22 February 2020, 05:30 WIB

Aceh, Islam, Indonesia


Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group|Podium

img
MI/Ebet

"DEMI Allah! Polim masih hidup! Bait hidup! Imam Longbata hidup! Sultan Daud Hidup! Tuanku Hasyim hidup! Menantuku, Teuku Majet di Tiro masih hidup! Anakku Cut Gambang masih hidup! Ulama Tanah Abee hidup! Pang La'ot hidup! Kita semua masih hidup! Belum ada yang kalah! Umar memang telah syahid! Marilah kita meneruskan pekerjaannya! Untuk agama! Untuk kemerdekaan bangsa kita! Untuk Aceh! Allahu Akbar!"

Begitu Cut Nyak Dien menggelorakan semangat rakyat Aceh untuk terus menghunus rencong melawan Belanda meski Teuku Umar telah gugur. Namun, Cut Nyak akhirnya menyerah kepada Belanda pada 1900-an awal. Saat itulah Aceh baru benar-benar jatuh ke tangan Belanda.

Aceh menjadi wilayah Nusantara terakhir yang jatuh ke tangan penjajah. Bila dikatakan Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun, Aceh secara utuh dijajah Belanda kurang dari 50 tahun. Bila di buku-buku pelajaran sejarah dikatakan Indonesia dijajah selama 350 tahun, orang Aceh akan berkata, "Oh itu Jawa, bukan Aceh."

Kita semua termasuk anak-anak sekolahan tahu dan hafal Perang Jawa atau Perang Diponegoro terjadi selepas Magrib, pukul 18.25-18.30, plesetan dari tahun 1825-1830. Akan tetapi, mungkin cuma segelintir yang paham Perang Jawa itu perang antara penguasa dan pemberontak. Belanda penguasa dan Diponegoro pemberontak. Perang Aceh perang dua negara berdaulat, yakni negara Aceh dan negara Belanda.

Bila kita saksikan bagaimana Cut Nyak Dien menggelorakan perlawanan rakyatnya kepada Belanda, jelas semangat keacehan dan keislaman yang menjadikan Aceh bertahan begitu lama dari upaya penaklukkan oleh penjajah.

Keacehan dan keislaman dalam fase sejarah berikutnya disertai semangat keindonesiaan, kebangsaan, dan nasionalisme. Bireuen, Aceh, pernah menjadi ibu kota negara pada 1948 selama sepekan. Pun orang Aceh patungan, mengumpulkan uang secara bersama-sama, untuk membeli pesawat pertama Republik.

Justru pemerintah pusat pada satu masa mengabaikan Aceh. Pada 1950-an Aceh turun status dari provinsi menjadi keresidenan bagian provinsi Sumatra Utara. Inilah yang membuat Daud Beureueh memberontak. Pemberontakan 'diteruskan' Gerakan Aceh Merdeka dan berlangsung hingga masa reformasi.

Pemberontakan membuat Aceh mendapat perlakuan khusus secara politik dan militer. Pun secara ekonomi, terutama semasa Orde Baru, rakyat Aceh merasa terdiskriminasikan. Aceh begitu kaya alamnya, tetapi miskin rakyatnya.

Saat menjadi presiden, Gus Dur mengintroduksi syariat Islam di Aceh. Ganjil bin ajaib tokoh pluralisme sekaliber Gus Dur mengizinkan penerapan syariat Islam.

Zaini Abdullah, tokoh GAM, waktu itu mengatakan Gus Dur melakukan itu untuk meredam perlawanan GAM. Padahal, GAM gerakan etnonasionalisme yang memperjuangkan keacehan atau nasionalisme Aceh, bukan keislaman.

Toh, syariat Islam akhirnya berlaku di Aceh dan semakin luas penerapannya. Yang penting, jangan sampai penerapan syariat Islam menjadikan Aceh terasing dari keacehannya sendiri dan keindonesiaan.

Tsunami 2004 membuka jalan bagi perdamaian di Aceh. GAM menjadi partai lokal. Beberapa partai lokal lain lahir. Ini model Inggris dalam menyelesaikan upaya memisahkan diri. Di Inggris Irish Republican Army (IRA, Tentara Pembebasan Irlandia Utara) bermetamorfosis menjadi Partai Sinn Fein. Upaya memisahkan diri bergeser dari perjuangan bersenjata menjadi perjuangan politik.

Perdamaian di Aceh mestinya membuka jalan bagi pembangunan dan pemberdayaan Aceh. Aceh sejak zaman Samudera Pasai hingga awal kemerdekaan dikenal makmur. Aceh mengekspor beras ke Sumatra Timur. Kalau tidak makmur, mana bisa rakyat Aceh mengumpulkan duit untuk beli pesawat.

Namun, kemakmuran belum mau mampir lagi ke Aceh. Meski kemiskinan berkurang dari tahun ke tahun, Tim Aceh bertahan di posisi buncit dalam klasemen Grup Sumatra Kualifikasi Piala Kemakmuran.

Dulu muncul anggapan salah satu pangkal kemiskinan Aceh ialah diskriminasi dan pengabaian oleh pemerintah pusat. Akan tetapi, kini pemerintahan Jokowi sangat peduli kepada Aceh meski Jokowi kalah tipis pada Pilpres 2014 dan kalah telak pada Pilpres 2019.

Aceh termasuk provinsi yang paling sering dikunjungi Jokowi. Hari ini, Sabtu, 22 Februari 2019, Jokowi kembali bertandang ke Aceh untuk merayakan Kenduri Kebangsaan yang diselenggarakan Media Group, Yayasan Sukma, serta Forum Bersama Anggota DPR dan DPD RI. Penyelenggaraan acara ini diharapkan dapat 'menginikan' sejarah keacehan, keislaman, dan keindonesian demi kemajuan Aceh.

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA