17 July 2022, 05:00 WIB

Parade Ketimpangan


Adiyanto Wartawan Media Indonesia |

CITAYAM Fashion Week. Begitulah media, baik mainstream maupun medsos, menyebut fenomena para ABG dari pinggiran Ibu Kota yang menginvasi kawasan Dukuh Atas, Sudirman, Jakarta Pusat, yang viral akhir-akhir ini. Bahkan, media asing dari Jepang pun ikut-ikutan mengulasnya. Sebutan itu merupakan pelesetan yang mengacu pada acara pekan mode ternama yang rutin digelar di kota-kota besar dunia, seperti New York, London, Paris, atau Milan, Italia. Dengan mengenakan outfit colourful yang mencolok, mereka nongkrong atau mondar-mandir bergaya di salah satu sudut kawasan elite Ibu Kota.

Namun, bukan seperti anak-anak di Distrik Gangnam, Korea Selatan, yang berasal dari golongan berada, para remaja itu berasal dari Citayam dan sekitarnya yang sering dianggap norak dan kampungan. Pakaian yang mereka kenakan dari topi hingga alas kaki, barangkali harganya jauh di bawah sneakers Nike Dunk Low yang dikenakan Najwa Shihab atau Nike Air Jordan koleksi Atta ‘Asssiap’ Halilintar, yang harganya bisa di atas Rp5 jutaan sepasang. Sepatu yang mereka kenakan paling banter cuma Converse atau Vans abal-abal alias tiruan. Begitu pun makanan-minuman yang mereka konsumsi selama hangout, tak lebih dari tahu bulat, siomai, dan Nutrisari sasetan yang dijajakan penjual kopi bersepeda.

Mereka, Bonge, Jeje, dan kawan-kawannya (untuk menyebut beberapa nama anak Citayam yang viral di medsos), sekadar ingin berekreasi, berekspresi, dan menikmati ruang publik. Sama seperti remaja Jaksel yang wara-wiri di seputaran Jalan Melawai pada era 80-an. Bedanya, mereka berasal dari kalangan menengah atas yang ngeceng dengan mobil orangtuanya, sedangkan Bonge dkk dari kalangan menengah bawah. Mereka tiba di Stasiun Sudirman dengan menumpang KRL dari Stasiun Citayam. Kelasnya beda, tapi tujuannya sama. Masing-masing ingin bergaya sembari rekreasi menikmati keindahan kota.

Apa yang dilakukan para ABG dari Citayam dan sekitarnya di seputaran Stasiun Sudirman itu ialah fenomena sosial biasa. Enggak perlu takjub berlebihan atau memandang miring ulah mereka. Fenomena itu sekadar tren yang mungkin kelak akan menghilang dengan sendirinya hingga mereka bosan. Aparatus negara pun tidak perlu berlebihan menanggapinya. Biarkan mereka berekspresi selama tidak mengganggu ketertiban umum dan merusak keindahan kota.

Biarkan para ABG itu berkreativitas membentuk identitas pribadi ataupun lingkungannya, sama seperti yang dilakukan remaja di Distrik Harajuku atau Shibuya, Jepang, dan kota-kota di belahan dunia lainnya. Siapa tahu, kehadiran mereka menginspirasi lahirnya ikon fesyen terkenal macam Issey Miyake, Yohji Yamamoto, atau Rei Kawakubo. Siapa tahu kehadiran mereka juga bisa menjadi daya tarik wisata atau sutradara ternama. Siapa tahu pula dari yang semula meniru-niru cara berbusana ala Amerika, kelak tumbuh kesadaran dari para remaja itu untuk tampil mengadopsi busana tradisional. Ya, siapa tahu?

Fashion street di Jepang yang dimulai pada dekade 70-an pun semula meniru gaya busana ala mahasiswa ‘Negeri Abang Sam’ hingga kemudian berkembang dan memiliki keunikannya. Satu hal yang pasti, fenomena fashion street yang dilakukan para remaja Citayam itu ialah bagian dari subkultur dari budaya pop, seperti halnya musik dan film. Apa yang mereka lakukan bisa juga dilihat sebagai bagian dari bentuk perlawanan terhadap budaya mapan meski mereka barangkali juga tidak menyadarinya. Sama seperti halnya ketika mereka dengan lugunya jadi korban eksploitasi para budak konten pemburu adsense. Anda pun tidak usah heran, ini memang eranya para pengabdi cuan. Segalanya dikreasi untuk menghasilkan materi.

Dari Bonge dan kawan-kawannya itulah justru kita bisa belajar bahwa segalanya tidak selalu harus bergantung pada gengsi dan materi. Gaya berbusana tidak mesti mahal. Hangout pun tidak harus nongkrong sembari menyeruput kopi yang harganya tidak masuk akal. Hal lainnya yang mungkin luput dari pengamatan, kehadiran anak-anak Citayam di kawasan elite itu justru mengingatkan kita bahwa ketimpangan pembangunan itu nyata (bahkan cuma selemparan batu dari Jakarta). Fenomena itu juga kian menegaskan bahwa pembangunan ruang publik yang terbuka dan egaliter perlu demi kebahagiaan seluruh warga.

Semoga apa yang dilakukan Bonge dkk dapat menginspirasi para pemangku kepentingan kota, terutama di kawasan penyangga Ibu Kota, untuk membangun dan memperbanyak fasilitas semacam itu. Mereka perlu diarahkan sehingga tidak berkeliaran jadi begal di jalanan. Tabik.

BERITA TERKAIT