01 December 2022, 05:05 WIB

Merebut Cinta dalam Pesta Bola


Agus Trihartono Dosen diplomasi publik, prodi hubungan internasional, Universitas Jember, Jawa Timur |

PIALA dunia bukan hanya ajang mencari jawara bola. Di dalamnya juga arena eksploitasi daya tarik (attraction) dalam mendapatkan pengakuan dan cinta dari bangsa yang berbeda.

Kajian diplomasi publik sudah lama melihat olahraga sebagai alat diplomasi (sport diplomacy). Olahraga merupakan desain meraih apa yang diinginkan suatu bangsa melalui prestasi dan skill. Snow dan kawan-kawan (2020) menunjukkan olahraga merupakan arena terbuka meraih citra dan cinta publik global. Ahli lain, Trunkos dan Heere (2017), memberikan perhatian pada diplomasi penyelenggaraan olahraga.

Event olahraga dapat memberikan wawasan tentang negara tuan rumah dan mengedukasi foreign audience tentangnya; menjembatani perbedaan budaya dan bahasa; menciptakan kesadaran hubungan internasional melalui duta olahraga; membuat legasi tuan rumah; serta meningkatkan citra suatu bangsa di dunia. Singkatnya, olahraga dan penyelenggaraannya merupakan wilayah yang mana diplomasi dapat dijalankan.

 

Penyelenggara, tim, dan suporter

Sepak bola merupakan instrumen sport diplomacy. Kecintaan dan kekaguman kepada individu dan bangsa lain dapat tumbuh serta dikonstruksi melalui capaian prestasi, penyelenggaraan, dan perilaku para suporternya. Di era mutakhir, Rushworth (2022) bahkan tidak ragu menunjukkan sepak bola merupakan senjatanya soft power.

Ada tiga aktor yang dapat berkontribusi pada soft power: penyelenggara, tim sepak bola, dan suporternya. Bagi penyelenggara, diakui bahwa keuntungan ekonomi merupakan elemen pertama dan terutama (first and foremost) dalam sebuah pesta bola. Namun, kajian diplomasi publik menunjukkan penyelenggara event olahraga dapat memperoleh efek limpahan bagi konstruksi citra.

Keberhasilan penyelenggaraan olahraga umumnya diikuti penguatan reputasi. Gempita penyelenggaraan, value dan ‘pesan’ yang diusung dalam keseluruhan acara, serta penyediaan fasilitas dan hospitality terbaik merupakan elemen konstruktif kredibilitas penyelenggara. Di tengah citra konservatif melekat pada umumnya negara Timur Tengah, pesta bola Qatar sedang membawa pesan kepada dunia bahwa negeri gurun itu berbeda dari tetangganya: sebuah negara terbuka dan modern. Keberhasilan penyelenggaraan pesta bola dalam derajat tertentu dapat mendongkrak gambaran umum Qatar secara signifikan. Bahkan, indeks dari soft power Qatar diprediksi meningkat dari yang dimilikinya sekarang.

Sebaliknya, dalam sejarah bola, keberhasilan penyelenggaraan tak jarang dipakai untuk menutupi sisi gelap negara penyelenggara. Realitas tentang keberadaan rezim represif dan sisi buruk kualitas perlindungan pekerja migran nyaris tak terlihat dari wajah Qatar, tergantikan kemilaunya penyelenggara piala dunia. Bahkan, tidak sedikit publik Indonesia berdecak kagum atas religiusitas yang ditampilkan Qatar di tengah hiruk-pikuk pertandingan bola. Qatar bahkan dipandang sedang membawa syiar Islam lewat bola.

Selain Qatar, Piala Dunia Argentina 1978 juga menjadi arena pencucian citra diktator junta atas represi serta perang yang dijalaninya. Juga, dalam nada yang hampir sama, sisi abu-abu sosial-politik Rusia tersamarkan dalam Piala Dunia 2018. Meski derajat keberhasilan making-up citra sangat beragam, negara penyelenggara dapat mengonstruksi citra di tengah dahsyatnya perhatian dunia. Paling tidak penyelenggara di bawah kontrolnya menyediakan sebuah ‘jendela’ yang dikelola untuk dikonsumsi masyarakat dunia.

Selain itu, tim sepak bola merupakan ujung tombak diplomasi publik. Tim sepak bola sering menjadi jembatan publik internasional mengenal suatu negara. Kamerun, Senegal, dan Ghana, misalnya, lebih dikenal karena tim bolanya daripada kekuatan ekonomi dan peran politiknya.

Pun tak jarang cinta pada tim bola terbentuk jauh di luar urusan ideologi dan kepentingan nasional. Bahkan, kecintaan pada tim bola melumerkan sekat-sekat sosial, budaya, dan agama. Misalnya, kekalahan Indonesia atas tuntutan Uni Eropa di WTO tidak serta-merta mengurangi kecintaan masyarakat kepada tim negara-negara Eropa yang berlaga. Para pencinta fanatiknya tidak tergoyahkan. Beberapa tim besar memiliki 'diehard' kuat, seperti Jerman, Belanda, Inggris, Rusia, Brasil, dan Argentina. Belakangan, pencinta tim Jepang, Arab Saudi, dan Korea Selatan mulai unjuk loyalitasnya. Cinta lahir secara kolektif kepada tiga tim itu karena kekaguman atas skill tim, individu pemain, juga perasaan solidaritas sesama negara Asia.

Dalam diplomasi publik, tim sepak bola ialah ambasador penting. Kuatnya peran tim sebagai pelaku diplomasi pernah disampaikan mantan Menlu Spanyol (1957-1969), Fernando Maria Castiella. Dalam pandangan Menlu Castiella, tim bola Real Madrid, misalnya, merupakan ‘kedutaan terbaik yang pernah dimiliki’ yang telah mengangkat reputasi Spanyol di Eropa, bahkan dunia (Kelly, 2019). Selain itu, keberhasilan Prancis meraih angka tertinggi dalam indeks soft power dunia, selain karena faktor budaya, entrepreneurship, dan turisme, besar atau kecil dibantu oleh keberhasilan tim Prancis menjuarai Piala Dunia.

Terakhir, suporter merupakan elemen lain yang memengaruhi penguatan soft power. Sebelumnya, suporter tidak masuk dalam radar diplomasi publik. Namun, ketika perilaku suporter banyak diperbincangkan secara global di berbagai platform, suporter dapat menaikkan juga dapat menurunkan citra dan gambaran umum suatu negara. Perilaku suporter sering dianggap cermin dari budaya, bahkan peradaban bangsanya.

Suporter Jepang yang sukarela membersihkan sampah di stadion setelah pertandingan berakhir memperoleh respek besar. Dalam Piala Dunia Brasil, Rusia, ataupun Qatar, perilaku suporter Jepang telah berhasil mencuri cinta dan spotlight media. Di salah satu akun Facebook yang diunggah Japan Inside serta cicitan di Twitter, mayoritas netizen memberi kredit sangat positif. Kosakata, seperti ‘respect’, ‘love Japan’, ‘incredible Japan’, dan sebutan apresiasi lain terus mengalir gegara perilaku suporter dalam urusan sampah itu. Media-media massa tradisional pun tidak luput menggambarkan budaya bersih suporter Jepang dalam nada impresif.

Menjadi negara besar dan kuat itu tentu penting. Namun, menjadi negara yang dicintai juga tidak kalah pentingnya. Sepak bola dalam taraf tertentu menjadi duta suatu bangsa. Meski esensi sepak bola merupakan olahraga (dan bisnis), pesta bola telah memberi tempat eksploitasi diplomasi publik suatu negara. Penyelenggara, tim, dan suporter bola ialah pelaku esensial diplomasi. Mereka ikut berkontribusi bagi soft power suatu negara.

BERITA TERKAIT