06 May 2020, 05:30 WIB

Belva


Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group|Podium

img
MI/Ebet

ADAMAS Belva Syah Devara memilih mengundurkan diri dari posisi staf khusus milenial Presiden Republik Indonesia. Dia lebih memilih posisi CEO Ruangguru, perusahaan berbasis aplikasi digital yang berkhidmat di bidang pendidikan yang didirikannya.

Ruangguru juga ditunjuk sebagai mitra pelatihan daring dalam program kartu prakerja. Mundur dari posisi pejabat negara yang terbilang prestisius itu termasuk keputusan langka. Banyak orang mungkin iri dengan Belva. Kok dia, bukan aku saja, yang dipilih Presiden.

Banyak orang ingin dan merasa layak menggantikan posisinya di Istana. Belva mengundurkan diri bahkan ketika konfl ik kepentingan antara posisinya sebagai staf khusus dan sebagai CEO Ruangguru masih berupa imajinasi. Belva berbeda dengan Andi Taufan Garuda Putra, staf khusus milenial yang juga CEO Amartha Mikro Fintek.

Taufan terang-terangan menyurati para camat untuk mendukung program Relawan Desa Lawan Covid-19 yang diinisiasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah tertinggal, dan Transmigrasi dengan melibatkan Amartha. Taufan kemudian mengikuti jejak Belva mundur dari posisi stafsus.

Tak banyak pejabat negara yang mau mundur meski terang benderang tidak becus bekerja atau melanggar aturan. Mereka menunggu dimundurkan, diberhentikan, atau di-reshuffl e. Setelah diberhentikan, mereka biasanya nyinyir kepada pemerintah.

Ada yang menantang Belva berdebat, tetapi ia tak melayaninya. Sudah betul Belva tak melayaninya. Belva bukan tipe pendebat, tetapi tipe pekerja. Bagi Belva, daripada berdebat lebih baik berbuat. Ia berbuat membangun Ruangguru. Ia berbuat mengundurkan diri dari posisi staf khusus presiden.

Biarlah berdebat menjadi kedoyanan pengamat dan mantan pejabat. Belva mundur dari posisi staf khusus presiden untuk ‘menebus’ sekaligus menghindari dosa konfl ik kepentingan. Belva punya dua pilihan untuk menebusnya, mundur dari posisi staf khusus atau mundur dari posisi CEO Ruangguru.

Dia memilih mundur dari jabatan staf khusus presiden dan memilih tetap menjadi CEO Ruangguru. Kita semestinya menghargai dan mengapresiasi pilihan itu. Akan tetapi, masih ada saja yang mencari-cari dosa Belva. Mereka awalnya hendak mengkritik pelatihan daring dalam program kartu prakerja.

Mereka mengkritik, daripada anggaran Rp5,6 triliun dipakai untuk pelatihan daring lebih baik dialihkan untuk bantuan sosial. Mereka lalu mengulik berbagai kelemahan pelatihan daring. Celakanya, dari delapan platform yang bekerja sama, terkesan lebih banyak, bila tak boleh dikatakan hanya, Ruangguru dengan Skill Acedemy-nya yang diotak-atik.

Ruangguru memang seksi untuk diotak-atik. Belva, CEO-nya, pernah menjabat staf khusus milenial. Di gelombang pertama program kartu prakerja, pelatihan yang ditawarkan Ruangguru ternyata paling banyak diminati sehingga ia mengantongi Rp82,99 miliar (52,4%).

Mungkin ada yang menduga itu semua terjadi akibat kongkalikong, benturan kepentingan. Itu dugaan prematur. Berprasangka baik saja bahwa itu rezeki Ruangguru karena dia kredibel di bidang pelatihan daring sehingga banyak diminati sampai ditemukan fakta bahwa ada kongkalikong di dalamnya.

Mereka mempersoalkan hal-hal teknis pelatihan yang dilakukan Ruangguru. Ada yang mempersoalkan sertifi kat jurnalistik yang diterbitkan Ruangguru. Katanya, Ruangguru tak layak menerbitkan sertifi kat kompetensi pelatihan jurnalistik. Itu wilayahnya Dewan Pers.

Argumen teknis biasanya gampang dipatahkan. Dewan Pers lembaga penerbit sertifi kasi bagi mereka yang sudah bekerja sebagai wartawan melalui uji kompetensi. Dewan Pers lalu menerbitkan kartu pers bagi mereka yang lulus uji kompetensi dengan kategori wartawan muda, madya, atau utama.

Skill Acedemy menerbitkan sertifi kat buat mereka yang baru kepingin jadi wartawan lalu memilih pelatihan daring jurnalistik dan lulus. Ada pula yang mempersoalkan sertifi kat yang diterbitkan Skill Academy yang katanya bisa diunduh dari internet.

Sekali lagi, argumen teknis mudah dijawab dengan argumen teknis lainnya. Selamat datang di dunia digital. Semua tersedia di internet. Jangankan template sertifi kat, template lamaran kerja dan riwayat hidup pun tersedia. Kita tinggal mengisinya dan memodifi kasinya dengan benar, bukan akal-akalan dan melanggar hukum.

Jangankan mencari template sertifi kat, mencari mantan yang entah berada di mana pun bisa jumpa. Kata iklan tentang dunia internet yang digarap Garin Nugroho dulu, di internet kita bahkan bisa mencari kambing yang hilang. Belva, juga Taufan, ialah anak-anak milenial hebat.

Masa depan mereka mengilat. Kalau tidak hebat, mana mungkin mereka sukses membangun perusahaan startup. Bila tidak hebat, tidak mungkin Presiden mengangkat mereka sebagai staf khusus. Kalaupun mereka pernah salah langkah, mereka telah menebusnya.

Janganlah, kita, generasi kolonial, kaum kolot nian, mengaborsi anak-anak milenial hebat itu. Saya meminjam istilah ‘aborsi’ dari Saur Hutabarat dalam opini berjudul ‘Abortus Sosial’ di Media Indonesia edisi 27 April 2020. Silakan persoalkan kartu prakerja dan pelatihan daringnya.

Bila perlu sampai pemerintah bergetar lututnya. Namun, janganlah mengerdilkan apalagi mengaborsi Belva dan Ruanggurunya, menjadikannya sasaran antara kritik kepada negara. Berlakulah adil kepada mereka.

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA