasanya juga menggunakan frasa ‘salinan Alquran’ atau ‘salinan Alkitab’. Pun beritaberita di media berbahasa Inggris selalu menggunakan frasa ‘copies of Quran’.

Penggunaan kata ‘salinan’ atau ‘copies’ tentu punya makna dan tujuan. Makna dan tujuannya kira-kira janganlah membalas pembakaran satu kitab suci dengan membakar kitab suci lain. Janganlah umat Islam membakar salinan Alkitab sebagai pembalasan atas pembakaran salinan Alquran oleh umat Kristen. Janganlah pula umat Kristen membakar salinan Alquran sebagai pembalasan atas pembakaran salinan Alkitab oleh umat Islam.

Kitab suci yang dibakar sesungguhnya kopi, salinan. Kitab suci yang dibakar ialah barang cetakan. Gampangnya, bila salinan kitab suci dibakar, dirobek, atau dirusak, cetak saja yang baru. Kita bahkan bisa mencetaknya lebih banyak daripada jumlah salinan kitab suci yang dibakar. Dibakar satu, dicetak seribu.

Pada Mei 2017 tersiar kabar terjadi pembakaran Alkitab di Jayapura, Papua. Jayapura memanas. Muncul unggahan di Twitter, “Lagi rame di Jayapura soal sangkaan pembakaran Alkitab oleh oknum aparat. Respon masyarakat: kalo betul dibakar, nanti cetak lagi to…” Unggahan ini semestinya langsung bikin adem Jayapura.

Bagaimanapun, kita bisa mengategorikan pembakaran salinan kitab suci sebagai kejahatan sehingga kita boleh mengecamnya. Akan tetapi, ada kejahatan lebih mengerikan daripada membakar salinan kitab suci, yakni tidak membacanya. Kejahatan tidak membaca salinan kitab suci lebih mengerikan daripada kejahatan membakar salinan kitab suci.

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA