Bangsa Cerdas



Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group - 24 April 2019, 05:30 WIB
img
MI/Tiyok

SOPIR taksi di Singapura secara spontan menyampaikan kekagumannya kepada rakyat Indonesia yang mampu melaksanakan pemilihan umum secara damai. Hanya, dia tidak bisa menahan rasa tawa membaca berita tentang salah seorang calon presiden yang mengumumkan sendiri kemenangannya.

Para elite sekarang memang sedang menjadi bahan tertawaan. Berbagai kelompok masyarakat membuat parodi tentang adanya sekelompok orang yang berbaris dan dengan sikap sempurna memberikan hormat sambil mengucapkan: “Siap... Presiden.” Setelah itu mereka bersalaman dengan ‘sang presiden’.

Memang ironis ketika masyarakat mampu menunjukkan kedewasaannya, justru para elite menunjukkan kekerdilannya. Inilah yang sejak dulu dikhawatirkan oleh Bung Hatta. Ketika kita sedang dihadapkan kepada tantangan besar, justru yang muncul ialah pemimpin-pemimpin yang berpikiran kerdil.

Tentu kita berharap para elite segera sadar dan mau memperbaiki diri. Janganlah mau terus menjadi bahan tertawaan rakyat. Apalagi kemudian menjadi olok-olok masyarakat dunia. Sikap ambisius membuat para elite jadi kehilangan akal sehat.

Kita percaya dengan berjalannya waktu, akal sehat akan kembali lebih mengemuka. Kita percaya, semua persoalan pemilu akan berakhir dengan baik. Para elite pasti paham politik ialah ‘the art of the possible’.

Pengalaman Pemilu 2014 bisa menjadi rujukan. Ketika itu calon presiden yang sama tidak mau mengakui hasil hitung cepat dan penghitungan riil. Sama dengan kejadian lima tahun lalu, ia pun mendeklarasikan kemenangan.

Namun, ketika Komisi Pemilihan Umum mengumumkan secara resmi, ia pun tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membawa keberatannya ke Mahkamah Konstitusi. Ketika MK memutuskan bahwa tuduhan kecurangan tidak terbukti, kedua kontestan berpelukan dan melanjutkan tanggung jawab masing-masing membangun Indonesia.

Kita jangan berlama-lama membuang energi. Kita harus segera bergegas membangun negara ini agar kesejahteraan bisa segera dirasakan oleh seluruh rakyat. Tidak pernah bosan kita mengingatkan, tujuan berbangsa dan bernegara bukanlah untuk rebutan jabatan, melainkan menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ketika para elite hanya ribut jabatan, yang akan menjadi korban ialah rakyat banyak. Tidak mungkin ada investasi yang akan masuk apabila tidak ada stabilitas politik. Tanpa ada investasi tidak mungkin akan tercipta kesempatan kerja dan tanpa ada lapangan kerja tidak mungkin ada perbaikan kehidupan masyarakat.

Jangan lupa, ketika tidak ada bisnis di Indonesia, yang akhirnya merasakan akibatnya ialah para elite juga. Mereka tidak mungkin bisa menjalankan agendanya apabila tidak ditopang oleh dana yang mencukupi.

Bahwa demokrasi bukan sistem yang sempurna, sejak dulu sudah kita ketahui. Demokrasi hanyalah the second worst, tetapi tetap yang terbaik dibandingkan sistem politik yang lain dalam menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat.

Atas dasar itulah, kita harus mengelola demokrasi dengan cerdas. Para elite harus memberikan contoh yang baik, bukan sebaliknya. Kalau kemudian yang ditonjolkan ialah sikap untuk menang sendiri, yang kita dapatkan bukan kemajuan, melainkan sebaliknya, kemunduran.

Data yang dirilis AC Nielsen menunjukkan, pembangunan ekonomi yang kita lakukan berada dalam arah yang benar. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5% dalam tiga tahun terakhir itu dikontribusikan oleh investasi sebesar 6,9% dan konsumsi sekitar 5%. Sepanjang 2019 ini arus modal yang masuk ke Indonesia mencapai Rp85 triliun.

Atas dasar itu ahli ekonomi Raden Pardede berharap, pemerintah lebih berani bekerja dan mengambil keputusan. Ketika kelak sudah ditetapkan sebagai presiden terpilih pada 22 Mei, Presiden Joko Widodo tidak perlu menunggu pelantikan untuk mempercepat pembangunan ekonomi.

Kita harus sadar bahwa kita berlomba dengan waktu. Dalam 25 tahun ke depan bonus demografi akan berakhir dan kita akan masuk ke dalam kelompok negara yang berumur. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang ‘tua sebelum kaya’. Untuk itulah, kita harus menjadi bangsa yang cerdas, bukan bangsa pokrol bambu.

 

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA