Bob Hasan



Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group - 25 May 2019, 05:30 WIB
img
MI

MOHAMAD Hasan atau lebih akrab dipanggil Bob Hasan merupakan pengusaha yang berhasil di era Orde Baru. Namun, krisis keuangan dan kerusuhan Mei 1998 membuat banyak perusahaan yang dibangun dengan susah payah diambil alih Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Bahkan karena dianggap kroni Presiden Soeharto, ia harus menjalani ‘hukuman politis’ hingga harus mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan.

Apakah semua itu membuat Bob Hasan sakit hati? Tidak sama sekali. Ia menerima semua itu sebagai bagian dari risiko kehidupan. Bob Hasan tidak menangisi semua perusahaan yang kemudian harus lepas dari tangan. “Kita lahir pun tidak membawa apa-apa. Kenapa harus takut lalu tidak punya apa-apa,” demikian Bob Hasan sering berujar.

Apa yang lalu ia kerjakan setelah keluar dari Nusakambangan? Bob Hasan fokus untuk kembali membina atlet atletik. Organisasi olahraga yang ia pimpin sejak 1972 menjadi ladang pengabdiannya.

Secara telaten ia menata kembali organisasi yang selama empat tahun ditangani dari jauh. Kebijakan pembinaan segera diubah. Ia tidak mau berorientasi kepada prestasi sesaat. Bob Hasan memilih untuk membina atlet usia remaja, tidak lagi bertumpu pada atlet senior.

Ada 100 atlet remaja putra-putri yang didapat dari hasil pencarian bakat di daerah untuk dimasukkan ke pusat pelatihan nasional. Salah satu yang didapat dari hasil pencarian bakat di Jayapura ialah atlet asal Nusa Tenggara Barat Lalu Muhammad Zohri.

Beberapa tahun sudah Zohri digembleng di Stadion Madya, Jakarta. Untuk memperbaiki teknik berlari para atlet, Bob Hasan mendatangkan pelatih asal AS, Harry Marra. Dengan lobi yang tekun, Bob Hasan mampu membujuk salah satu pelatih terbaik di dunia itu untuk mau menangani atlet-atlet Indonesia saat ia libur di negaranya. Bob Hasan harus bersaing dengan banyak negara Asia lain untuk bisa mendapatkan Harry Marra.

Bob Hasan menawarkan liburan di Bali bagi Harry Marra apabila mau melatih di Indonesia. Bahkan ia diperbolehkan mengajak keluarga untuk ikut berlibur di Bali. Berapa bayaran yang diberikan kepada Harry Marra? Bob Hasan harus mengeluarkan kocek US$5.000 per minggu.

Harry Marra memang pelatih yang profesional. Ia mengerjakan pelatihan dengan sepenuh hati. Harry Marra bukan hanya memperbaiki teknik berlari dari atlet, melainkan juga membagi ilmunya kepada banyak pelatih Indonesia.

Hasil sentuhan pertama Harry Marra ialah membawa Zohri menjadi juara dunia junior lari 100 m di Tampere, Finlandia. Harry Marra merasa semakin excited ketika kuartet pelari Indonesia merebut medali perak Asian Games 2018. Ia sampai berteriak histeris di VIP Barat Stadion Utama Senayan ketika melihat anak didiknya bisa menembus waktu di bawah 40 detik di nomor 4 x 100 m itu.

Zohri yang akan memasuki usia 20 tahun kini semakin matang. Di Kejuaraan Atletik Asia di Doha, Qatar, ia bukan hanya merebut medali perak, melainkan juga dua kali memecahkan rekor nasional 100 m. Yang lebih fenomenal ialah ketika ia mampu menembus Kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020 dengan menempati urutan ketiga Golden Grand Prix di Osaka, Jepang, dengan catatan waktu 10,03 detik.

Apa yang sekarang dilakukan Bob Hasan? Seperti orangtua, ia terus mendampingi para atlet untuk mengajari kehidupan. Ia mengingatkan para atlet untuk tidak besar kepala. Bob Hasan mengingatkan agar uang hadiah yang diperoleh ditabung demi masa depan. Yang paling utama, mereka diharuskan melanjutkan pendidikan agar mempunyai bekal untuk menatap masa depan setelah selesai menjadi atlet kelak.

Tidak hanya atlet di cabang atletik yang dia perhatikan. Bob Hasan secara serius juga mendampingi para penyandang tunanetra. Bersama Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, ia pun membangun desa yang masyarakatnya masih tergolong miskin. Bahkan bersama beberapa perguruan tinggi, ia mencoba menularkan jiwa kewirausahaan agar para mahasiswa bisa ikut menciptakan lapangan pekerjaan setelah selesai kuliah.

Perjalanan hidup Bob Hasan mengajarkan kepada kita bahwa banyak bidang pengabdian yang bisa kita lakukan untuk negara ini. Kita tidak harus hanya menjadi presiden untuk berbakti kepada negara.

Sekarang ini kita melihat bagaimana begitu berambisinya orang untuk menjadi presiden. Bahkan orang mau menghalalkan segala cara demi mendapatkan jabatan itu. Ia tega mengorbankan rakyat agar terus berseteru. Kalaupun bangsa ini harus mengulangi pengalaman buruk seperti Mei 1998, ia pun tidak peduli.

Padahal, Presiden AS John F Kennedy pernah mengatakan, “Jangan tanya apa yang bisa diberikan negara kepada kamu, tetapi tanya apa yang bisa kamu berikan kepada negaramu.” Sumbangsih sekecil apa pun dari kita semua jauh lebih bermanfaat karena membangun negara itu jauh lebih sulit daripada merusaknya.

 

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA