23 January 2023, 05:05 WIB

Mengisi Ruang Ambiguitas


Siti Sarayulis Guru SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe, alumnus Tampere University |

"BISA tolong jelaskan kepadaku, jalan mana yang harus kutempuh?" tanya Alice. "Tergantung kamu maunya ke mana?" jawab sang Kucing. "Ke mana saja juga boleh," kata Alice. "Ya, kalau begitu, jalan mana pun boleh kamu pilih," kata sang Kucing. (Lewis Carroll, Alice in Wonderland)

Dialog di atas menginspirasi saya ketika memulai tulisan ini. Tanpa disengaja, saya menemui kegamangan dalam diri siswa SMP di SSB Lhokseumawe. Hal itu terjadi saat mereka ditanya dan diminta untuk menuliskan dalam 500 kata tentang Aku dan Masa Depan dalam tugas akhir pelajaran bahasa Indonesia, sebagai salah satu syarat lulus dari SMP SSB Lhokseumawe.

Dalam program itu, mereka bebas menuangkan isi pikiran secara deskriptif. Mereka dapat memulai dengan bercerita tentang diri, keluarga, hobi, kebiasaan, masa depan, dan bentuk usaha yang akan dilakukan guna mewujudkan cita mereka. Bagi mereka yang belum dapat membayangkan mau jadi apa di masa depan nanti, sangat mungkin akan kesulitan menuangkan pikiran dalam 500 kata menjadi tulisan Aku dan Masa Depan.

Bagi yang sudah mendapatkan gambaran masa depan, itu menjadi proses yang sangat menakjubkan bagaimana mereka menemukan kata-kata dan merangkainya menjadi tulisan Aku dan Masa Depan. Namun sayang, hanya sebagian kecil saja yang sudah dapat membayangkan dan menggambarkan rencana masa depan mereka. Sebagian besar masih belum dapat menuliskannya karena masih gamang mau melangkah ke mana. Mereka masih gamang dalam menentukan arah masa depan mereka, bahkan sesederhana dalam bentuk tulisan.

 

Ini hidup saya

Diananda dalam jurnal ISTIGHNA, Vol 1, No 1, Januari (2018), menulis artikel dengan judul Psikologi Remaja dan Permasalahannya, tentang fase peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa ialah masa remaja. Beberapa ahli menyebutkan rentang usia remaja berkisar 10 tahun hingga 21 tahun. Banyak perubahan yang akan terlihat dari fisik dan psikis. Pencapaian identitas diri sangat menonjol, pemikiran semakin logis, abstrak, dan realistis merupakan perkembangan lainnya yang terjadi pada fase ini.

Diananda (2018), sejalan dengan ide Alex Sobur, juga mengelompokkan tiga fase perkembangan remaja. Pertama, praremaja (usia 11 atau 12-13 atau 14 tahun). Kedua, remaja awal (usia 13 atau 14 tahun-17 tahun). Ketiga, remaja lanjut (17-20 atau 21 tahun).

Usia siswa kelas IX ialah remaja berusia 15 tahun atau masuk kategori remaja awal. Pada masa itu, perubahan-perubahan pada diri mereka berada pada puncaknya. Proses mencari identitas, teman sebaya memberi pengaruh kuat, ketidakseimbangan emosional, ingin mengambil keputusan sendiri, dan hal-hal krusial lainnya mereka alami pada masa ini. Mereka mengalami banyak pergolakan jiwa pada usia ini. Relasi sosial mereka semakin luas. Lingkaran pertemanan semakin luas. Mereka harus mulai mengarahkan setir tujuan hidup mereka. Karena tujuan hidup sangat penting mereka arahkan sejak dini. Namun, acap kali tujuan ini masih ambigu untuk mereka.

Ambiguitas inilah yang sebagian besar remaja ini rasakan. Saya melihat kegamangan mereka dalam beberapa tahun terakhir sejak dipercayakan sekolah untuk mengarahkan mereka dalam menyelesaikan tulisan singkat mereka. Beruntungnya bagi sebagian kecil dari mereka mempunyai sokongan lahir batin dari orangtua yang visioner.

Bisa kita bayangkan mereka yang tidak mendapat dukungan orangtua visioner seperti sebagian kecil siswa itu. Untuk itulah, mereka perlu pendidik visioner yang bisa menciptakan anak didik visioner yang berani berucap, "Ini hidup saya dan saya akan lakukan yang terbaik." Mereka harus memiliki tujuan dalam hidup dan menggali potensi terbaik mereka.

 

Membangun emosi positif

Proses mencari apa manfaatnya bagiku? AMBAK ialah istilah yang dipakai dalam Quantum Learning untuk merumuskan tujuan. Merumuskan manfaat dan tujuan yang jelas bisa memotivasi seseorang untuk melakukan suatu hal secara hebat. Dalam belajar untuk mencapai cita mereka, remaja itu perlu mendapatkan garis besar manfaatnya terlebih dahulu. Begitu juga tujuan belajarnya, harus jelas.

Pendidik harus mampu mengarahkan mereka untuk melihat kendala yang mereka hadapi dalam belajar sebagai tantangan, pendidik harus mampu mengubah hambatan menjadi keuntungan. Dengan demikian, yang terlihat di mata anak didik, kendala ialah manfaat, bukan beban. Seorang pendidik mesti mampu memperbesar manfaat daripada beban.

Jika pendidik telah mampu mengubah hambatan menjadi keuntungan, ambiguitas anak didik dalam mencapai cita akan hilang sehingga diharapkan anak didik dapat menuangkan tujuannya dalam selembar kertas, bukan permasalahan besar lagi bagi mereka.

Mengupayakan anak didik menemukan manfaat lebih banyak dari beban ialah langkah pertama yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan motivasi mereka. Jika motivasi ini tumbuh, perspektif mereka terhadap beban atau kendala itu akan berubah karena rasa senang terhadap suatu hal tersebut. Pastikan juga manfaat itu jelas dan spesifik.

Karena kebiasaan yang muncul ialah ketika anak didik menggunakan jurus 'pokoknya'. Contohnya, "Kenapa kamu menonton film ini?" tanya A. "Karena ceritanya bagus," jawab B. "Memangnya ceritanya bagaimana?" balas A. "Pokoknya filmnya bagus!" jawab B. Ketika kata pokoknya keluar, kreativitas menjawab pun hilang. Untuk itulah butuh pendidik yang bisa menggantikan kata pokoknya menjadi sesuatu yang bertujuan jelas, bukan hanya tujuan samar.

Ketika remaja ini menulis cita mereka untuk memenuhi tugas akhir, bukan hanya menjadi kalimat, "Pokoknya sudah selesai saya kerjakan." Namun, menjadi sesuatu atau tujuan yang sangat ingin mereka capai di kemudian hari. Karena apa pun yang ingin dilakukan, jika manfaatnya tidak terlihat jelas, cenderung tidak bersungguh-sungguh.

Pertanyaannya bagaimana membuat anak didik itu menemukan manfaat dari setiap aktivitas positif mereka? Buatlah mereka terus bertanya. Memunculkan pertanyaan dalam setiap kegiatan mereka sehingga makna positif itu akan mereka dapatkan dan motivasi untuk melakukan yang terbaik akan muncul.

Bertanyalah sehingga ruang ambiguitas itu terisi dengan hal baru. Pertanyaan itu akan menjadi alat bagi kita sebagai pendidik dan anak didik untuk terus memberdayakan diri. Tujuannya agar tidak terjebak dalam rutinitas monoton dan setiap langkah kita penuh makna.

BERITA TERKAIT