09 October 2022, 06:00 WIB

Cuaca


Adiyanto Wartawan Media Indonesia |

SUDAH dua kali dalam sepekan terakhir ini saya terjebak hujan. Sebagai pemotor, seharusnya saya selalu menyiapkan mantel saat musim penghujan seperti sekarang ini. Inilah kelalaian saya, tidak memperhitungkan faktor cuaca sebelum berangkat. Selain membuang waktu (lantaran harus berteduh), juga buang-buang uang karena putri saya yang berboncengan terpaksa harus berganti kendaraan dengan taksi online karena takut terlambat kuliah.

Permasalahan yang saya alami tentu cuma riak kecil dari problematika yang dihadapi manusia akibat faktor cuaca. Robohnya tembok sebuah madrasah di Jakarta Selatan yang menewaskan tiga orang siswa pada beberapa hari lalu ialah amsal lainnya. Begitu juga banjir besar di Pakistan yang terjadi belum lama ini. Bagi yang tempat tinggalnya di kawasan rawan banjir, mungkin bisa lebih fasih menyebutkan dampak turunannya. Dari sejumlah perabot yang rusak hingga terkena diare dan gatal-gatal.

Cuaca memang tidak bisa dianggap biasa-biasa saja. Sepanjang sejarah, ia bahkan ditakuti dan dihormati karena pengaruhnya yang besar terhadap makhluk hidup. Makanya, ada dewa dalam berbagai mitologi, dari bangsa Aztek, Mesir, hingga Yunani, yang berhubungan dengan petir, guntur, dan sebagainya. Di era yang lebih modern, cuaca tidak hanya memengaruhi sistem pertanian. Ia juga berdampak pada aktivitas keseharian, termasuk cara kita dalam berbusana. Cuaca juga memainkan peran penting dalam masalah identitas budaya, konsep waktu (makanya ada istilah musim semi, musim gugur, musim dingin, dll) serta memengaruhi pembangunan ekonomi secara luas.

Mungkin lantaran telah menjadi bagian dari rutinitas kita sehari-hari sehingga banyak dari kita kini alpa betapa besarnya kekuatan faktor ini dalam membentuk budaya dan peradaban manusia. Sering menganggap sepele. Dengan semakin meningkatnya pemanasan global dan pola iklim yang tidak karuan, kesadaran dan pemahaman kita tentang cuaca seharusnya menjadi penting. Informasi seputar cuaca yang disiarkan BMKG saban hari seharusnya tidak kalah krusialnya seperti berita seputar Rizky Billar. Memantau IG atau Twitter BMKG atau BNPB kiranya lebih berfaedah daripada melototi akun Tiktok infotaintment.

Mungkin pada musim penghujan seperti sekarang ini salah satu hal pertama yang mesti kita lakukan setiap pagi ialah melihat ke luar jendela untuk melihat seperti apa kondisi cuacanya. Melihat ke luar dan mendengarkan atau membaca ramalan cuaca hari ini membantu kita memutuskan pakaian apa yang akan kita pakai dan bahkan mungkin moda transportasi apa yang akan kita gunakan sepanjang hari nanti. Jangan seperti saya yang abai membawa jas hujan.

Cuaca memengaruhi kita dalam banyak hal. Perubahan cuaca dari hari ke hari dapat memengaruhi perasaan dan cara kita melihat dunia. Cuaca buruk, seperti angin topan, badai petir, badai salju, dan sebagainya, dapat mengganggu kehidupan banyak orang karena kerusakan yang ditimbulkannya. Kita biasanya memikirkan cuaca di lingkungan kita sendiri. Padahal, ibarat kerikil, ia dapat memengaruhi air yang jauh dari tempat kerikil itu dijatuhkan. Cuaca buruk di Bogor, misalnya, dapat memengaruhi mereka yang tinggal di Depok, Jakarta, dan Bekasi karena dampak yang ditimbulkannya. Begitu pun suhu yang memanas di kutub utara dapat berpengaruh ke wilayah di belahan dunia lainnya.

Sejauh ini, kita mungkin masih belum sadar tentang pentingnya mengamati perubahan pola cuaca, baik di lingkungan sekitar maupun global karena barangkali dampaknya belum begitu terasa. Padahal, bukankah pandemi covid-19 yang telah menimbulkan krisis di berbagai belahan dunia dipicu lantaran seseorang yang batuk di Wuhan? Seharusnya, begitu pula mungkin cara kita melihat dan mengamati fenomena cuaca. Jangan cuma sibuk saling menyalahkan ketika bencana telah terjadi.

BERITA TERKAIT