24 November 2020, 02:25 WIB

Mantu Presiden Sudutkan Petahana Kota Medan


Yoseph Pencawan | Pilkada

KPU Kota Medan telah menggelar debat kandidat Pilkada 2020 putaran kedua pada Sabtu (21/12/2020) malam. Dalam debat bertema pelayanan publik itu, paslon nomor urut 2 Bobby Nasution-Aulia Rachman, selaku penantang petahana, menawarkan berbagai terobosan untuk melakukan perbaikan.

Perbaikan pelayanan publik di Kota Medan, menurut Bobby Nasution, sangat mendesak dilakukan karena cukup buruk. “Bisa dilihat hari ini bagaimana pelayanan publik di Medan, cukup buruk,” tandasnya.

Kondisi Kota Medan semakin buruk karena diperparah indeks persepsi korupsi, yakni dari 12 kota besar di Indonesia, Kota Medan menjadi terendah. Korupsi, menurut Bobby, menyebabkan banjir tak pernah usai, jalan penuh lubang, dan sampah di mana-mana.

Mantu Presiden Joko Widodo itu agresif mencecar petahana dengan sejumlah permasalahan yang sudah lama dikeluhkan masyarakat Kota Medan. Bobby mengaku sudah siap menciptakan transparansi, kecepatan, kemudahan, dan ketepatan untuk memajukan Kota Medan.

Salah satu terobosan yang akan dilakukan ialah mengubah alur sistem pelayanan publik menjadi transparan, cepat, tepat, dan pasti. Pasangan Bobby-Aulia berjanji membuat alur sistem pelayanan, dari tingkat lingkungan, kelurahan, hingga kecamatan untuk memudahkan warga.

Pihaknya ingin pelayanan publik benar-benar sesuai harapan masyarakat Kota Medan dengan menempatkan ASN profesional. Caranya, dengan memberlakukan merit sistem manajemen kepegawaian.

Merit sistem atau sistem prestasi adalah mempromosikan dan merekrut pegawai pemerintah berdasarkan pada kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan, bukan karena koneksi politik.

Paslon nomor urut 1 Akhyar Nasution yang berpasangan dengan Salman Alfarisi, mengklaim pelayanan publik Pemkot Medan sudah semakin membaik. Pada 2019, katanya, Pemkot Medan mendapatkan penilaian kategori baik dengan skor 82,8 dalam survei kepuasan masyarakat.

“Pelayanan publik sudah dilakukan secara digital. Salah satunya raihan ISO 9001 oleh dinas perizinan,” cetusnya.

Selain itu, lanjut Akhyar, selama empat tahun kepemimpinannya, ada 833 ruas jalan yang diperbaiki. Kemudian, 450 ruas drainase dibersihkan serta 1.770 rumah tidak layak huni diperbaiki dalam program bedah rumah.

Suara Akhyar beberapa kali meninggi ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan Bobby. Pada sesi terakhir, ada satu pertanyaan mengenai program Medan Clean Track yang tidak dapat dijawab paslon 1.

“Ini sudah tiga kali saya tanya tentang Medan Clean Track, tapi belum juga dijelaskan. Saya jadi penasaran kenapa belum bisa dijelaskan atau kenapa tidak dijelaskan. Medan Clean Track baru berumur beberapa bulan, mengapa dicabut?” tanya Bobby.

ANTARA FOTO/IRSAN MULYADI

Calon Wali Kota Medan nomor urut 2 Bobby Nasution (jaket jeans) melihat lokasi banjir akibat meluapnya Sungai Deli di Medan, Sumatra Utara, Rabu (30/9/2020).


Kelima kali

Akhyar malah merespons Aulia yang mengajukan pertanyaan tambahan mengenai keterlambatan honor para tenaga medis dan banyak dokter keluar dari RSUD Dr Pirngadi.

Melihat pertanyaannya belum direspons juga, Bobby kembali bertanya untuk kelima kalinya soal Medan Clean Track. “Saya hanya mengingatkan udak (paman), bagaimana Medan Clean Track ke depan? Bisa dijalankan atau tidak dan bagaimana alasan mengapa diberhentikan, terima kasih,” cetusnya.

Alih-alih menjawab pertanyaan Bobby yang kelima kali itu, Akhyar kembali hanya merespons Aulia yang memberikan kritisi lanjutan atas kisruh honor tenaga medis RSUD Dr Pirngadi.

Sampai closing statement, pertanyaan soal Medan Clean Track tak dapat dijawab Akhyar ataupun Salman.

Mengutip dari video resmi Pemkot Medan mengenai Medan Clean Track yang diunggah channel Youtube Topan Ginting pada 17 Desember 2018 dan channel paradoc studio pada 6 November 2020, aplikasi tersebut tergolong canggih.

Dalam konten video berdurasi 2,45 menit tersebut dipaparkan Medan Clean Track merupakan suatu sistem informasi web atau mobile apps yang mampu melacak keberadaan truk sampah selama 24 jam.

Pemkot Medan mengembangkan sistem pelacakan karena banyak truk sampah digunakan untuk keperluan lain. Sistem akan memutar ulang perjalanan armada dan memberikan berbagai informasi, seperti jarak tempuh, lama berkendara, lama parker, serta estimasi penggunaan bahan bakar.

Sistem ini, menurut tayangan video, mampu mematikan dan menghidupkan mesin armada truk sampah dari jarak jauh dengan mengirim pesan singkat.

Kecanggihan lainnya, sistem ini dapat memberikan informasi status armada truk sampah. Apakah kabel GPS diputus, antena dilepas, melebihi batas kecepatan, maupun posisi tidak di jalur, akan terbaca.

Menilai penampilan debat, pengamat ekonomi Sumut Wahyu Pratomo, menyebutkan pasangan Akhyar-Salman kaku dan formal. “Paslon nomor dua lebih santai yang menunjukkan gaya anak muda energik yang tidak menonjolkan formalitas. Medan memang kota yang perkembangannya sudah jauh tertinggal jika dibandingkan dengan kota lainnya,” ujarnya.

Soal klaim Akhyar dalam debat bahwa Medan menjadi kota terbesar nomor tiga di Indonesia setelah dipimpin olehnya, Wahyu menepisnya. “Dari sisi mana Medan nomor tiga terbesar? Secara ekonomi Kota Medan memiliki produk domestik regional bruto yang menunjukkan skala ekonomi nomor 9 di bawah 5 kota, DKI, Surabaya, Bekasi, dan Bandung,” paparnya.

Menurut Wahyu, ketertinggalan Kota Medan tak lepas dari buruknya pengelolaan. Berapa besarnya anggaran juga tidak jelas karena pemerintah Kota Medan tidak pernah mengumumkannya ke publik.

Ia menegaskan Kota Medan harus dibangun dengan serius untuk mengatasi ketertinggalan. Wali kota terpilih harus sering ke lapangan, mencari permasalahan publik, dan menyelesaikan permasalahan tersebut. “Pemimpin Kota Medan perlu energitas tinggi,” imbuh Wahyu. (N-1)

 

BERITA TERKAIT