04 December 2020, 02:30 WIB

Anambas Berharap Pemimpin Amanah


Hendri Kremer |

KOMISI Pemilihan Umum Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, telah mempersiapkan semua langkah protokol kesehatan agar pemilihan langsung kepala daerah aman dari covid-19.

"Saat mendatangi tempat pemilihan suara (TPS), masyarakat tidak perlu khawatir sebab KPU telah menyiapkan semua sarana dan prasarana," papar Ketua KPU Kabupaten Kepulauan Anambas, Jufri Budi, Rabu (2/12).

Pilkada Kabupaten Kepulauan Anambas diikuti tiga pasangan calon. Mereka yang bertanding ialah Abdul Haris-Wan Zuhendra (Haris-Wan), Yusrizal-Fatahurrahman (Yus-Patuh), dan Fachrizal alias Ical Long Enon dan Johari (Ijo).

Pasangan Abdul Haris-Wan Zuhendra diusung Partai NasDem, PDIP, Demokrat, Gerindra, Perindo, dan Golkar, dengan dukungan 14 jumlah kursi anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas.

Pun pasangan Yusrizal-Fatahurrahman yang diusung PAN dan Hanura mendapat dukungan 4 jumlah kursi dengan nomor urut 02, sedangkan Fachrizal-Johari, nomor urut 03, maju lewat jalur perseorangan dengan mengantongi 3.518 suara masyarakat.

Nomor urut 01, Abdul Haris-Wan Zuhendra, merupakan petahana. Mereka berkampanye dengan menemui konsti tuen pada malam hari. Jumlah pertemuan tidak lebih dari 50 orang dengan menerapkan jaga jarak, pakai masker, serta menyiapkan peralatan cuci tangan.

Kedatangan paslon nomor 01 ke kantong-kantong masyarakat untuk mendengarkan langsung keluhan dan masukan mereka selama memimpin pada periode perdana. "Kami mendapat masukan, ada yang minta pembangunan masjid, peralatan nelayan, dan keperluan lain untuk mencari nafkah," tutur Abdul Haris.

Tidak kalah gigih, Yus-Patuh mengunjungi desa ke desa. "Kami kampanye sejak 9 Oktober 2020. Sampai saat ini sudah 17 desa yang kami kunjungi," kata Yusrizal. Dalam satu hari, pasangan ini bisa mengunjungi empat lokasi. Naik perahu dari satu tempat ke tempat lainnya.

Kepulauan Anambas sebagai kabupaten termuda di Provinsi Kepulauan Riau merupakan pemekaran dari Kepulauan Natuna pada 2008. Anambas berbatasan dengan Malaysia, Thailand, dan Vietnam, dengan mayoritas pekerjaan penduduk sebagai nelayan dan buruh.

Sekalipun isu politik uang menghangat, buruh angkut dan nelayan sepertinya tidak tergiur dengan uang yang dijanjikan tim sukses para kandidat. Sebaliknya, mereka antusias menyikapi pemilihan pada 9 Desember.

Antusiasme warga atas pemilihan bupati dan wakil bupatinya jauh lebih tinggi daripada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri. Setidaknya hal itu terlihat dari alat peraga kampanye yang terpasang di berbagai kawasan menghiasi tepi jalan dan pusat keramaian.

Sementara alat peraga kampanye calon Gubernur-Wakil Gubernur Kepri, Soerya Respationo-Iman Sutiawan, Isdianto- Suryani, dan Ansar Ahmad-Marlin Agustina, jarang ditemukan di pusat Kota Tarempa.

Warga yang masuk daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 31.707 orang, dengan rincian pria 16.292 dan 15.415 perempuan. Mereka tersebar di 119 TPS. "Kami terus mendorong warga agar menggunakan hak pilihnya," cetus anggota KPU Kabupaten Anambas, Fadillah.

KPU Anambas menargetkan partisipasi pemilih mencapai 80%. Partisipasi pemilih dalam setiap pesta demokrasi di daerah tersebut memang melebihi 70%. Bahkan, pada Pemilu 2019, partisipasi mencapai 87%.

 

Suara rakyat

Sekalipun isu politik uang menghangat, warga tak begitu respons untuk menerimanya. Nelayan di Kabupaten Anambas justru mengingatkan supaya bupati-wakil bupati terpilih bekerja dengan jujur dan adil.

"Jangan korupsi. Pemimpin harus jujur," pesan Abdul Razak, 49, nelayan tradisional Pulau Candi di Pelabuhan Tarempa, Anambas.

Sebagai nelayan penghasilan Razak memang paspasan. Terkadang dia bekerja sebagai pengantar barang milik pedagang dengan menggunakan perahunya.

"Saya tidak tamat sekolah dasar, tetapi saya punya harapan agar pemimpin yang terpilih orang baik," ucapnya.

Calon pemilih lainnya, Sunadi, 29, nelayan asal Pulau Nyamuk, yang juga kerap membawa perahu untuk mengantarkan orang dan barang-barang ke pulau-pulau lainnya sekitar Tarempa.

Ia berharap mendapatkan pemimpin yang amanah. "Pemimpin harus memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan melakukan pembangunan merata," tutur Sunadi yang tidak melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP.

Sementara itu, Mochtar, 56, yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan di Pulau Ladan, berharap kepala daerah terpilih dapat meningkatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan.

"Kalau bisa bangun sekolah yang berkualitas, sediakan fasilitas kesehatan yang baik. Jadi, anak-anak kami tidak susah ke sekolah. Kalau ada yang sakit, tidak perlu dirawat sampai ke Batam dan Tanjungpinang," pintanya.

Ia mendoakan pemimpin terpilih betul-betul yang prorakyat dan tidak koruptif. Peduli kepada nasib nelayan dan mau dekat dengan warga bukan hanya pada saat kampanye. Mochtar berharap pilkada berlangsung damai dan tenang agar dirinya dapat bekerja dengan aman seperti biasa.

Harapan itu ditanggapi anggota Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Kepulauan Anambas, Liber Simaremare, bahwa budaya Melayu mampu melahirkan pilkada damai.

Menurut dia, budaya melayu masih melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, yaitu santun, ramah, dan terbuka. Masyarakat Anambas yang terdiri atas berbagai suku selama ini hidup berdampingan dengan damai.

Sepengetahuannya, proses kampanye hingga menjelang masa tenang pada 6 Desember di wilayah Anambas amanaman saja.

Dalam satu kedai kopi bahkan dapat ditemukan tim sukses ketiga pasangan calon bupati dan wakil bupati duduk bersama. Hal ini jarang ditemukan di daerah lain. (Ant/N-1)

BERITA TERKAIT