25 November 2020, 03:00 WIB

Pilkada dan Pembangunan Daerah


Firman Mulyadi, Direktur Eksekutif LK2P dan Pendiri Rumah Diskusi Cianjur. | Pilkada

MOHAMMAD Hatta, proklamator kemerdekaan Indonesia, berkata, “…masyarakat tidak pernah diam, alias selalu berubah. Pokok dari segala perubahan masyarakat, ialah perjuangan manusia untuk hidup, dan untuk mencapai penghidupan yang lebih baik, daripada yang sudah didapat. Manusia tidak putus berusaha memperbaiki syarat hidupnya.” (Hatta, 1979: 51).

Artinya, masyarakat adalah himpunan manusia yang berwatak dinamis dan gandrung pada kemajuan (progresivitas). Selain bertahan hidup, masyarakat juga berubah lantaran hendak meningkatkan kualitas hidupnya. Alih-alih berputus asa dan berhenti berusaha, manusia – yang sehat – justru selalu berusaha untuk memperbaiki kualitas kehidupannya.

Dalam kesempatan yang lain, Hatta menegaskan, “Karena rakyat itu badan dan jiwa bangsa. Dengan rakyat, kita (baca: bangsa ini) akan naik, dan dengan rakyat, kita (baca: bangsa ini) akan turun.” (Hatta, 2012: 10).

Jadi, kualitas bangsa ini tak diukur dari segelintir apalagi satu warganya. Tetapi, diukur dari keadaan rakyatnya secara keseluruhan. Jika kondisi rakyat mengenaskan, bangsa ini turun, lemah, dan mengenaskan pula. Sebaliknya, jika kondisi rakyat adil makmur, bangsa ini naik, kuat, dan menggembirakan.

Maka, jangan mempermainkan nasib rakyat. Karena rakyat itu badan dan jiwa bangsa. Tanpa rakyat, bangsa dan negara ini bukan saja takkan terbentuk. Tetapi, juga akan raib. Usah pula menindas dan melemahkan rakyat. Sebab jika rakyat tertindas dan lemah, sama artinya menindas dan melemahkan badan dan jiwa bangsa ini. Akhirnya, jika badan dan jiwa bangsa ini tertindas dan lemah, bukannya digdaya dan dihormati bangsa lain, ia justru terpuruk dan dianggap hina oleh bangsa lain.

Oleh sebab itu, bangunlah jiwa nya, bangunlah badannya. Penuhilah semua kebutuhan dan kepentingan rakyat. Sehingga, Indonesia jadi bangsa dan negara digdaya, terhormat, dan berbahagia. Kemudian, lantaran bagian yang tak terpisahkan dari Indonesia, alih-alih memandangnya dengan sebelah mata, kondisi seluruh daerah di negeri ini justru wajib untuk diperhatikan. Sebab, ia menentukan dan memengaruhi kondisi kolektif bangsa dan negara ini.

Maka, sebagai mekanisme memilih pemimpin daerah, pemilihan kepala dan wakil kepala daerah (pilkada) jangan dianggap sepele. Tapi, harus diseriusi sebagai penghormatan pada daulat rakyat, sekaligus menjadikannya pintu gerbang membangun daerah. Jadi, bukan memenangkan satu pasangan calon dan menyingkirkan pasangan calon lainnya. Namun, keutamaan pilkada ialah memenangkan perbaikan kualitas hidup rakyat di daerah masing-masing.

Bukan berebut kekuasaan seraya mengabaikan nasib rakyat. Melainkan, pilkada wajib dan strategis dijadikan ajang perlombaan berbuat kebaikan (fastabiqul khairat). Singkat kata, jadi ajang adu program membangun daerah.

Di beberapa daerah, program paling dibutuhkan rakyat ini bisa saja berupa perbaikan jalan, pembentukan UMKM, peningkatan produktivitas lahan pertanian, perluasan akses atas listrik, atau pemberdayaan pondok pesantren.

Dalam hal ini, tentu berbagai program yang dirumuskan dan ditawarkan satu pasangan calon, tak menjawab semua persoalan dan tak memuaskan seluruh warga. Namun, keterbatasan APBD dan kecenderungan sikap pasangan calon, meniscayakannya.

Oleh karena itu, yang terpenting bukanlah menjawab semua persoalan dan memuaskan seluruh warga. Melainkan, memberikan solusi atas persoalan utama yang dihadapi daerah, sekaligus, memuaskan sebagian besar penduduknya. Bukankah begitu?

Akhir kata, saya mengajak seluruh warga di seluruh daerah, yang menghelat pilkada dan melakukan pencoblosan pada 9 Desember 2020 mendatang, untuk, menjadikan pilkada sebagai pintu gerbang membangun daerah. Setelah itu, kawal dan bahu-membahulah dengan kepala dan wakil kepala daerah terpilih! Mari membangun daerah!

BERITA TERKAIT