29 May 2020, 05:00 WIB

Sisi Terang


Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group|Podium

img
MI/Ebet

PESAN yang disampaikan Konsul Jenderal Republik Indonesia di New York, Arifi Saiman, sangatlah melegakan. Dalam pesan ke Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dilaporkan, produk alat pelindung diri PT Sritex dinyatakan lolos uji laboratorium oleh Intertek, Cortland, New York, dan berhak mendapatkan sertifikasi ISO 16604 Class 3.

APD buatan putra-putra Indonesia itu dinyatakan memiliki ketahanan terhadap penetrasi bacteriophage dengan ukuran yang sangat kecil. Tingkat kualitas dari produk yang dihasilkan lebih tinggi daripada tingkat kualitas sertifikasi ISO 16604 Class 2 yang merupakan syarat minimum APD berstandar internasional yang ditetapkan WHO.

Wabah covid-19 tidak hanya memberikan sisi gelap yang menimbulkan kesedihan dan ketakutan. Ada sisi terang yang seharusnya membesarkan hati kita sebagai bangsa. Ternyata di dalam ketertekanan selama dua setengah bulan ini memunculkan kreativitas dari anak bangsa untuk melahirkan karya besar yang bisa dibanggakan.

Produk APD ini hanya salah satu. Pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei lalu, Presiden Joko Widodo meluncurkan tujuh karya anak bangsa yang dibutuhkan untuk penanganan covid-19. Selain rapid test, ada ventilator dan juga mobile lab yang berstandar bio-security level 2.

Kita memang tidak boleh terus larut dalam ketidakberdayaan. Sepanjang ada kemauan selalu ada jalan untuk keluar dari kondisi yang mengimpit. Kita bisa menghasilkan produk yang dibutuhkan seluruh masyarakat dunia. Ketua Gugus Tugas Doni Monardo selalu mengatakan, kita akan bisa menjadi pahlawan dunia ketika mampu menghasilkan produk berkualitas yang berkaitan dengan penanganan covid-19.

Seluruh dunia sekarang ini membutuhkan APD. Sepanjang belum ditemukan vaksin untuk covid-19 dan masih ada kasus terkonfirmasi yang ditemukan, dibutuhkan APD guna melindungi petugas medis yang menangani langsung pasien yang terpapar virus korona.

Bahkan, semua karya ini bisa menjadi modal bangsa ini untuk menapaki perjalanan ke depan. Kita belum tahu wabah apa yang akan terjadi di masa mendatang. Sekarang kita sudah bisa lebih siap, dan bahkan memiliki berbagai peralatan medis yang akan dibutuhkan masyarakat dunia.

Sudah saatnya kita untuk tidak hanya tergantung kepada bangsa lain. Selama ini kita terlalu tergantung kepada produk-produk impor. Semua peralatan medis, bahkan juga obat-obatan semuanya harus dibeli dari luar negeri. Negeri dengan 260 juta jiwa ini tidak bisa terus mengandalkan kepada bangsa lain.

Industri kesehatan bisa menjadi andalan baru dari bangsa ini. Kita terus dorong perkembangan industri kesehatan, termasuk industri farmasi. Kita harus ubah mentalitas sekadar sebagai pedagang atau bahkan pemburukan rente. Kita harus menjadi produsen industri kesehatan yang unggul.

Sekarang kita sedang terus berupaya menekan penularan covid-19 di tengah masyarakat. Penerapan protokol kesehatan dan disiplin semakin digalakkan. Presiden sudah meminta Tentara Nasional Indonesia untuk ikut terlibat dalam penegakan disiplin masyarakat. Selama ini disiplin menjadi bagian sikap keseharian prajurit TNI dan sepantasnya untuk juga ditularkan kepada seluruh anggota masyarakat.

Tidak bosan kita sampaikan, kita tidak akan bisa menjadi bangsa besar apabila tidak mampu menerapkan disiplin. Hanya dengan sikap disiplin akan dilahirkan etos kerja yang tinggi dan dengan itulah kita akan bisa menghasilkan produk yang bisa dibanggakan.

Kita harus belajar dari bangsa Jepang dan Korea Selatan. Bangsa Korea sama waktunya dengan kita dalam meraih kemerdekaan. Namun, mereka bisa melompat menjadi negara industri maju karena mampu menegakkan disiplin dan membangun etos kerja. Mereka mampu menanamkan kultur kerja keras pada seluruh warga bangsanya.

Sepanjang kultur kita masih lembek seperti sekarang, kita hanya terus bisa mengeluh. Sekarang ini banyak warga yang hanya sekadar berkata-kata, berkomentar, dan mengkritik dalam menghadapi wabah covid-19. Seakan-akan wabah ini hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan setiap langkah yang diambil dilihat dari sisi kelemahan semata.

Sekarang ini yang dibutuhkan adalah berbuat. Sekecil apa pun kontribusi yang bisa diberikan, lakukan sebaik mungkin. Semua komponen bangsa harus terpanggil dan berupaya untuk berperan serta. Kita harus belajar dari bangsa Selandia Baru dan Taiwan yang menanggalkan kepentingan pribadi dan kelompok demi keselamatan bangsa dan negara.

Termasuk ketika sekarang pemerintah sedang bersikap untuk memasuki kehidupan normal yang baru karena kita harus berkohabitasi dengan covid-19. Pilihan ini harus diambil karena bagaimana pun kita harus melanjutkan kehidupan. Ketua Gugus Tugas Doni Monardo menyebutkan kenormalan baru merupakan sebuah keniscayaan untuk mencegah jangan sampai a hungry man become an angry men. Perut kosong bisa membuat orang tidak bisa berpikir normal.

 

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA