13 November 2019, 05:10 WIB

Turis Ramah Teroris Marah


Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group|Podium

img
MI/Ebet

BALI itu identik dengan keramahan. Sejak berpuluh-puluh tahun silam, Bali menawarkan dan membagi keramahannya kepada alam semesta.

Bali ramah kepada lingkungan. Ketika merayakan Nyepi, orang tak boleh menyalakan lampu, termasuk lampu listrik di Bali. Bukankah ini menghemat energi?

Satu lembaga swadaya masyarakat internasional menggalang program Earth Hour, yakni mematikan lampu serentak, baru sejak 2007. Bali sudah melakoni 'Earth Hour' sejak berpuluh-puluh tahun silam.

Earth Hour yang digagas lembaga swadaya masyarakat internasional itu cuma berlangsung 1 jam. 'Earth Hour' di Bali berlangsung 24 jam.

Bali ramah kepada pohon kelapa. Bali menghormati pohon kelapa. Tidak boleh ada bangunan di Bali yang melampaui tinggi pohon kelapa.

Bali ramah kepada sesama manusia. Orang Bali suka obral senyum. Mereka tak sungkan melempar senyum kepada siapa pun. Orang Bali mudah akrab dengan siapa pun.

Orang Bali memperlakukan tamu serupa raja. Mereka bermental melayani. Pejabat dan aparatur sipil negara semestinya belajar dari orang Bali dalam perkara melayani.

Orang Bali bahkan senantiasa punya kamar kosong untuk tamu menginap. Bila Anda bepergian ke Bali dan tak kebagian kamar hotel, cobalah ketuk pintu rumah warga terutama di lokasi wisata. Warga semestinya akan mempersilakan Anda menginap satu atau dua malam di rumahnya. Itu karena orang Bali punya kearifan lokal belog polos, mempersilakan orang asing masuk tanpa pertimbangan.

Orang Bali sangat ramah kepada adat dan kebudayaan mereka. Meski kedatangan berjuta-juta orang dari berbagai latar belakang kebudayaan, Bali tetap mendekap erat tradisi mereka.

Dengan segala keramahtamahan itu, Bali saban tahun dikunjungi berjuta-juta turis dari berbagai belahan bumi. Bali menerima dengan tangan terbuka turis, mulai yang berpakaian ala kadarnya sampai yang bercadar, dari yang berbikini hingga yang berburkini.

Burkini ialah bikini yang dirancang seorang Libanon-Australia, Aheeda Zanetti, menurut model busana burkak. Setelan itu cukup untuk menutupi aurat perempuan, tetapi juga cukup ringan untuk dipakai berenang.

Keramahtamahan Bali kepada turis justru dibalas kemarahan teroris. Pada 2002 dan 2005 teroris meledakkan bom di Bali. Kemarahan teroris itu seperti menghapus keramahan Bali selama beberapa waktu.

Keramahan Bali kepada lingkungan justru dibalas turis dengan kemarahan kepada lingkungan. Turis asing yang mencapai 6,4 juta per tahun dan turis domestik yang berjumlah 10 juta saban tahun menyumbang produksi sampah plastik di Bali yang mengalir jauh ke laut.

Kini, kita tersentak dengan tuntutan supaya Bali menjadi lokasi wisata ramah muslim. Yang menuntut ini pasti jarang piknik ke Bali. Dia tidak tahu bahkan mereka yang bercelana cingkrang atau berjilbab dan bercadar juga piknik ke Bali. Kalau Bali tidak ramah kepada muslim, tidak mungkin mereka piknik ke Bali.

Bali semestinya yang menuntut keramahan turis. Kini, giliran turis membalas sikap ramah Bali selama ini dengan bersikap ramah pula kepada orang Bali dan lingkungan Bali. Turis harus bersikap ramah. Cukuplah teroris yang tempo hari marah.

Saling beramah-tamah mesti kita junjung sebagai satu etika pergaulan. Bali mesti ramah memperlakukan tamu karena tamu ialah raja. Sebaliknya, turis sebagai pendatang juga mesti ramah kepada tuan rumah. Tidak etis dan tidak adil bila kita cuma menuntut Bali meningkatkan keramahannya.

Oleh karena itu, daripada menuntut Bali menjadi lokasi wisata ramah muslim, lebih baik turis muslim, juga turis bukan muslim, menunjukkan sikap ramah kepada Bali.

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA