03 December 2020, 05:50 WIB

Demi Kerinduan Masyarakat Tabanan


Ruta Suryana |

PERTARUNGAN head to head dua pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Tabanan, Bali, diprediksi bakal seru.

Dari sisi kekuatan partai pendukung, paslon nomor urut 1, yakni I Komang Gede Sanjaya-I Made Edi Wirawan (Jaya-Wira) boleh dikata berada di atas angin.

Jaya-Wira mendapat dukungan partai yang menguasai 31 dari 40 kursi di DPRD Tabanan. PDIP menjadi kekuatan utama yang pada pemilu legislatif tahun lalu memborong 28 kursi ditambah Gerindra dengan 3 kursi.

Di lain sisi, partai pendukung Anak Agung Ngurah Panji Astika-I Dewa Nyoman Budiasa (Panji-Budi) hanya memiliki 9 kursi di parlemen. Jumlah itu akumulasi dari Golkar (5 kursi), NasDem (3 kursi), dan Demokrat (1 kursi).

Meski dari kekuatan partai pendukung teramat timpang, bukan berarti paslon nomor urut 2 tak punya peluang. Ada kerinduan dari masyarakat terhadap sejumlah predikat yang disandang Tabanan di masa lalu.

Dalam pandangan Panji Astika, hampir dua dekade terakhir Tabanan tidak menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Tabanan yang dulu dikenal sebagai lumbung padinya Bali, kini tak lagi menyandang gelar itu. Tabanan yang dulu juga dikenal sebagai kota pelajar, kini tak jelas arah pembangunannya.

Tabanan dengan potensi alam, air, dan lahan persawahan yang subur dinilai Panji Astika tak memberikan kemakmuran bagi rakyat. Belakangan Tabanan malah dikenal dengan infrastruktur yang buruk.

“Untuk itu, kami Panji-Budi hadir sebagai jawaban atas kerinduan masyarakat Tabanan akan sosok-sosok pemimpin yang mengabdi penuh untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat,” ujar Panji saat debat publik yang disiarkan salah satu stasiun TV lokal Bali, beberapa waktu lalu.

Tokoh Puri Anom Tabanan itu mengusung tema Ngardi Loka Hita, yakni Tatanan baru Tabanan maju dengan berlandaskan Tri Hita Karana. Visi ini ditopang dengan moto jujur, profesional, dan kerja keras.

Melalui media sosial, Panji yang dikenal sukses sebagai pengusaha instalasi pengolahan air dan limbah mengungkapkan pentingnya seorang pemimpin yang kreatif dan inovatif. Dalam pengadaan air bersih, misalnya, tidak perlu sampai berebut dengan kepentingan Subak karena air sungai bisa diolah jadi air bersih, bahkan air minum.

“Jadi yang diperlukan ialah lompatan-lompatan pemikiran yang kreatif. Program apa pun yang dihasilkan di dunia ini berasal dari pemikiran isi kepala,” tandas Panji.

Sebagai calon bupati, dia menyerahkan kepada masyarakat apakah masih mau seperti saat ini atau perlu sesuatu yang baru. Itulah sebabnya jargon yang digaungkan ialah ‘Salam Perubahan’ menuju yang lebih baik.

Panji yang mengagumi sosok Presiden Joko Widodo dan Ahok yang sama-sama dari kalangan pengusaha dalam pengelolaan pemerintahan itu menyebut pemimpin atau bupati ibaratnya direktur atau CEO. Direksi punya visi ke arah mana institusi akan dibawa, apa target-target yang ingin dicapai, lalu
diterjemahkan tim.

Dalam konteks di Tabanan, Panji menekankan bagaimana agar bisa maju dan menjadi kebanggaan masyarakat. Ada obsesi yang ingin diwujudkan Panji-Budi di daerah berjuluk ‘Kabupaten Pelangi’ itu, yakni youth space bagi anak muda untuk mengekspresikan semua energi kreatif, seperti olahraga, seni, dan budaya. “Banyak potensi seni, tapi tak tersalurkan karena kurang pehatian dari pemerintah,” ucapnya.


Optimistis


Sekretaris DPW Partai NasDem Bali Nyoman Winatha optimistis Panji-Budi akan menang dalam Pilkada 9 Desember. Pasalnya, Panji merupakan tokoh Puri berpengaruh dan diperkuat dengan posisinya sebagai Ketua Paiketan Puri Sejebag Tabanan (Persatuan Keluarga Puri Seluruh Tabanan).

“Hal ini sangat memberi keuntungan, mengingat secara adat masyarakat Tabanan masih sangat memperhatikan keluarga Puri. Terlebih keluarga Puri di Tabanan biasanya memiliki lahan pertanian luas yang dikerjakan banyak penggarap,” kata Nyoman.

Calon Wakil Bupati, I Dewa Nyoman Budiasa, saat ini juga menjabat sebagai Sekjen Kesatuan Pelaut Indonesia yang berperan membantu peminat kerja di kapal pesiar yang jumlahnya cukup banyak dari Tabanan. Faktor-faktor lain yang menguntungkan ialah ketika melakukan sosialisasi, ada kekecewaan
masyarakat terhadap pemerintahan dinasti, infrastruktur jalan yang rusak, dan kekecewaan-kekecewaan lainnya.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Pendidikan Nasional Denpasar I Nyoman Subanda mengatakan untuk di pilkada Tabanan, eksistensi PDIP dinilai solid dan itu menjadi modal besar bagi Jaya-Wira. Selain itu, masyarakat Tabanan masih komunal sehingga apa kata tokoh, seperti kepala desa,
tokoh adat, dan lainnya, itulah pilihannya. “Kelebihan lainnya, paslon yang diusung PDIP ialah incumbent, yakni saat ini masih sebagai Wakil Bupati Tabanan.”

Soal pasangan Panji-Budi, Subanda menilai calon bupati Anak Agung Panji Astika sebagai tokoh Puri di Tabanan yang berpengaruh. Hanya saja, koalisi partai pengusungnya dianggap tidak sesolid PDIP. (X-8)

BERITA TERKAIT