02 August 2022, 20:15 WIB

Anak Citayam dan Virus Gagasan


Rahman Mangussara, Pemerhati komunikasi  |

MENDADAK sontak, anak-anak remaja tanggung dari Citayam, Jawa Barat membetot perhatian banyak orang dan diperbincangkan luas; dari pemerintah daerah, politisi, pengamat mode hingga pesohor. Apa gerangan yang mereka lakukan? 

Anak-anak ini, entah berapa jumlahnya, siapa tokohnya (bisa Eka Satria Putra alias Bonge, pun bisa yang lain) datang dari daerah di pinggiran Bogor yakni Citayam, Bojong, dan Depok yang belum lama berselang bukanlah siapa-siapa. Bahkan mungkin sebagian dari kita baru ngeh ada daerah bernama Citayam. Selayaknya anak baru gede, mereka mencoba eksis dengan caranya sendiri dengan datang ke kawasan Dukuh Atas di Jalan Sudirman, Jakarta. Kondisi itu lalu melahirkan plesetan dari akronim SCBD (Sudirman, Citayam, Bojong, Depok) untuk nongkrong dengan memakai pakaian-pakaian uniknya, menyeberangi zebra cross

Ketika pertama kali melihat foto mereka berjalan di zebra cross, berkelebat di ingatan saya sampul album The Beatles– Abbey Road, lebih dari setengah abad silam saat lampu penyeberangan jalan menyala merah. Di tengah keramaian lalu lintas, kelakuan ini sudah barang tentang memikat perhatian pengguna jalan dan pejalan kaki di trotoar. Jadilah mereka tontonan yang dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut seperti getok tular yang diakselerasi oleh media sosial. 

Sekonyong-konyong, mereka diperbincangkan yang menciptakan label Citayam Fashion Week. Media massa menulis, wartawan televisi dengan pakain bergaya pun datang mewawancarai, dan artis yang sudah jadi bintang ikut-ikutan datang ke Dukuh Atas (belakangan mencoba mengambil alih label ini, namun gagal). 

Sesungguhnya tidak ada pakain mewah yang mereka pakai, dalam standar harga dan model saat ini. Dalam sebuah wawancara dengan televisi, anak-anak ini mengaku membeli pakaian di toko daring hanya puluhan ribu rupiah. Pun mereka tidak datang dengan uang saku berlimpah. Masih dari wawancara tadi, tanpa sungkan anak-anak ini mengaku membawa uang antara Rp20 ribu hingga paling banyak Rp50 ribu. 

Seperti virus, anak-anak remaja tanggung di sejumlah daerah ketularan, melakukan hal serupa dengan memanfaatkan tempat penyeberangan jalan untuk bergaya. Apa yang tadinya terlihat biasa-biasa dan sepele, tiba-tiba menjadi tren. Saya tidak ingin terlibat dalam pro-kontranya, biarlah itu menjadi konsen pemerintah daerah dan polisi. Apa yang ingin saya katakan adalah bahwa menyebarnya fashion week ala-ala  ini adalah contoh apa yang disebut sebagai tipping point dalam penyebaran gagasan, ide, mode, tempat nongkrong dan sebagainya.

Penularan ide

Tipping point adalah sesuatu yang pada awalnya sederhana, sepele, kecil, tidak direken, akan tetapi entah bagaimana, dengan cara apa, serta merta membuat perubahan dengan cara menulur seperti virus. Malcolm Gladwell, dalam bukunya Tipping Point, menulis dengan sangat bagus tentang keisengan memakai sepatu tertentu beberapa remaja tak dikenal dari kawasan kumuh di Manhattan, Amerika Serikat, akhir 1994. Sepatu-sepatu yang mereka pakai, saat itu, tidak dilirik konsumen dan perusahaan yang membuatnya pun sudah mau gulung tikar karena produksinya tidak laku.

Tiba-tiba keajaiban terjadi. Anak-anak remaja dari kawasan lain ikut-ikutan memakai sepatu yang tidak laku tadi. Begitu juga dengan anak-anak muda dari kelas ekonomi lebih tinggi ikut membeli sepatu yang tidak laku itu dan ramai-ramai memakainya ke klub-klub malam elite. Hingga akhirnya, entah bagaimana (ingat, media sosial belum lahir waktu itu), beberapa perancang mode memesan sepatu ini untuk acara yang tidak tanggung-tanggung, peragaan adibusana. Terjadilah epidemi mode, sepatu yang sudah mendekati ajal tadi ngetren dalam waktu kurang dari satu tahun dan perusahaannya terus berjaya hingga hari ini. 

Pada masa itu, masa ketika teknologi digital belum ditemukan, penularan mode sebegitu cepatnya benar-benar membuat banyak pengamat terheran-heran. Tapi itulah tipping point yang terlihat misterius, meski sesungguhnya tidak mistrius-misterius amat. Tren pakaian, mode rambut, penyebaran ide, meledaknya penjualan satu makanan atau pakaian atau lakunya satu buku, menyebar seperti epidemi (sosial).

Kesimpulannya; perilaku menular seperti virus (jadi jika ada orangtua khawatir anaknya terpengaruh akan satu hal, mereka benar belaka). Dalam kasus sepatu tadi, tidak iklan, tidak berita TV, dan sudah pasti belum ada Instagram, Facebook, dan Twitter yang menyebarluaskan akan tetapi mampu ‘menginfeksi’ banyak orang di daerah lain. Inilah komunikasi getok tular yang sungguh-sungguh mencengangkan.

Sekelompok kecil orang dalam satu komunitas mempengaruhi sebagian besar orang. Ini bukan sesuatu yang mengherankan. Sebab jauh sebelumnya filsuf dan ekonom Italia Vilfredo Pareto menemukan apa yang kemudian popular disebut dengan prinsip Pareto 80/20 yang menjelaskan bahwa 80% hasil disumbangkan oleh 20% sumber daya. Hukum tentang yang sedikit (law of the few), kata Malcolm Gladwell, juga bekerja dalam kasus epidemi sosial.

Pada masa ini, masa ketika komunikasi antarmanusia dijembatani oleh medium teknologi digital yang masif, penularan cepat makin menjadi-jadi, mirip epidemi. Akan tetapi apakah semua gagasan, ide, mode, dan sebagainya bisa menular (cepat)? Jawabannya, tidak. Kita bisa membuat daftar panjang tentang hal-hal yang gagal menyebar atau lambat meluas.

Sekurang-kurangnya dibutuhkan dua hal untuk membuat suatu ide lekas menular yakni; 1) Mudah menempel, dan 2) Ketepatan waktu (timing). Mudah menempel atau melekat berkaitan dengan kesederhanaan atau kesimpelan sesuatu (gagasan, ide dsb) untuk diingat (dan ditiru) yang merangsang orang lain melakukan hal yang sama. Harap dicamkan, pada masa ketika informasi berlimpah ruah di ruang publik seperti sekarang, tidak semua hal bisa melekat. 

Kemampuan memori kita mengingat dan memfokuskan diri pada satu hal sangat terbatas. Ditambah lagi kita mudah terganggu (teralihkan) oleh begitu banyaknya informasi berseliweran dalam waktu bersamaan. Sekadar contoh, ada sedikitnya 2,1 juta orang aktif di Facebook secara bersamaan dalam satu menit. Keberlimpahan informasi ternyata melahirkan masalahnya sendiri. Dengan begitu, diperlukan cara dan trik untuk membuat sesuatu mudah ingat, menarik perhatian dan segera menular. 

Akan halnya waktu (yang tepat), yang turut menentukan tingkat penularan gagasan, didasarkan pada asumsi bahwa ide sangat peka terhadap situasi pada saat di mana gagasan itu diluncurkan. Ketika sebagian besar medium pembawa pesan menampilkan hal-hal besar dari orang-orang besar, anak-anak Citayam datang dengan pakaian unik dan sederhana (kalau tidak mau mengatakan murahan). 

Manakala nyaris semua medium informasi menampilkan artis-artis cantik dan ganteng (katakanlah dari Korea Selatan) dengan fesyen wah yang diatur sedemikian rupa, anak-anak dari pinggiran ini justru datang dengan sebaliknya ('ini, gue banget') kira-kira begitulah yang dipikirkan anak-anak lain yang jauh dari Jakarta).

Coba ingat-ingat lagi, berapa banyak gagasan yang gagal menular hanya karena waktunya yang tidak tepat (ada situs berita menulis begini:... Jauh sebelum Citayam Fashion Week, hal yang sama sudah ada di daerah.... (di berita itu disebut nama daerah wisata di Jawa tengah, bersama foto-fotonya). Apakah fashion week dari tadi itu menyebar? Ternyata tidak. 

Di dunia bisnis, berapa banyak produk dipasarkan tidak mendapat atensi konsumen hanya karena pemilihan waktunya yang kurang bagus. Pun setali tiga uang di bidang sosial, beberapa kampanye edukasi berhasil, sedangkan yang lain tidak. Kini, jika Anda memasukan kata Citayam di Google, mesin pencari itu akan langsung memberikan Anda ini: citayam fashion week. Bahkan saat Anda memulai kata kuncinya dengan fashion, pun Google akan meluruskan pencarian Anda dengan ini: fashion week citayam. Sedangkan Bonge (dan yang lain) sekarang dia jadi pesohor.

BERITA TERKAIT