28 August 2022, 05:00 WIB

Urban Farming


Adiyanto Wartawan Media Indonesia |

DUNIA dihantui krisis pangan dan energi. Begitu menurut berita yang sering kita baca dan dengar akhir-akhir ini. Sejumlah media, terutama dari Barat, gencar menuding perang Rusia-Ukraina sebagai pemicu krisis tersebut. Betulkah demikian? Ya embuh. Namanya juga berita, bisa di-framing. Biarlah itu jadi urusan para elite yang bertikai. Rusia dan Ukraina pastinya juga ogah disebut sebagai biang kerok.

Menurut saya, hal paling penting saat ini bukan mencari apa dan siapa pemicunya, melainkan apa langkah antisipasi dan solusinya, baik skala lokal maupun global. Apalagi, iklim juga semakin tidak keruan. Berbagai bencana semakin sering terjadi, dari kebakaran hutan, banjir, hingga tanah longsor. Itu fakta dan bukan cuma terjadi di Filipina, Amerika, atau Australia, melainkan juga di depan mata kita. Bencana-bencana itu juga berpotensi memicu kerawanan pangan.

Ketimbang membicarakan perang, mending kita diskusikan lagi konsep urban farming. Sebuah studi yang baru-baru ini diterbitkan para peneliti di Universitas Lancaster, Inggris, menunjukkan dalam banyak studi kasus konsep urban farming bisa berjalan produktif. Hasil penelitian terbaru yang diterbitkan pada jurnal Earth's Future, Rabu (24/8), menunjukkan teknik berkebun urban farming, termasuk sistem hidroponik dan pertanian vertikal atau indoor farming, dapat menghasilkan produksi yang sama dengan sistem pertanian tradisional di daerah perdesaan.

Konsep semacam itu disebut sebagai cara yang cocok untuk pertanian di masa depan. Apalagi data Bank Dunia menyebut sebanyak 56% populasi dunia saat ini tinggal di perkotaan. Angka itu diperkirakan meningkat hingga 70% pada 2050. Dengan semakin menyusutnya lahan, para peneliti meyakini konsep pertanian semacam itu (urban farming) juga bisa jadi solusi untuk mengatasi kerawanan pangan. Mereka menemukan ada beberapa jenis tanaman di perkotaan bisa menghasilkan jumlah panen dua hingga empat kali lipat lebih banyak daripada yang ditanam di perdesaan. Contohnya mentimun, sayuran berakar, serta selada.

Di Indonesia, konsep pertanian semacam itu sebetulnya juga mulai digemari, terutama pada masa pandemi covid-19. Selain tanaman hias, masyarakat banyak menanam sayuran seperti selada dan kangkung. Seorang kawan saya yang wartawan bahkan menanam tomat di balkon atap rumahnya. Menurut Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto, seperti dikutip dari laman Kementerian Pertanian, sejak urban farming menjadi tren, penjualan benih hortikultura meningkat hingga lima kali lipat. Fenomena itu juga memunculkan petani-petani tanaman dari kalangan milenial yang sukses.

Di tengah ancaman krisis pangan, alangkah baiknya sekiranya konsep urban farming itu terus digencarkan. Jangan sekadar tren saat pandemi. Alangkah elok itu menjadi bagian gaya hidup sehari-hari. Warga bisa memanfaatkan lahan di pekarangan, balkon rumah/apartemen, atau taman komunitas di lingkungan perumahan, untuk menanam buah atau sayuran yang tidak memerlukan masa tanam panjang, seperti cabai, tomat, atau mentimun. Lumayan, kan, buat lalapan?

Selain itu, program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang dibuat Kementan di sejumlah kota sebaiknya terus dijalankan dengan pendampingan dan pelatihan dari para ahli/penyuluh pertanian kepada warga dan komunitas-komunitas. Dengan begitu, masyarakat nantinya bisa mencukupi kebutuhan pangan keluarga mereka sendiri. Minimal, mereka tidak lagi teriak ketika harga cabai rawit dan keriting mahal.

BERITA TERKAIT