27 September 2022, 05:00 WIB

Membangkitkan Peradaban Umat Refleksi Gagasan Prof Azyumardi Azra


Sudarnoto Abdul Hakim Lektor Kepala FAH UIN Jakarta, junior Prof Azra |

KEPULANGAN abadi Prof Azyumardi Azra (para juniornya sering memanggilnya Kak Edi dan Bang Edi) meninggalkan duka yang sangat mandalam. Begitu banyak yang menangisi dan merasa kehilangan, tidak saja keluarga tercintanya, tetapi juga umat dan kalangan masyarakat internasional. Begitu banyak yang merasa memiliki Prof Azra karena, dalam bahasa agama, amalnya begitu besar mengalir dan dirasakan begitu banyak kalangan masyarakat, baik di dalam maupun luar negeri.

Perhatian dan perjuangannya menjangkau area yang begitu luas dan benar-benar dirasakan. Di wilayah yang begitu luas itulah, Prof Azra memainkan peran-peran pentingnya. Ia ajak masyarakat untuk membaca secara baik dan mengambil ibroh (pelajaran) dari jejak sejarah dan peradaban yang telah dibangun umat, dengan penuh dedikasi.

Karya awalnya yang sangat komprehensif dan fenomenal, yaitu Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia, telah berhasil mengajukan kritik dan melengkapi pandangan para sarjana Barat saat mereka menjelaskan relasi Indonesia-Timur Tengah. Dengan menggunakan social and intellectual history, Prof Azra berhasil menunjukkan bahwa masih banyak yang luput dari perhatian mereka.

Sejak karya besarnya itu, Prof Azra menjadi juru bicara yang paling otoritatif di banyak forum dunia, termasuk melalui karya-karya berikutnya tentang Islam dan Indonesia, dalam pengertiannya yang luas hingga akhir hayatnya. Ia tidak saja sekadar menjelaskan fakta-fakta historis yang selama ini diabaikan banyak sarjana dan peneliti, tetapi juga menjelaskan berbagai peristiwa dan problem kontemporer yang dihadapi bangsa Indonesia dan problem global lainnya yang begitu kompleks.

Dalam waktu yang bersamaan, ia juga tawarkan model solusi yang ia percayai tepat, yaitu washatiyatul Islam. Bersama sahabat karibnya, Prof Din Syamsuddin, gagasan besar itu terus bergulir dan menjadi magnet di mana-mana dan memperoleh makna relevansinya saat ini, dan dalam masa-masa panjang ke depan. Prof Azra telah memulai debut intelektualnya secara brilliant melalui Jaringan Ulama dan mengakhirinya dengan bernas dan husnulkhatimah melalui makalahnya Nusantara untuk Kebangkitan Peradaban: Memperkuat Optimisme dan Peran Umat Islam Asia Tenggara.

Jelas sekali wejangan dan spirit tulisan pemungkasnya, bahwa semua kita harus selalu optimistis menyongsong, menyiapkan, dan membangkitkan sebuah peradaban besar. Pusatnya di Asia Tenggara dan aktor utamanya ialah umat Islam. Mengapa? Hemat penulis, karena dia sangat menyadari betul bahwa peradaban dunia saat ini sedang mulai lunglai karena tercabik-cabik oleh berbagai kekisruhan, perusakan, dan kehancuran, bahkan juga yang dialami negara-negara muslim.

Potensi dan ruang untuk membangkitkan peradaban ini terbuka, tetapi belum bisa diwujudkan, bahkan menurutnya masih menjadi liabilities. Yang juga ironis, karena berbagai keterbatasan dan kesulitan yang dihadapi, dunia Islam (penguasa negara-negara muslim) cenderung bermental konspiratif. Mental konspiratif itu mendorong para penguasa negara-negara muslim berkolaborasi dengan Barat mengembangkan ekonomi pasar liberal, misalnya, dengan mengorbankan potensi ekonomi yang dimiliki masyarakat muslim. Karena itu, tetap saja negara-negara muslim harus menghadapi masalah dan berbagai kesulitan akut, 'terpenjara dalam enclosed mind atau captive mind'. Begitu peringatan Prof Azra.

 

Duta washatiyatul Islam

Peradaban besar dan kuat yang berbasis kepada prinsip dan nilai-nilai agama harus dibangun untuk rahmatan lil 'alamin. Itulah, sebagaimana sering dikatakan Prof Azra dan banyak tokoh dan pemimpin lainnya, misi kerahmatan Islam menjadi sangat kompatibel dengan kebutuhan universal kemanusiaan. Dengan demikian, sekularisme (dan berbagai pandangan dunia, filosofi atau ideologi Barat lainnya), ateisme, dan bahkan islamisme sekalipun tidaklah cocok menjadi landasan peradaban, khususnya di Indonesia, karena memang diyakini rapuh.

Indonesia telah berhasil menyelesaikan benturan ideologi-idologi tersebut dengan merumuskan Pancasila. Islam, yang kemudian diyakini bersesuaian dengan kebutuhan masyarakat ini, bukanlah islamisme, melainkan washatiyatul Islam, dan itu sangat sejalan dengan Pancasila. Prinsip atau nilai washatiyatul Islam, sebagaimana yang kemudian dirumuskan dalam Bogor Message on Washatiyah Islam, dengan Prof Azra menjadi salah seorang yang mewarnai perumusan konsepnya, terdiri dari tujuh, yaitu tawasuth, i’tidal, tasamuh, syura, islah, qudwah, dan muwathonah.

Kemudian, para ulama dunia dalam pertemuan Bogor tersebut berkomitmen mempromosikan gerakan washatiyatul Islam ke seluruh dunia demi membangun ummatan wasatan sebuah masyarakat yang adil, makmur, damai, inklusif, dan harmonis berdasarkan kepada ajaran Islam dan moralitas. Dalam keyakinan Prof Azra, Prof Din, dan semua yang mendukung washatiyatul, Islam sangatlah kompatibel, misalnya, dengan cita-cita dan gagasan dasar tentang demokrasi, kemanusiaan, keadilan, perdamaian, kesederajatan, gender equity, keselamatan lingkungan, dan bahkan, dengan konsep negara modern dan penguatan civil society.

Dalam bingkai itulah, Prof Azra, sebagaimana Prof Din, sangat berkepentingan mempertemukan agama dan peradaban dunia yang berbeda, untuk memberikan respons dan jalan ke depan dunia yang lebih sejahtera, adil, dan damai. Isu itulah yang sering secara ekstensif disampaikan Prof Azra dan disimak di mana-mana. Dia memang duta washatiyatul Islam.

 

Centre of excellence

Salah satu pilar lain yang sering dikemukakan Prof Azra ialah centre of excellence. Berdasarkan kepada pengalaman mobilitas sosial keagamaan dan intelektual para ulama Timur Tengah dan Nusantara, sebagaimana yang dia urai di karyanya, Jaringan Ulama, Prof Azra menegaskan keharusan umat Islam untuk memiliki pusat-pusat keunggulan Islam pasca-Haramain (Mekah dan Madinah) yang berwibawa dan menjadi trend-setters.

Di pusat-pusat unggulan itulah, bertemu dan berkumpulnya kaum terpelajar (scholars, ulama, peneliti), untuk melakukan intellectual reproduction secara inovatif dan ekstensif, melahirkan kaum terpelajar baru secara berkesinambungan, dan mengembangkan program-program scholarship serta global networks. Pasca-Haramain, Mesir, dan sejumlah pusat studi Islam lainnya, Indonesia seharusnya mampu tampil sebagai a leading muslim world, dengan pusat-pusat keunggulan benar-benar bekerja. Jika tidak, peran itu akan diambil alih oleh pusat-pusat keunggulan Islam justru di negara-negara nonmuslim. Itu benar-benar sudah terjadi, seiring dengan berkembangnya orientalisme.

Untuk sekadar menyebut, beberapa pusat keunggulan atau pusat studi Islam di Barat ialah School of Oriental and African Studies (SOAS) di Inggris, Middle Eastern Studies di sejumlah universitas di Amerika seperti di Chicago dan Los Angeles, dan The Institute of Islamic Studies di Universitas McGill, Montreal, Kanada. Masih banyak pusat kajian Islam kaliber dunia di banyak wilayah nonmuslim dan di situ jugalah banyak santri Indonesia menempa diri melalui berbagai program scholarship. Hasil riset para sarjana dari pusat-pusat unggulan Islam di Barat itu tersebar secara ekstensif, di banyak jurnal international.

    Keresahan Prof Azra atas terjadinya pelemahan peran-peran intelektual di dunia Islam itu tak bisa ditutupi. Karena itulah, dia menyediakan dirinya untuk bekerja tekun melakukan transformasi lembaga pendidikan Islam, khususnya di tingkat perguruan tinggi. Ia menjadi wakil rektor, rektor, dan direktur SPS IAIN/UIN Jakarta. Ia dedikasikan diri bertahun-tahun untuk projek transformasi IAIN Jakarta agar perguruan tinggi itu ke depan benar-benar menjadi pusat unggulan yang besar dan berwibawa mengejar kemajuan pusat-pusat studi Islam di Barat.

Membutuhkan waktu dan perhatian serius untuk itu. Pikiran-pikiran besarnya dia share ke tim yang kuat agar ini menjadi kerja kolektif. Salah seorang anggota tim yang sangat mengerti gagasan besar Prof Azra dan kemudian menerjemahkan melalui kerja-kerja konkret, sistematis, dan terukur ialah (alm) Prof Suwito. Duet Azra-Wito itu sangat fenomenal. Satu periode kepemimpinannya (pascaperiode Harun Nasution dan Quraish Shihab) berhasil melakukan langkah menjadikan IAIN dengan mandat yang diperluas, IAIN with a wider mandate.

Di era itu, IAIN mulai membuka dan mengembangkan ilmu-ilmu yang selama ini dianggap sebagai ilmu umum dan sekular, yaitu kedokteran, sains, dan teknologi, kemudian berkembang ekonomi dan ilmu-ilmu sosial. Seiring dengan itu, perdebatan terkait dengan program integrasi keilmuan, yang kemudian juga dilakukan di IAIN Yogyakarta dan Malang, tak terhindarkan. Sama dengan transformasi ADIA-IAIN-IAIN with a wider mandate dan UIN, soal integrasi keilmuan ini juga membutuhkan perhatian serius, kerja konkret dan terukur, dan membutuhkan waktu lama. Integrasi itu belum selesai hari ini, begitu juga penguatan UIN sebagai centre of excellence juga masih belum sempurna.

Banyak yang menunggu kesuksesan para pelanjutnya, mewujudkan UIN sebagai centre of excellence hingga hari ini. Alih-alih mengungguli persaingan dengan perguruan tinggi lain, mereka konon justru meredup dan mulai kehilangan elan vital. Jika ini benar, hemat penulis, ada beberapa faktor yang ikut menentukan arah UIN. Di antara faktor itu ialah kebijakan pemerintah yang kurang mendukung percepatan transformasi, faktor internal leadership kampus yang, karena efek kebijakan pemerintah, menjadi sangat pragmatis dan tidak mendukung akselerasi transformasi, dan faktor melemahnya tradisi intelektual kampus sehingga tidak produktif. Sebab itu, memang benar-benar diperlukan langkah afirmatif untuk membangun centre of excellence ini, tidak bisa mengandalkan dengan cara-cara kerja biasa.

    Kehadiran UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia) yang periode formative kali ini dipimpin senior Prof Azra, yaitu Prof Komaruddin Hidayat, bisa diharapkan menjadi alternatif kebuntuan (jika boleh menyebut begitu), untuk mewujudkan mimpi lama centre of excellence. Itu projek afirmatif yang sangat penting. Prof Komar dan timnya di UIII (terutama yang berasal dari IAIN dan UIN), sangat mengerti dan merasakan dinamika panjang proses transformasi ini, terlibat secara langsung dalam perdebatan soal transformasi, dan ke mana arah ke depan dalam konteks tantangan global.

Penulis, yang juga pernah terlibat di dalam arus ini selama beberapa tahun, kini panjatkan doa berharap agar mimpi centre of excellence di Indonesia ini terwujud. Gagasan besar Prof Azra terus dilanjutkan sehingga ke depan berhasil membangun sebuah peradaban agung (great civilization) untuk rahmatan lil 'alamin. Ini juga bagian kecil dari gerakan washatiyatul Islam. Wasiat terakhir Prof Azra sangat patut direnungkan, yaitu umat jangan terpenjara dalam 'enclosed mind atau captive mind' Wallahu a’lam.

BERITA TERKAIT