20 November 2020, 03:15 WIB

Petahana Melawan Mantan di Lombok Utara


Yusuf Riaman | Pilkada

DUEL pasangan calon Bupati/Wakil Bupati Lombok Utara, Najmul Ahyar-Suardi (NADI) dengan Djohan Sjamsu-Danny Carter Pebrianto Ridawan (JODA) diperkirakan bakal seru.

Setidaknya terlihat dari survei Political Research and Marketing (Polram) yang dirilis, Minggu (15/11). Hasil survei Polram untuk Pilkada Kabupaten Lombok Utara (KLU) memperlihatkan persaingan antarpaslon cukup ketat.

Perbedaan tingkat elektabilitas kedua kandidat tipis. “Hasil survei menempatkan NADI di posisi unggul,” kata peneliti Polram, Efendi Azhari. Hasil survei tersebut mematahkan beberapa survei lembaga lainnya yang menempatkan JODA lebih unggul.

Elektabilitas Najmul tinggi tak lain karena sejumlah prestasi yang diraih selama memimpin KLU empat tahun terakhir.

KLU menjadi kabupaten perencanaan pembangunan terbaik, menanggung premi 100% BPJS warga miskin.

Di tangan Najmul, KLU mendapat anugerah dana reksa atas performance pengelolaan keuangan terbaik, best leader supporting public relations and comunications, dan terpopuler di media daring 2019 dari Humas Indonesia.

Prestasi lainnya, sebagai kepala daerah inovatif 2019 dari koran terbitan nasional, pembina juara 1 kakao dari Kementerian Pertanian RI, bupati pendukung moderasi beragama dari Kemenag RI, pembina bahasa dan sastra Indonesia dan daerah dari kantor bahasa NTB.

Ada dua penghargaan yang diterimanya, yakni opini wajar tanpa pengecualian ke-5 dari BPK RI (2014-2018) serta penghargaan daerah zona hijau dari Ombudsman RI.

Pasangan Nasjmul-Suardi diusung enam partai, yakni Golkar, NasDem, PPP, PAN, Demokrat, dan PBB, yang menguasai 18 kursi di DPRD KLU, sedangkan paslon Djohan-Danny diusung PKB, Gerindra, PDIP, dan PKS, dengan perolehan 12 kursi.

Pertarungan akan sengit disebabkan calon bupati sama-sama punya pengalaman memimpin daerah. Dalam arti pertarungan petahana dengan mantan bupati.

Najmul sebagai petahana yang memimpin KLU periode 2016-2021 akan lebih diuntungkan karena namanya selalu disebut.

Apalagi, dia berpasangan dengan birokrat yang juga banyak mengecap asam garam perpolitikan, Suardi, yang merupakan Sekretaris Daerah KLU.

Sementara itu, Djohan Sjamsu, ialah Bupati Lombok Utara periode 2010-2015 yang jabatannya direbut oleh Najmul pada perhelatan Pilkada 2015. Djohan berpasangan dengan Danny Karter Febrianto, politikus Gerindra.

 

Sumber: Pemkab Lombok Utara/KPU Kabupaten Lombok Utara/Tim MI/Riset MI-NRC

 


Ragu-ragu

Efendi Azhari yang juga dosen Universitas Mataram memaparkan hasil survei Polram dilakukan dengan dua cara, yakni wawancara langsung menggunakan aplikasi serta dengan alat peraga.

Hasil wawancara langsung menyatakan 28% responden akan memilih JODA, sedangkan warga yang telah menetapkan pilihan kepada NADI mencapai 32,8%.

Peluang untuk menambah dukungan masih sangat besar bagi kedua mesin politik paslon disebabkan 29,4% suara masih ragu-ragu apakah akan memilih NADI atau JODA. Sementara sebanyak 9,8% tidak bersedia menjawab pertanyaan.

Selanjutnya, ketika pertanyaan diajukan menggunakan alat peraga, sebanyak 30,2% memilih JODA dan 36,2% pro-NADI, 18% ragu-ragu, serta 15,6% tidak menjawab.

Survei dilakukan pada rentang waktu 8-12 November 2020 dengan melibatkan 500 responden. “Dengan selisih elektabilitas antarpaslon yang tipis, di bawah margin error sekitar 4,5%, kedua paslon berpeluang menang,” tutur Efendi Azhari.

Hasil survei yanag menggambarkan kekuatan dan peluang kemenangan pasangan NADI dan JODA relatif tipis merupakan modal bagi setiap paslon untuk meningkatkan perolehan suara.

Waktu masih tersedia sekitar dua minggu lagi untuk menggunakan segala daya dan upaya sebagai kunci kemenangan sebelum pemilihan langsung pada 9 Desember 2020.

Polram melakukan survei meliputi 43 desa dengan metode penarikan sampel multi-stage random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka menggunakan aplikasi kobocollect.

“Pewawancara lapangan ialah enumerator berpengalaman pada sejumlah pelaksanaan survei dan mendapatkan coaching sebelum turun lapangan,” paparnya.

Menurut dia, kandidat yang berpeluang besar memenangi kontestasi di pilkada KLU tergantung dari kelihaian dan kepiawaan tim sukses dan relawan setiap paslon untuk menyakinkan swing voter yang belum menentukan pilihan.

Arah dukungan swing voter pada masa injury time akan menentukan siapa kandidat yang memenangi kontestasi. “Swing voter betul-betul harus digarap serius kalau mau terpilih.”

Efendi juga menyebutkan pasangan NADI dan JODA punya pemilih loyal. Mereka sudah menentukan arah pilihan dan sulit untuk berpindah kepada paslon lainnya. Jadi, satu-satunya pilihan harus fokus mengerahkan segala kekuatan dan menggerakkan mesin partai untuk menyakinkan suara mengambang.

Najmul yang dihubungi di sela-sela kampanye kemarin optimistis mampu meraih kemenangan secara kumulatif setelah debat. “Betul, setelah debat swing voter mulai berkurang. Kami optimistis menang,” katanya. Djohan tidak berhasil dikontak via telepon. (N-1)

BERITA TERKAIT