29 September 2022, 05:00 WIB

Bersama Hadapi Perfect Long Storm


Suryopratomo Dubes RI untuk Singapura |

ANI Ema Susanti hingga 2003 masih tercatat sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di Hong Kong. Menjadi PMI tentu bukan pekerjaan yang hina. Namun, Ema berpandangan bahwa tidak mungkin selamanya ia menjadi PMI.

Ketika kembali ke Tanah Air, Ema mencoba mencari profesi yang lebih cocok untuk dirinya. Pada 2007 ia tertarik dengan tantangan untuk mengikuti lomba film dokumenter Eagle Awards yang diadakan Metro TV. Meski belum mengenal dunia sinematografi, Ema memberanikan diri untuk menulis naskah dalam lomba film dokumenter yang temanya ia masih ingat, yakni Hitam-putih Indonesia.

Ternyata, bakat menulis naskah yang Ema miliki memancing tim juri untuk meloloskan karyanya untuk dijadikan salah satu film dokumenter. Ia mampu menuangkan perjuangan para PMI di Hong Kong menjadi sebuah kisah nyata yang menyentuh. Empat bulan pelatihan yang diberikan Tim Eagle Awards membukakan wawasan Ema tentang sinematografi dan itulah yang menjadi titik balik kehidupannya.

Ema kemudian memilih untuk tidak kembali ke Hong Kong sebagai PMI, tetapi menekuni dunia sinematografi. Perjalanan selama 15 tahun membawa dirinya kemudian menjadi sutradara. Film pertama yang dibuatnya berjudul Glo: Kaulah Cahaya. Ia berharap film karyanya akan segera tayang di bioskop di seluruh Tanah Air dan juga internasional, serta diterima oleh khalayak ramai.

Perjalanan hidup Ema merupakan cerminan dari sikap pantang menyerah yang harus dimiliki oleh semua orang. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan sepanjang ada kemauan. Setiap orang harus mempunyai kemauan untuk berubah karena tidak ada yang pernah bisa mengubah nasib seseorang kecuali dirinya sendiri.

Pesan itu menjadi lebih relevan jika ditempatkan dalam konteks kehidupan sekarang ini. Dunia sedang mengalami perubahan yang luar biasa. Tantangan yang harus bisa dijawab semua bangsa di dunia dan belum pernah terjadi sebelumnya. Menteri Senior Singapura Tharman Shanmugaratnam bahkan menyebutkan sebagai ‘perfect long storm’ atau ‘badai panjang yang sempurna’.

 

Mengapa?

Tentu menjadi pertanyaan, mengapa kondisi yang dihadapi sekarang pantas disebut sebagai ‘perfect long storm’. Menurut Tharman, semua itu karena persoalannya datang secara bersamaan, dengan kadar yang berat serta mengglobal. Tidak ada satu pun negara yang bisa menghindar dari situasi ini. Bayangkan, selama dua tahun lebih semua negara harus berjibaku untuk selamat dari pandemi covid-19. Ketika semua sedang berupaya melakukan pemulihan, pada Februari 2022 terjadi perang di Ukraina. Setelah tujuh bulan berlalu tidak ada tanda-tanda perang akan segera berakhir.

Sanksi ekonomi yang dijatuhkan negara Barat kepada Rusia, yang dianggap sebagai pemicu perang, dibalas dengan penghentian penjualan minyak ke Eropa. Ukraina yang dikenal sebagai basis produksi pangan dan bahan baku pupuk diblokade Rusia sehingga terhenti ekspornya.

Terganggunya pasokan energi membuat harga minyak dunia meningkat sampai US$100 per barel. Terhentinya ekspor gandum dari Ukraina membuat krisis pangan terjadi di banyak negara di dunia. Banyak bangsa di dunia yang dihadapkan pada kelaparan.

Krisis energi dan krisis pangan menyebabkan inflasi merangkak naik. Negara-negara Eropa seperti Inggris, angka inflasinya menembus dua digit. Amerika Serikat, yang tingkat inflasinya selalu rendah, kini mendekati 9%.

Semua negara mulai menyadari bahwa era inflasi dan suku bunga rendah sudah berakhir. AS mengambil kebijakan pengendalian inflasi dengan menaikkan tingkat suku bunga. Bahkan, tingkat kenaikannya Rabu (20/9) tidak tanggung-tanggung mencapai 75 basis poin untuk mencapai Fed fund range target 3,00% hingga 3,25%.

Federal Reserve dalam pertemuan terakhir menyampaikan bahwa pihaknya tidak akan ragu untuk menaikkan lagi tingkat suku bunga guna menurunkan tingkat inflasi di AS hingga 2%. Tahun ini bank sentral AS berpotensi untuk menaikkan lagi tingkat suku bunga sebesar 100 basis poin dan di 2023 sebesar 25 basis poin. Baru pada 2024 dan 2025 tingkat suku bunga akan diturunkan kembali apabila target inflasi 2% bisa tercapai.

Dalam ekonomi yang saling tergantung dan berhubungan, tidak mungkin negara lain tidak ikut menaikkan tingkat suku bunganya. Keputusan Bank Indonesia untuk menaikkan BI rate sebesar 50 basis poin merupakan keputusan yang wajar untuk menyelamatkan nilai tukar rupiah. Karena, ekspektasi pasar yang menunggu besaran tingkat kenaikan suku bunga yang diumumkan Federal Reserve sempat membuat rupiah menembus Rp15.000 per dolar AS.

Bank Dunia maupun Dana Moneter Internasional seharusnya bertindak untuk mencegah jangan sampai terjadi perang suku bunga karena akan memorak-perandakan ekonomi dunia. Tetapi, era multilateralisme yang sudah berjalan lebih 75 tahun mulai surut perannya sehingga sulit bagi kedua lembaga keuangan dunia tersebut untuk mengingatkan setiap negara agar tidak menyelamatkan diri sendiri-sendiri.

Kebijakan drastis yang diambil negara-negara Barat otomatis akan berpengaruh pada kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Dengan tingkat suku bunga yang tinggi, bukan hanya pasar modal yang akan menghadapi tekanan, tingkat investasi juga akan menurun. Dengan terbatasnya investasi, maka lapangan kerja akan semakin berkurang, padahal setiap orang sedang mengharapkan mendapat pekerjaan setelah didera pandemi.

Kondisi ini diperparah oleh perubahan iklim yang ekstrem terjadi. Di California, AS, tiba-tiba hutan bisa terbakar karena musim kering yang luar biasa. Sungai Yangtze di Tiongkok bisa sampai kering dan dasar sungainya bisa dipakai orang berjalan-jalan. Sementara di Pakistan, banjir besar membuat banyak warga kehilangan tempat tinggal dan tanaman pertanian rusak.

Perubahan iklim yang sedang terjadi ini dikhawatirkan akan memicu munculnya pandemi baru yang lebih cepat tiba. Ketidakseimbangan alam membuat lebih mudah terjadinya mutasi virus maupun bakteri, dan itu akan berpengaruh terhadap kehidupan umat manusia.

Satu lagi yang membuat persoalan menjadi lebih sempurna ialah ketegangan antara AS dan Tiongkok. Isu Taiwan bisa memancing muncul perang baru, apabila persaingan di antara kedua negara adidaya ini tidak mampu dikendalikan.

 

Kolaborasi dan inovasi

Saat memberikan leadership lecture di Singapore Management University pekan lalu, Menteri Tharman mengingatkan, di tengah pesimisme yang dirasakan, kita harus tetap membangun optimisme. Kenyataannya, masih banyak hal yang pantas membuat kita optimistis. Tharman misalnya menyebutkan kesigapan lembaga riset Blue Lab untuk menemukan vaksin yang siap dipakai dalam menghadapi pandemi baru yang diperkirakan datang lebih awal.

Kemampuan setiap negara untuk melakukan investasi pada sumber daya manusia menjadi sangat penting. Semua harus bisa menghindarkan masuk dalam perangkap learning poverty, yakni kondisi di saat rakyat di sebuah negara tidak mampu membiayai anak-anaknya untuk belajar di sekolah.

Sekarang ini, sekitar 50% negara di dunia dihadapkan pada learning poverty. Ini akan sangat membahayakan masa depan dunia karena akan menciptakan kebodohan yang sistemik, padahal kita sedang berada di era yang penuh dengan kesempatan.

Investasi manusia akan menentukan sebuah negara untuk bisa melakukan berbagai inovasi. Di tengah situasi perfect long storm seperti sekarang ini, hanya bangsa yang mampu melakukan inovasi yang bisa keluar dari kesulitan.

Tentu yang tidak kalah penting dilakukan ialah kolaborasi. Seperti di era inflasi dan suku bunga tinggi seperti sekarang ini, dibutuhkan adanya kerja sama di antara negara-negara di dunia. Sikap egois akan membuyarkan semua upaya keluar dari kondisi perfect long strom seperti sekarang ini. Bahkan, salah-salah akan menarik persoalan yang dihadapi semakin dalam lagi.

Kolaborasi juga dibutuhkan untuk menyelesaikan keterbatasan energi maupun pangan. Menteri Tharman melihat rendahnya investasi, baik untuk eksplorasi energi fosil maupun pengembangan energi terbarukan sebagai penyebab krisis energi yang terjadi sekarang ini.

Kita di Indonesia merasakan rendahnya tingkat investasi di bidang energi. Penemuan ladang minyak dan gas terakhir terjadi pada 2002 ketika ditemukan Blok Masela. Bahkan, setelah 20 tahun ditemukan, ladang minyak dan gas itu belum juga dieksploitasi.

Akibatnya, ketika dunia sedang dihadapkan pada krisis energi, Blok Masela tidak mampu memberikan benefit apa pun kepada Indonesia. Padahal kalaupun tidak diekspor, cadangan minyak dan gas yang ada bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri.

 

Akan panjang

Situasi yang terjadi sekarang ini menjadi riskan karena penyelesaiannya tidak mungkin berlangsung cepat. Perfect strom ini akan berlangsung lama karena dibutuhkan waktu untuk mencapai titik ekuilibrium yang baru.

Penurunan harga minyak dunia tidak mungkin terjadi tanpa ada tambahan pasokan minyak ke pasar. Kalaupun investasi di sektor migas mau dilakukan sekarang, dibutuhkan waktu minimal 10 tahun ke depan untuk bisa mulai menghasilkan.

Apalagi kalau kita bicara soal penemuan energi terbarukan. Dibutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai harga keekonomian yang bisa dijangkau oleh masyarakat.

Hal yang sama dihadapi dalam penyelesaian krisis pangan. Penambahan pasokan pangan dunia tidak cukup dilakukan dengan menambah luasan lahan, tetapi juga berkaitan dengan lokasi yang cocok bagi tumbuhnya tanaman pangan yang dibutuhkan, teknologi yang bisa meningkatkan produktivitas, serta ketersediaan pupuk untuk menjaga kesuburan lahan.

Semua persoalan yang kita hadapi sekarang ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengeluh, apalagi dengan marah-marah. Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi disambut dengan demonstrasi di banyak kota di Indonesia. Mahasiswa turun ke jalan sambil memblokade jalan, membakar ban, bahkan merusak fasilitas publik.

Kebebasan berekspresi memang merupakan bagian dari demokrasi. Akan tetapi, ketika kebebasan dilakukan dengan merusak, sebenarnya kita bukan sedang menerapkan demokrasi, tetapi anarki.

Pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin yang hanya tinggal satu setengah tahun sebenarnya bisa memilih untuk tidak menaikkan harga BBM. Itu pasti akan membantu Presiden Jokowi mempertahankan popularitasnya.

Namun, celakalah negeri ini kalau pemimpinnya hanya sekadar mencari popularitas. Di tengah harga minyak yang membubung tinggi, penerapan kebijakan harga BBM murah akan melambungkan angka subsidi. Ketika anggaran negara habis dipakai untuk subsidi BBM, banyak kepentingan lain yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat yang akan dikorbankan.

Kalau pilihan itu yang kita ambil, situasinya justru akan dimanfaatkan oleh para spekulan. Termasuk pemain pasar uang yang sedang mencari kesempatan mengeruk keuntungan di tengah kesempitan. Nilai tukar rupiah pasti akan terdepresiasi karena para spekulan tahu, anggaran negara tidak mungkin mampu terus menopang kenaikan angka subsidi. Ketika nilai tukar rupiah tertekan, inflasi akan ikut terkerek naik, terutama untuk barang konsumsi yang masih banyak harus kita impor.

Dalam situasi seperti sekarang, yang paling dibutuhkan ialah berpikir sehat, membangun trust di antara pemangku kepentingan, dan menjauhkan diri dari sikap syak asangka. Sebab, hanya dengan berpikir logis akan ditemukan inovasi untuk menemukan cara paling efektif keluar dari perfect long storm ini.

Kita harus paham bahwa kita tinggal di kawasan yang peluang tumbuhnya paling besar. Sebab, jumlah penduduk di ASEAN sekitar 8% dari jumlah penduduk dunia, tetapi kontribusi produk domestik brutonya terhadap PDB dunia baru 4%. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan emas ini. Kalau Ani Ema Susanti bisa, seharusnya semua bisa untuk menggapai mimpi yang lebih besar.

BERITA TERKAIT