Setengah Isi



Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group - 04 May 2019, 05:30 WIB
img
MI

KUNJUNGAN ilmuwan asal Mesir Prof Ismail Serageldin ke Indonesia pekan lalu membuka wawasan kita. Betapa dunia berkembang dengan pesat dan kita harus mampu untuk menyesuaikan. Kunci untuk bisa bertahan dalam perubahan ialah sikap optimistis.

Menurut Ismail, Islam sejak awal mengantisipasi perubahan, termasuk dalam bidang keuangan. Khalifah Umar bin Khattab merupakan sosok yang visioner. Empat tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat, Umar sudah mengingatkan, ‘things have changed’. Umat Islam harus mampu melakukan perubahan dengan tetap berpegang kepada Alquran dan hadis.

Di masa kepemimpinan Umar, Islam mencapai puncak kejayaan. Umat Islam berpikiran sangat terbuka dengan menguasai ilmu pengetahuan, matematika, dan kimia. Khalifah Umar merupakan orang yang merumuskan pembentukan Baitul Mal, lembaga yang mengelola pendapatan negara.

Sikap seperti itulah yang harus ada pada diri kita. Kelemahan kita selama ini selalu melihat persoalan dari sisi yang negatif. Kita lebih suka melihat persoalan dari kacamata ‘setengah kosong’ daripada ‘setengah isi’.

Ismail Serageldin mengajak kita untuk tidak pesimistis ketika melihat ekonomi syariah belum berkembang seperti yang diharapkan.

“Kalau perbankan syariah di Indonesia baru bisa mengelola 10% dari potensi yang ada, Anda justru seharusnya melihat itu sebagai peluang. Artinya masih ada ruang 90% yang bisa kita kembangkan dari perbankan syariah di Indonesia,” kata Ismail mengomentari kondisi ekonomi syariah yang masih kecil di Indonesia.

Keberanian untuk mengubah paradigma itulah yang harus kita lakukan. Kita tidak bisa terus bersikap pesimistis. Setiap tantangan yang dihadapi hanya dilihat sebagai beban, bukan dianggap sebagai peluang.

Sikap untuk selalu membesar-besarkan masalah membuat kita sulit untuk maju. Apalagi, ketika kita sulit untuk melihat kemajuan. Setiap langkah yang dilakukan bukan didorong untuk semakin maju, melainkan justru ditahan untuk tidak dilakukan.

Kita lihat saja pembangunan infrastruktur yang sedang dilakukan. Sejak era reformasi kita selalu mengeluhkan buruknya infrastruktur yang kita miliki. Banyak pengusaha asing yang mengatakan, setiap kali ia datang ke Jakarta, tidak ada perubahan yang berarti.

Tiga tahun terakhir kita melihat derap pembangunan yang berbeda sama sekali. Di mana-mana kita melihat orang bekerja untuk mendirikan tiang. Nyaris tidak ada waktu untuk istirahat. Siang-malam para pekerja bekerja untuk mempercepat pembangunan agar tidak lama menciptakan kemacetan.

“No pain, no gain.” Kita harus membayar keinginan untuk mendapatkan infrastruktur yang lebih layak dengan kemacetan yang harus kita hadapi. Namun, kita lihat sekarang ketika jaringan mass rapid transit misalnya, selesai dibangun dari Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia. Kita bukan hanya mempunyai pilihan untuk bisa bepergian dari Lebak Bulus ke Bundaran HI, melainkan juga jalan di bawah maupun di atas jalur MRT sudah tertata rapi kembali.

Coba kalau akhir tahun ini tol layang Jakarta hingga Cikampek selesai dibangun, perjalanan ke Bandung dan juga Surabaya akan bisa cepat ditempuh masyarakat. Ketika mudik Lebaran nanti, pasti masyarakat akan merasakan manfaat dari Tol Jakarta-Surabaya karena bisa sampai ke kota tujuan dengan lebih cepat.

Namun, masih banyak di antara kita yang berpikir sebaliknya. Mereka justru menyuarakan hal yang negatif dari pembangunan infrastruktur yang kita sedang lakukan. Mereka melihat sebagai penghamburan biaya, bahkan ada yang mengatakannya memperbesar utang.

Kita ingin mengingatkan, bangsa ini harus bergegas untuk membangun negara. Peluang emas yang kita miliki tidaklah lama. Setelah 25 tahun nanti kita akan mengakhiri bonus demografi. Sesudah itu kita akan masuk ke era aging society, masyarakat yang semakin berumur.

Ahli ekonomi dari Universitas Indonesia seperti Prof Dorodjatun Kuntjoro-Jakti maupun Faisal Basri sering mengingatkan agar kita jangan sampai ‘tua sebelum kaya’. Kita harus seperti bangsa Jepang yang masyarakatnya tetap hidup sehat dan sejahtera meski usianya semakin tua.

Oleh karena itu, kita tidak boleh hanya berpikir untuk hari ini. Pembangunan yang kita lakukan sekarang merupakan investasi untuk jangka panjang. Investasi bukan hanya untuk kita ketika kelak sudah semakin tua, melainkan juga untuk anak-cucu kita. Tugas kita untuk memberikan modal ekonomi dan modal sosial yang kuat agar generasi muda tinggal memacu negara ini ke arah kemajuan.

 

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA