24 July 2022, 05:00 WIB

Dunia Digital dan Kekerasan Anak


Adiyanto Wartawan Media Indonesia |

DULU, sewaktu kecil, saya punya teman yang nakalnya minta ampun. Suatu kali dia pernah dimasukkan ke karung oleh orangtuanya lantaran kedapatan mencuri di warung tetangga. Mungkin saking malunya, orangtua kawan saya itu tega melakukan tindakan sadis tersebut. Untung para tetangga, termasuk ayah saya, berhasil menasihati orangtua kawan saya sehingga tidak berbuat lebih jauh. Andai peristiwa belasan tahun silam itu terjadi hari ini, adegan itu mungkin sudah viral ke mana-mana dan mengundang perhatian Komnas Perlindungan Anak.

Kehadiran ponsel cerdas yang dilengkapi kamera serta koneksi internet di satu sisi memang bermanfaat untuk mengabadikan momen-momen semacam itu. Contoh terbaru kasus penganiayaan terhadap seorang anak di Bekasi, viral setelah seseorang mengabadikan dan menyiarkannya di media sosial hingga polisi akhirnya turun tangan. Namun, di sisi lain, gara-gara ponsel cerdas pula seorang bocah di Tasikmalaya tewas setelah dirundung teman-temannya. Bocah kelas 6 SD itu sebelumnya memang sering dirundung, baik fisik maupun verbal, di lingkup pergaulannya. Terakhir, dia dipaksa menyetubuhi kucing yang kemudian direkam rekan-rekannya sehingga viral di media sosial. Buntut viralnya adegan tak senonoh itu membuat bocah itu trauma sehingga kondisi psikis dan fisiknya menurun, depresi, hingga akhirnya meninggal dunia.

Peristiwa yang menimpa bocah di Tasikmalaya itu tentu membuat kita miris. Kehadiran teknologi, termasuk ponsel cerdas, ternyata belum berbanding lurus dengan kadar inteligensi penggunanya. Bahkan, tidak sedikit orang dewasa pun masih gagap menggunakannya. Kita mungkin sering lihat di berbagai grup percakapan, entah grup keluarga, kuliah, maupun grup sekolah, ada saja yang suka membagikan gambar-gambar sadis atau mengerikan, seperti korban kecelakaan lalu lintas di Cibubur, Jakarta Timur, yang viral beberapa waktu lalu. Apa faedah membagikan gambar-gambar semacam itu? Begitu pun dengan fitnah, hoaks, dan narasi-narasi kebencian atau rasialisme yang masih saja berseliweran

Pendidikan mengenai literasi digital memang mendesak untuk terus ditingkatkan. Bahkan, menurut saya, perlu diselipkan dalam kurikulum sekolah. Kita kini hidup di antara dua dunia, antara realitas sehari-hari dan kenyataan di dunia maya. Suka atau tidak suka, interaksi kita mondar-mandir di antara dua ruang itu. Dari urusan memasak hingga mengurus anak. Kita kini tidak cukup hanya tahu lingkup pergaulan lingkungan rumah atau sekolah, tapi juga pergaulan anak-anak remaja di dunia maya. Sulit memang, karena itu sudah menyangkut urusan privat. Sebagai orangtua, yang bisa kita lalukan ialah membekalinya pemahaman mengenai dampak teknologi, termasuk mudaratnya yang mungkin terjadi di dunia maya.

Nilai-nilai etika di dalam keluarga harus menjadi kunci agar mereka tidak tersesat. Ruang makan atau ruang keluarga harus kembali dihidupkan sebagai sarana diskusi dan interaksi, bukan masing-masing malah sibuk bercengkerama di dunia maya entah dengan siapa. Platform digital, seperti Instagram, Tiktok, Snapchat, dan Youtube bukannya tidak bermanfaat, cuma memang mesti bijak menyikapi dan menggunakannya.

Internet ialah salah satu dari revolusi teknologi dalam peradaban manusia yang tidak benar-benar kita pahami. Teknologi yang awalnya alat transmisi informasi elektronik itu, kemudian menjelma menjadi saluran ekspresi manusia yang menyentuh banyak sisi, seolah tiada batas. Ia bisa jadi sumber kebaikan, tetapi sekaligus kejahatan yang mengerikan. Kita telah melihat dampaknya di mana-mana, termasuk yang dialami bocah malang di Tasikmalaya itu.

Semestinya kita semua cemas memikirkan masa depan anak-anak kita, terlebih mereka akan menghabiskan sisa usia mereka di sana. Era di mana manusia dipaksa seperti makhluk amfibi yang hidup di dua alam. Zaman di mana kecerdasan artifisial masih harus berhadapan dengan kebodohan-kebodohan natural. Kecerdasan intelektual rasanya memang tidak cukup untuk hidup di zaman seperti itu. Mereka harus dilengkapi dengan kecerdasan emosional melalui pendidikan akhlak, budi pekerti, dan etika. Tanpa itu semua, mereka cuma bakal jadi cyborg yang bergentayangan digerakkan dan diperdaya algoritma. Selamat Hari Anak Nasional!

BERITA TERKAIT