07 December 2019, 05:10 WIB

BUMNM


Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group|Podium

img
MI/Ebet

KALAU BUMN singkatan dari badan usaha milik negara, BUMNM kependekan dari badan usaha milik nenek moyang.

Terungkapnya penyelundupan motor gede melalui pesawat Garuda mengungkap Garuda Indonesia bukan badan usaha milik negara, melainkan serupa badan usaha milik nenek moyang mantan dirutnya. Padahal, nenek moyang I Gusti Ngurah Ashkara, sang mantan dirut, serupa nenek moyangku, orang pelaut, bukan penerbang.

Garuda bukan memenuhi dada lelaki yang biasa dipanggil Ari Ashkara itu, melainkan memenuhi kantongnya. Ari bukannya serius mengurus Garuda untuk memenuhi kepentingan rakyat dan bangsa, melainkan untuk memenuhi syahwat hedonisnya.

Bayangkan, Ari memanfaatkan pesawat Garuda untuk menyelundupkan motor gede alias mogenya. Ari melakukan itu tiada lain demi memenuhi hobi dan kesenangannya mengoleksi dan menunggang moge. Ia seperti menganggap pesawat Garuda itu milik nenek moyangnya sehingga seenaknya menggunakan untuk memfasilitasi kesenangannya.

Beredar viral video yang menggambarkan Ari yang turun dari pesawat di hanggar langsung mengemudikan moge bersama teman-temannya secara konvoi. Bila video itu benar, Ari menjadikan hanggar dan bandara serupa milik nenek moyangnya.

Ketika memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus, Ari berseragam serupa Soekarno menaiki mobil kuno berpelat nomor GA 1 dengan karyawan Garuda yang berpakaian pejuang mengelu-elukannya seraya mengibarkan bendera merah putih mini. Videonya juga beredar viral. Jika benar video itu, Ari menganggap Garuda milik nenek moyangnya dan karyawan harus mengelu-elukan cucu pemiliknya itu.

Awalnya, karyawan Garuda berinisial SAW mengaku sebagai pemilik motor gede selundupan itu. Ini juga bisa dikatakan Ari bertingkah seolah Garuda milik nenek moyangnya. Karyawan harus rela pasang badan melindungi ahli waris sang nenek moyang.

Sebaliknya, Ari menghemat atau mengurangi kesenangan yang dinikmati penumpang. Harga tiket Garuda membubung, tetapi kesenangan dan kenyamanan penumpang terkungkung. Kualitas dan kuantitas makanan di dalam pesawat maupun di lounge dikurangi sampai titik yang tidak sebanding dengan harga tiket dan citra Garuda sebagai airline bintang lima.

Penumpang tak bisa lagi meminta minuman bersoda favorit sejuta umat. Penumpang pun tak bisa lagi membaca koran di pesawat. Yang terakhir ini curahan hati penumpang sekaligus wartawan koran karena gara-gara penghematan yang dilakukan Ari, Garuda mengurangi langganan koran sehingga oplah berkurang.

Kru Garuda sering menjadi sasaran protes dan keluhan penumpang. Namun, kru mungkin tak berani meneruskannya ke manajemen. Lagi pula siapa berani kepada cucu atau cicit nenek moyang pemilik perusahaan?

Akan tetapi, negara membongkar penyelundupan moge yang dilakukan Ari. Negara kemudian memberhentikannya. Negara memaksa Ari 'mengembalikan' Garuda kepada negara. Negara menyadarkan Ari bahwa Garuda bukan milik nenek moyangnya.

Kasus Ari semestinya menjadikan pejabat BUMN lain yang mungkin bertingkah seperti Ari untuk bertobat kembali ke jalan yang benar bahwa perusahaan yang mereka urus milik negara, bukan milik nenek moyang mereka. Kata Presiden Jokowi, tidak boleh ada lagi petinggi BUMN menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan dan kesenangan pribadi.

BUMN mesti dikelola untuk kepentingan rakyat. BUMN tentu boleh mencari keuntungan sebesar-besarnya. Toh, bila untung, dividen yang diserahkan kepada negara akan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

 

 

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA