Restoran Padang dan Pemilu 2019



Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group - 30 April 2019, 05:30 WIB
img
MI/Tiyok

LIDAH konon tak bisa dibohongi. Ungkapan ini berkaitan dengan makanan. Siapa pun yang sudah terbiasa dengan makanan tertentu, terlebih lagi cocok di lidah, ia akan mencarinya. Minimal menjadi kerinduan.

Begitu juga saya. Misalnya dengan masakan padang. Karena lama tak menyambangi rumah makan 'urang awak' ini, Sabtu lalu saya pun 'berasyik-masyuk' dengan salah satu restoran Padang di Meruya, Jakarta Barat. Siapa di siang hari yang tak tergoda dengan aroma wangi-gurih rendang daging? Siapa yang tahan dengan gulai ikan kakap yang gusto itu?

"Wah, rupanya penggemar makanan padang juga, Pak?" Tanya satu dari dua pria Tionghoa yang juga penggemar makanan padang. Mereka rupanya penonton setia Metro TV, terutama tayangan Editorial setiap pagi, karena itu mengenali saya sebagai salah seorang narasumber program itu. Kami pun kemudian berbincang hangat tentang makanan dan Pemilu 2019.

"Kita rupanya sama-sama tak tergoda ajakan memboikot warung Padang, ya?" kata pria yang satu lagi seraya tertawa. Sejak informasi versi hitung cepat lembaga survei, pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin kalah telak di Sumatra Barat, memang ada ajakan memboikot restoran Padang. Urusan selera makan, katanya lagi, tak ada urusannya dengan politik.

Kami sepakat, ajakan boikot restoran Padang sungguh tak menghormati selera lidah. Kesepakatan yang disertai derai tawa. Justru berbeda dalam politik bisa bertemu di rumah makan. Biarlah politik membelah, kuliner mempersatukan. Faktanya banyak restoran Padang tetap ramai.

Iseng-iseng saya memanjangkan daftar makanan daerah di beberapa provinsi di mana Jokowi-Amin kalah. Beberapa di antaranya Sumatra Barat, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Aceh, Sumatra Selatan, dan Sulawesi Selatan. Provinsi-provinsi yang kulinernya menggoda selera saya.

Secara kebetulan, selain nasi padang, saya juga perindu ayam taliwang Lombok (NTB), mi aceh, pindang mranjat Palembang, coto makassar, dan sudah barang tentu nasi liwet Sunda yang maknyus. Kenapa di provinsi-provinsi yang tingkat kemenangan Prabowo-Sandiaga menonjol, kulinernya juga gusto?  

Pasangan Prabowo-Sandiaga Uno menang di 18 provinsi. Bahkan, unggul telak di Aceh, Sumatra Barat, dan NTB yang berbasis agama mayoritas (Islam). Jokowi-Amin menang di 16 provinsi, tapi unggul perolehan suara (56% vs 44%). Pasangan ini menang telak di basis-basis nonmuslim atau agama minoritas seperti NTT, Papua, Bali, dan Sulawesi Utara. Namun, suara Jokowi-Amin tetap lebih banyak dari pemilih muslim ketimbang Prabowo-Sandi (52% vs 48%).

Dalam artikel berjudul Renungan Pilpres 2019: Paham Agama semakin Membelah Kita. What Next? yang ia kirim ke Whastapp saya, Denny JA dari Lingkaran Survei Indonesia menyimpulkan muslim moderat lebih banyak memilih Jokowi-Amin, sedangkan muslim konservatif memilih Prabowo-Sandiaga.

Pemilu yang membelah itu juga yang dikhawatirkan 'kawan baru' saya, dua orang Tionghoa di restoran Padang. Tak hanya dua kawan ini, beberapa nonmuslim Tionghoa yang saya temui juga mengungkapkan hal yang sama. "Aman kan, Pak? Tak akan ada huru-hara lagi?" Pertanyaan yang umum dari mereka.

Dengan keyakinan penuh saya menjawab, itu sangat kecil kemungkinannya. Sejarah kebangsaan kita cukup teruji menahan ujian-ujian yang berupaya meretakkan. Saya menunjukkan bukti, sejak Pemilu 1955 hingga kini partai-partai nasionalis itulah yang menjadi pemenangnya. Bahkan, di masa reformasi, posisi tiga besar partai politik didominasi partai nasionalis. Ini artinya pilihan mayoritas kita ialah kebangsaan.

Jika pemilu kali ini ada keterbelahan, ini bagian dari perjalanan memperkuat demokrasi dan kebangsaan juga karena pilihan atas keyakinan agama, etnik, atau identitas yang lain ialah wujud dari demokrasi juga. Toh, nanti akan ada evaluasi juga atas pilihan hari ini.

"Tenang saja, Pak. Selama masih ada restoran Padang, mi aceh, ayam taliwang, masakan Manado, nasi liwet, mi bangka, pindang mranjat, dan sate tegal, bangsa ini akan tetap bersatu," kata saya berseloroh memecah kekhawatiran dua kawan baru itu. Mereka berdua pun manggut-manggut seraya mengembangkan senyum.

Jika politik merenggangkan, biar kuliner yang menyatukan. Kenapa tidak?

 

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA