Laga Inspiratif



Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group - 10 May 2019, 05:30 WIB
img
MI

SEJENAK mari kita jeda dari politik yang kehilangan etik. Politik menang-menangan dengan segala cara itulah etik yang dipinggirkan. Mari kita berbincang tentang kemuskilan yang benar-benar dipatahkan di Stadion Anfield, Liverpool, Inggris. Laga sepak bola penuh makna.

Di lokus olahraga penuh gengsi itu semua jadi mungkin. Seluruh dunia pun takjub. Bisa jadi terinspirasi dan termotivasi. Kuncinya ialah semangat pantang menyerah, kepercayaan yang membuncah, dan dukungan penonton yang penuh gairah.

Itulah laga kedua Liverpool versus Barcelona di Stadion Anfield, Rabu (8/5) dini hari lalu. Inilah partai semifinal Liga Champions yang beraura final. Ada drama yang mendebarkan di situ. Liverpool dengan posisi di ujung tanduk, yang di laga pertama di Stadion Camp Nou, Spanyol, pekan lalu dibekuk Barcelona 0-3, mampu membalikkan keadaan, 4-0. Barca dan Lionel Messi benar-benar kehilangan mesiah.

Runtuhlah semua mimpi skuat asuhan Ernesto Valverde yang tinggal butuh angka seri. Bola memang bundar, yang bisa menjadi keberuntungan dan kutukan tim mana saja, bintang seterang apa pun, dan juru taktik segenius apa pun. Bola bundar di Stadion Anfield benar-benar punya postulatnya sendiri. Postulat bahwa tak ada yang disebut kebetulan, tapi hasil olah otak si juru taktik.

Barca tertunduk penuh perkabungan. Liverpool maju ke partai puncak Liga Champions untuk kesembilan kali. Klub yang berdiri 1892 ini akan menghadapi Tottenham Hotspur, tim satu negeri, Inggris, di final. Keduanya akan adu marah di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, 2 Juni.

Spur melaju ke final setelah mengandaskan mimpi Ajax Amsterdam 3-2. Pada laga pertama, Ajax mengalahkan Spur 1-0. Sebelumnya klub asal Belanda ini berjaya menjungkalkan Real Madrid dan Juventus di kandang mereka. Kini giliran Ajax dipecundangi di kandang sendiri. Rasa sakit yang ganti-berganti.

Yang terjadi di Stadion Anfield, Inggris, bukan sekadar bola bundar yang bisa bergulir ke gawang mana saja. Namun, ini bola bundar dengan siasat jitu pelatih Jurgen Klopp, yang bisa menyatuhatikan para pemain dan puluhan ribu penonton. Pagi itu Anfield benar-benar sepenuhnya jadi milik the Reds.

Setiap ada kemustahilan yang dipatahkan, sesungguhnya di situ ada kemungkinan yang terus dihidupkan. Sekecil biji zarah sekalipun kemungkinan itu. Sebab, setiap ada semangat dan kemampuan yang terus ditumbuhkan, hasilnya konon tinggal menunggu waktu. Liverpool melalui proses serupa itu.

Bayangkan. Liverpool maju di laga kedua Liga Champions dengan beban kekalahan telak yang memalukan. Selain itu, Liverpool juga kehilangan dua penyerang andalannya, Mohamed Salah dan Roberto Firmino. Di laga domestik, Inggris, pasukan the Reds juga terkuras untuk menjadi yang terbaik. Mengalahkan Barca 4-0 ialah sebuah kemustahilan.

Dalam kemustahilan itu, semangat pantang kalah jadi kesadaran bersama. Sang bintang Liverpool, Mohamed Salah, meski tak merumput, masuk stadion dengan memberi semangat tinggi. Ia mengenakan kaus hitam bertuliskan 'Never Give Up' alias 'Pantang Menyerah'. Kata-kata yang jadi digdaya.

Semua itu terlihat. Nyata. Bintang Barcelona Lionel Messi dan Luis Suarez jadi pudar sinarnya. Beberapa kali tendangannya dimentahkan penjaga gawang Liverpool, Alisson Becker. Sebaliknya, the Reds justru kian tajam. Pengganti Roberto Firmino, Divock Origi, berinvestasi gol ketika pertandingan baru berjalan 7 menit. Pemain ini bahkan menggandakan golnya di menit ke-79. Inilah gol penentu kemenangan Liverpool.

Yang juga jadi bintang ialah pemain cadangan Georginio Wijnaldun. Pengganti Andrew Robertson yang cedera ini masuk lapangan di babak kedua. Namun, inilah daya pukau pemain nirunggulan. Ia menjebol gawang Barca menit ke-7 sejak ia masuk. Dua menit kemudian ia menggandakan golnya.

Babak final Liga Champions pastilah dinanti di seluruh dunia. Namun, laga penuh inspirasi justru di semifinal ini, Barca versus Liverpool. Ia hiburan yang inspiratif. Tak ada yang mustahil sejauh ada kesungguhan dan keyakinan.

Meskipun kekalahan itu amat menyakitkan, tak ada aksi mendelegitimasi wasit dan menyerang yang menang. Ia patuh pada aturan main. Ia hormat pada sebuah kompetisi dan kontestasi.

 

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA