08 August 2022, 22:05 WIB

Mengajar Sebagai Gaya Hidup


Rien Safrina, Dosen Program Studi Pendidikan Musik Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta |

WE can not teach like another because we are not that other, so we need to discover who we are before we can be great teachers (Jorgensen, 2008)

Mengapa Anda memilih profesi sebagai guru? Pertanyaan ini sering saya lontarkan bila mengadakan pelatihan untuk guru-guru. Jawaban yang diberikan biasanya berkisar antara 'panggilan' hati Nurani, sampai lingkungan keluarga yang banyak berprofesi sebagai guru. 

Pertanyaan biasanya saya lanjutkan dengan 'apakah Anda memiliki kepribadian yang ideal untuk menjadi guru?' Para guru mulai tersenyum sambil melihat kanan dan kiri, yang tentunya senyuman mereka memiliki berbagai makna. Saya berikan mereka kesempatan sesaat untuk membuat refleksi, meninjau kembali pemikiran mereka, agar paham dengan keputusan mereka untuk menjadi seorang guru. 

Kemampuan mengenali cara berpikir dikenal dengan istilah metacognitive skills. Para peneliti dalam bidang metakognisi berpendapat bahwa pengetahuan metakognitif mengacu pada pengetahuan yang diperoleh tentang proses kognitif, yang dapat digunakan untuk mengontrol proses kognitif (Azevedo, 2009; Dana & Yendol-Hoppey, 2014; Dunlosky & Metcalfe, 2009; Flavell, 1979). Pengertian metakognisi yang sangat terkenal adalah dari Flavell (1979) yang mengatakan bahwa metakognisi adalah kemampuan thinking about thinking atau cara berpikir tentang berpikir seseorang.

Kemampuan metacognitive sangat vital untuk seorang guru. Karena mengajar itu problematik, berhubungan dengan manusia. Guru mempunyai pemikiran, perasaan, dan permasalahan yang beragam, begitu juga siswa. Oleh karena itu guru harus memiliki kemampuan metakognisi untuk dapat membantu siswanya berkembang secara optimal. 

Bukan hal mudah

Bila seorang guru tidak memahami dirinya sendiri, tidak mengenali akar permasalahan yang ada dalam kehidupan pribadinya, dia akan kesulitan membantu siswanya. Siswa perlu dibimbing untuk dapat memecahkan masalahnya, membantu menemukan jati diri dan  menemukan cara belajar yang efektif bagi siswanya. 

Menjadi guru sangat mudah jaman sekarang ini, karena banyak Lembaga Pendidikan yang membuka peluang bagi seseorang bila ingin menjadi guru. Tetapi apakah cukup belajar di perguruan tinggi selama empat tahun kemudian dapat menjadi guru yang ideal? Tentu ini bukan hal yang mudah, karena sekali lagi, mengajar itu sangat problematik.

Untuk menjadi guru inspiratif, maka guru harus memahami siapa dirinya. Mengenal cara berpikirnya, jujur dengan diri sendiri, sadar akan pilihan profesi mereka sebagai guru. Bila guru belum memahami siapa dirinya, dia pun tidak bisa membantu siswa untuk menemukan jati diri mereka.

Gaya hidup seorang guru adalah ketika dia jujur pada diri  sendiri, dan jujur serta transparan kepada siswanya. Apa yang dikatakan sesuai dengan yang dilakukan. Transparansi ini menginspirasi siswa karena mereka berurusan dengan orang-orang yang berintegritas. Jadi, kenali cara berpikir dan temukan diri sendiri, bila Anda ingin menjadi guru yang inspiratif. 

BERITA TERKAIT