08 August 2022, 23:20 WIB

Citayam Fashion Week, Masihkah Efektif Jadi Ajang Promosi


Diah Ayu Candraningrum, Dosen Fikomi Universitas Tarumanagara, Mahasiswa Program Doktor Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI  |

AJANG anak muda ngumpul dan nongkrong di sekitar Stasiun Dukuh Atas, Jakarta Pusat sudah lama ada. Namun nama Citayam Fashion Week (CFW) baru populer belakangan ini, sejak anak-anak muda asal daerah Citayam, Bojong Gede, dan Depok mulai menggelar peragaan busana di areal dekat jalan Sudirman. 

Bonge, Kurma, Jeje, dan Roy Citayam merupakan nama-nama beken yang dianggap sebagai pelopor munculnya nama CFW tersebut. Profil, tingkah-laku dan penampilan mereka menjadi fokus pemberitaan media. Dari semula hanya sebagai narasumber untuk keperluan konten para content creator yang biasa nongkrong di kawasan tersebut, kini mereka aktif mengisi konten akun media sosial Instagram, TikTok dan Youtube mereka sendiri. 

Mereka pun kebanjiran product endorsement. Bahkan dalam wawancara di salah satu program televisi, Bonge yang bernama asli Eka Satria Saputra ini mengungkapkan dirinya pernah mendapatkan hasil endorsement sebesar Rp7 juta meski tidak berlangsung setiap hari (Kompas.com, 2022). Berbeda dengan Roy Citayam yang bernama asli Aji Alfiyandi. Sosok yang dikenal sebagai pacar Jasmine Laticia alias Jeje yang sama-sama populer sebagai inisiator CFW ini, mengaku jika penghasilannya saat ini mulai dari Rp400 ribu hingga Rp 1 juta dari hasil ngonten atau mengisi konten akun para content creator. Jika videonya tembus video for your page (FYP), dia akan mendapatkan honor Rp400 ribu. Jika kontennya semakin viral, bayaran yang dia terima hingga Rp 1 juta (Okezone, 2022). 

Ada lagi selebritas Citayam yang namanya terangkat. Perempuan bernama asli Siti Doyah ini justru lebih dikenal sebagai Kurma, yang merupakan pasangan Bonge. Mereka pertama kali dikenal publik dalam salah satu tayangan di video content creator. Kini nama Kurma telah populer. Dari hasil endorsement hingga syuting, Kurma bisa meraup keuntungan mencapai Rp2 juta hingga Rp10 juta per hari. Total penghasilan Kurma jika mendapatkan bayaran minimal selama sebulan bisa mencapai Rp60 juta. Berkat penghasilan tersebut, Kurma sudah bisa membelikan perhiasan dan kebutuhan sehari-hari di rumahnya. (Tribunews.com, 2022).  

Namun tak semua cerita terdengar indah. Seperti kasus yang dialami Bonge misalnya. Beberapa waktu lalu, dia kehilangan akun Instagram miliknya. Alhasil, pihak yang melakukan endorsement pun meminta supaya uang mereka kembali. Hal itu disebabkan karena remaja putus sekolah sejak kelas 3 SD ini belum sempat mengunggah produk endorsement di akun media sosialnya, sudah keburu hilang. (Liputan6.com, 2022).  

Ada lagi cerita dari Roy yang menolak tawaran beasiswa pendidikan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahudin Uno. Alasan di balik penolakan yang disampaikan seleb TikTok asal Citayam ini adalah dirinya ingin fokus membuat konten. Roy juga menyebut bahwa pendidikan tak menjamin dirinya mudah mendapatkan pekerjaan (idxchannel.com, 2022). Meski akhirnya beasiswa yang ditawarkan tersebut dialihkan kepada adik Roy, namun warganet sempat ramai menyoroti soal penolakan ini. 

Itulah sekelumit cerita tentang Bonge cs yang telah berjasa mempopulerkan keberadaan CFW beserta kisah-kisah personal di sekitarnya. Banyak pihak yang menganggap kawasan Dukuh Atas kini mirip dengan kawasan Harajuku di Tokyo, Jepang. Wilayah Harajuku yang membentang dari Stasiun Harajuku hingga Omotesandi ini awalnya dikenal sebagai basis ninja. 

Pasca-Olimpiade Tokyo 1964 asal-usul Harajuku sebagai basis ninja sedikit demi sedikit memudar, terlebih ketika toko-toko dan butik mulai didirikan. Banyak gadis muda Jepang yang mengunjungi wilayah tersebut dengan dandanan dan pakaian yang mengacu pada tren mode. Gadis-gadis dengan gaya mode unik ini kemudian menarik banyak orang untuk datang dan melihatnya. Saat ini Harajuku identik dengan remaja-remaja berbusana unik dan menjadi tempat berkumpul bagi mereka yang ingin memamerkan gayanya, sekaligus mereka yang ingin menonton ‘peragaan busana jalanan’ (Intisari.grid.id, 2018). 

Magnet bagi pesohor

Nama Harajuku terus berkembang hingga saat ini, dan membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat Jepang. Berbeda dengan nama Citayam Fashion Week yang lama-kelamaan mulai memudar. Ya, di awal Agustus lalu, beredar kabar jika ajang ini telah ditutup dan akan dialihkan ke lokasi lain. Namun pamor Bonge cs masih kinclong. Buktinya beberapa kali dia dan teman-temannya, diajak meramaikan aksi peragaan busana jalanan di lokasi yang berbeda, membawakan beberapa merek lokal.  

Viralnya Citayam Fashion Week ini memang dimanfaatkan oleh banyak merek lokal berbasis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai ajang promosi produknya. Menurut mereka, fenomena CFW menjadi kesempatan merek lokal agar namanya lebih dikenal di skala nasional hingga internasional. Karena nama mereknya sudah besar, banyak pihak yang latah untuk ikut ambil bagian dalam gelaran ini, baik masyarakat biasa maupun para pesohor.

Tak ayal, Youtuber Baim Wong dan istrinya Paula Verhoeven disorot habis-habisan saat berniat mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas nama Citayam Fashion Week. Sebab nama ini adalah sebuah merek yang orisinil dan datang dari hasil kreativitas individu atau kelompok. Nama ini tidak bisa diklaim dan dikuasai sebagai milik individu atau kelompok tertentu. Menurut pakar pemasaran Philip Kotler dalam Tjiptono (2015), merek adalah tanda berupa gambar, nama, kata, huruf, angka, susunan warna atau kombinasi dari unusur-unsur tersebut, yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.

Sebagai sebuah merek, fenomena CFW ini memang dipercaya mampu memberikan daya pembeda. Tidak hanya gaungnya yang ‘mantul’ ke semua kalangan masyarakat, juga ketokohan dari Bonge, Jeje, Kurma dan Roy itu sendiri. Tak heran, banyak pihak yang berusaha menggunakan (baca = mendompleng) nama besar merek tersebut. 

Lalu muncul pertanyaan; jika merek CFW ini besar, mengapa fenomena CFW ini mulai redup? Jika dianalisis dari sudut pandang ilmu komunikasi pemasaran, inilah yang dinamakan fenomena fear of missing out alias alias FoMO. Fenomena pemasaran yang mulai muncul pertama di 2010, adalah sebuah gambaran perilaku konsumen yang serta-merta terhadap sebuah fenomena, sebagai tanda persetujuan terhadap fenomena itu sendiri. (Hodkinson, 2016). 

Dikaitkan dalam fenomena CFW, ini adalah sebuah fenomena ketika individu mulai mengekor kesuksesan suatu tren. Mereka berlomba ingin ikut arus. Akibatnya, fenomena ini kemudian menjadi konsumtif bahkan cenderung kapitalis dan tak lagi orisinil. Bonge cs pun kemudian tak tampil orisinil tetapi sudah berbau rupiah dalam setiap aksinya. Tentunya ini kabar gembira untuk Bonge cs. Namun inilah yang mengakibatkan marwah CFW pun meredup. CFW kini tak sama seperti CFW di awal kemunculannya.  

Lalu bagaimana kelanjutannya? Apakah sebaiknya CFW dihentikan, dibubarkan atau dialihkan ke lokasi lain? Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini memang telah membubarkan CFW lantaran dianggap mengganggu lalu lintas. Kini, zebra cross jalan Sudirman dijaga ketat Satpol PP. Citayam Fashion Week pun dialihkan di pedestrian Kuningan City. Bonge cs berlenggak-lenggok membawakan hasil karya beberapa desainer lokal.

Ajang ini mendapat apresiasi dari para pengunjung dan juga warganet. Tidak hanya untuk para artis Citayam yang membawakan busana, tetapi juga para perancangnya, karena dinilai mampu melakukan sebuah inovasi terhadap mereknya. Inilah keistimewaan sebuah kolaborasi. Diharapkan akan lahir Bonge, Kurma, Jeje dan Roy yang lain, yang mampu menciptakan tren secara kreatif dan orisinil, yang akan memunculkan aneka kolaborasi yang kreatif dan inovatif. 

BERITA TERKAIT