25 November 2020, 02:15 WIB

Pembuktian Anak Sopir di Kebumen


Lilik Darmawan | Pilkada

PILKADA Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, tahun ini gagal menyuguhkan kontestasi dengan lebih dari satu kontestan. Meski KPU setempat telah memperpanjang masa pendaftaran calon bupati dan calon wakil bupati,  pada akhirnya hanya satu pasangan calon yang maju.

Karena cuma ada satu paslon,  pada 9 Desember nanti masyarakat Kebumen yang punya hak pilih memiliki dua opsi yakni memilih pasangan Arif Sugiyanto-Ristawati Purwaningsih (Arif Rista) atau kotak kosong. Arif-Rista memborong rekomendasi 9 parpol yang ada di Kebumen yakni PDIP, PKB, Gerindra, Golkar, NasDem, PPP, PAN, Demokrat dan PKS. Mengapa seluruh parpol mendukung? ‘’Dalam politik yang terpenting ialah membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh parpol. Ketika saya berpikir pensiun dari kepolisian dan akan ke Kebumen, saya melakukan komunikasi dengan para ketua parpol di Jakarta,’’ kata Arif yang juga merupakan petahana karena masih menjabat  Wakil Bupati Kebumen.

Salah satu yang menjadi amanah para ketua parpol, kata putra seorang sopir dan guru TK itu, adalah soal pengentasan rakyat dari kemiskinan di Kebumen. ‘’Para ketua parpol prihatin dengan kondisi Kebumen yang merupakan daerah termiskin. Pada periode ini harus bekerja keras, sebab masa kerja hanya 3,5 tahun. Tentu saja, yang bisa langsung cepat geraknya adalah yang telah berpengalaman.’’

Arif mengungkapkan, rekomendasi kepada dirinya merupakan bagian dari komunikasi politik yang dibangun. Misalnya saja, seharusnya PDIP dengan perolehan 12 kursi dapat mencalonkan sendiri. Namun, mereka legawa untuk melepaskan Kebumen 1 dan menyodorkan kadernya untuk mendampingi Arif sebagai cawabup.

‘’Dengan membentuk Koalisi Kebumen Bersatu, saya ingin mengajak seluruh parpol untuk menyatukan langkah bersama-sama. Seperti pada masa kampanye, kami bersama-sama bergerak sesuai dengan porsi masing-masing,’’ jelas dia.

Meski melawan kotak kosong, bukan berarti Arif berleha-leha dan tidak bekerja untuk dapat mendulang suara akar rumput. Arif-Rista pun mempunyai konsep kampanye serentak. Keduanya secara bergantian mendatangi desa-desa yang menggelar kampanye tatap muka dengan protokol kesehatan ketat.

Meski Kebumen memang hanya ada calon tunggal, bukan berarti seluruh masyarakat mendukung pasangan tersebut. Muncul pula riak yang ditandai dengan adanya warga yang mengampanyekan kotak kosong. Arif pun menanggapinya secara santai karena itu bagian dari demokrasi.

Arif yang masih berusia 43 tahun juga memiliki kedekatan dengan kaum milenial di Kebumen. Bahkan ke depan, ia telah memiliki konsep dengan membuat wadah yang dinamakan Kumpul Bakul. ‘’Dari data yang ada, 60% milenial masih menganggur sehingga membutuhkan perlakuan khusus untuk mereka. Salah satu yang kami gagas adalah Kumpul Bakul. Wadah ini akan menjadi tempat untuk pelatihan dan pendampingan. Bahkan, nantinya diberikan permodalan untuk kemudian dikoneksikan ke pasar.’’

Arif mengatakan di Kebumen banyak anak muda kreatif yang harus terus didorong. Dalam situasi pandemi sekarang, pihaknya akan tancap gas untuk membangun Kebumen.

Dia tegaskan bahwa Kebumen butuh pemimpin selaras dengan prinsip bahwa lebih baik satu hari ada pemimpin, daripada seribu tahun tak ada pemimpin. Pemimpin juga harus memiliki ide dan gagasan, lalu berani memutuskan atau melakukan eksekusi. ‘’Di Kebumen, dari APBD Rp2,7 triliun, yang asli Kebumen baru Rp400 miliar. Sehingga daerah harus menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat,’’ tandasnya.

Ada resistensi

Saat dihubungi terpisah, pengamat politik Fisipol Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Ahmad Sabiq mengingatkan bahwa meski melawan kotak kosong dan mendapat dukungan besar dari parpol, paslon tetap harus bekerja keras. ‘’Pernah ada pengalaman kotak kosong menang dalam pilkada. Karena itulah, paslon harus benar-benar meyakinkan kepada publik bahwa mereka layak untuk memimpin.’’

Apalagi, imbuh Sabiq, di Kebumen juga muncul gerakan mendukung kotak kosong. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi paslon untuk terus memikat hati rakyat.

Menurutnya, hal yang mesti dilakukan Arif-Rista ialah terus melakukan pendekatan kepada mereka yang masih resisten terhadap keduanya. Jika berhasil, gerakan pendukung kotak kosong akan melunak atau dengan setidaknya tidak meluas.

Sabiq sebetulnya menyayangkan tidak ada calon lain. Ini menunjukkan bahwa proses kaderisasi yang merupakan tugas parpol mandeg. ‘’Atau ada tokoh, namun keder. Sebab, yang dihadapi adalah petahana yang memiliki modal kuat dukungan seluruh parpol,’’ tuturnya. (X-8)

BERITA TERKAIT