18 September 2022, 05:00 WIB

Selepas Pandemi


Adiyanto Wartawan Media Indonesia |

SUATU ketika kawan saya mengeluh tentang Jakarta yang macet. “Pandemi reda, kok lalu lintas kembali seperti semula (macet). Apa mereka gak belajar dari pandemi?” sungutnya. Maksud kawan saya, dulu sewaktu wabah ini pertama kali merebak dan sebagian dari kita diharuskan bekerja dan belajar dari rumah, lalu lintas lengang. Langit pun bersih. “Kalau semrawut seperti ini lagi, berarti orang-orang itu memang tidak belajar dari pandemi,” ujarnya.

Belum lama ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pandemi covid-19 segera berakhir. Indikatornya, jumlah yang terinfeksi semakin melandai dan tidak lagi mematikan. Pertanyaan besarnya, so what? Apa yang akan kita lakukan ke depannya?

Jika mengacu apa yang dikeluhkan kawan saya tadi, kabar yang disampaikan WHO itu rasanya tidak bermakna apa-apa dan hanya mengundang rasa pesimis.

Gagasan bahwa manusia ialah bagian tak terpisahkan dari alam tampaknya telah dilupakan oleh masyarakat kita yang katanya canggih ini. Mereka lupa atau mungkin kurang menyadari bahwa polusi, cadangan energi fosil yang kian menipis, meningkatnya suhu, atau bahkan wabah yang telah merepotkan dalam dua tahun terakhir ini, secara langsung ataupun tidak, dipengaruhi oleh aktivitas kita sehari-hari.

Padahal, melalui wabah ini, alam sejatinya telah mengingatkan kita soal itu. Degradasi lingkungan telah meningkatkan risiko pandemi. Virus korona yang telah beberapa kali bermutasi, menurut para ahli, muncul dan meningkat melalui interaksi yang kompleks dengan beberapa faktor, seperti gangguan ekosistem, urbanisasi, pola konsumsi, perjalanan internasional, dan perubahan iklim.

Kabar baiknya, pandemi sejatinya juga telah menunjukkan bahwa masyarakat kita sebenarnya memiliki potensi besar untuk bertindak kolektif dan melakukan perubahan ketika menghadapi keadaan darurat. Contohnya, seperti yang diutarakan kawan saya tadi mengenai belajar dan bekerja dari rumah. Hal itu seharusnya bisa terus dilakukan ketika wabah ini berakhir. Minimal dilakukan secara hibrida, bergantian. Toh, kemarin-kemarin bisa dan memungkinkan berkat kecanggihan teknologi. Pola ekonomi ataupun pendidikan memang sudah saatnya menyesuaikan zaman agar pembangunan tetap berkelanjutan. Ini tantangan bagi kita semua, terutama para pemangku kepentingan.

Kesehatan manusia dan integritas lingkungan saling terkait. Transisi menuju masyarakat dan ekonomi yang sustain (berkelanjutan) diperlukan untuk melindungi kesehatan manusia.

Untuk membangun peradaban pascapandemi menjadi lebih baik, masyarakat dan pemerintah harus merenungkan apa yang semestinya dilakukan. Tidak bisa lagi dengan cara atau pola lama. Bukankah ini era new normal? Membenahi infrastruktur kesehatan mendesak dilakukan.

Setelah pandemi influenza A (H1N1) pada 2009 lalu, WHO memperingatkan bahwa dunia bakal tidak siap untuk menanggapi pandemi parah yang mengancam kesehatan masyarakat dan itu terbukti benar. Dua tahun terakhir ini, dunia dibuat porak-poranda lantaran korona. Masak kita harus kembali terjerembab di lubang yang sama? Ingat tantangan ke depan semakin berat. Selain patogen, masalah geopolitik, krisis energi dan pangan, keamanan digital, dan perubahan iklim, merupakan ancaman nyata. Kita tidak bisa lagi bertindak dengan cara yang biasa-biasa saja. Sudah saatnya pola pikir kita berubah.

BERITA TERKAIT