04 July 2022, 22:15 WIB

Fenomena Hijrah, Akibat Sadar atau Cemas?


Rena Latifa, Dosen Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Psikolog Klinis |

HIJRAH telah menjadi istilah populer yang akhir-akhir ini terdengar di televisi dan artikel popular. Konsep hijrah mengacu pada transformasi dari orang yang kurang religius menjadi lebih saleh. Perubahan tersebut umumnya terlihat melalui pilihan busana muslimah, yakni memilih untuk memakai pakaian sejenis gaya Arab (kerudung dengan jubah yang menjuntai). 

Sedangkan laki-laki yang berhijrah identik dengan menghindari mengenakan celana panjang di bawah mata kaki (isbal) dan mengadopsi janggut panjang (lihyah). Bahkan ada yang meninggalkan pekerjaannya untuk mengikuti apa yang mereka sebut sebagai gaya hidup hijrah total. Ciri-ciri fenomena ini sudah terlihat di ruang publik Indonesia sejak awal 2000-an. 

Kata hijrah berasal dari hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah dalam rangka memajukan dakwahnya. Dewasa ini, konsep hijrah lebih banyak dipahami sebagai merujuk pada berbagai fenomena. Istilah hijrah juga merujuk pada proses yang mana seorang individu muslim berusaha untuk menjadi muslim yang lebih baik, membingkainya sebagai semacam konversi.

Istilah hijrah dapat dipahami sebagai perubahan seseorang dari masa lalu yang buruk ke masa lalu yang lebih baik atau lebih religius. Menganalisis fenomena pindah agama perempuan muslim di Jawa pada awal 2000, Brenner (1996) menggarisbawahi komitmen mereka terhadap kesalehan melalui pemakaian jilbab. Menggunakan konsep hijrah untuk mengartikan semacam perpindahan agama (konversi) juga ditemukan dalam banyak khutbah Salafi Wahabi yang mendorong orang-orang beriman untuk terlibat berhijrah dengan menjauhi kebodohan (jahiliyah).

Salzman (1953) menunjukkan bahwa ada dua jenis konversi; konversi bertahap dan konversi tiba-tiba atau mendadak. Konversi bertahap ditandai oleh pematangan dalam perkembangan kepribadian individu, cenderung integratif, dan merepresentasikan internalisasi nilai dan tujuan baru yang dianggap oleh pelaku hijrah berada pada level yang lebih tinggi daripada yang sebelumnya. Konversi atau 'hijrah mendadak' digambarkan oleh Salzman sebagai 'solusi semu untuk menangani konflik-konflik yang sangat disintegrasi.' 

Hal tersebut adalah solusi semu dibuktikan oleh fakta bahwa pehijrah yang tiba-tiba mulai 'mundur' atau kembali kepada keadaan sebelum hijrah ketika dia menyadari bahwa masalahnya tidak dapat ditangani melalui hijrah. Alhasil, dia meninggalkan solusi itu dan mulai mencari yang baru. Menurut Salzman, 'konversi yang tiba-tiba’ disebabkan karena keadaan yang disebabkan oleh meningkatnya kecemasan yang kemudian dapat menjadi bagian dari proses gangguan psikologis berat.

Menarik untuk mengidentifikasi faktor-faktor pembentuk perilaku konversi religius pada komunitas hijrah. Penulis menduga terdapat faktor psikologis yang berperan yakni adanya kecemasan (dalam teori diistilahkan sebagai manifest anxiety).

Manifest anxiety diteorikan mempengaruhi konversi religius seorang individu (Spellman et al., 1971). Penelitian yang dilakukan oleh Clark (1929) dan Roberts (1965) menemukan bahwa seseorang yang mencari solusi atas permasalahan di hidupnya mengalami kecemasan yang mendorong diri individu untuk mencari solusi dan meredakan kecemasan tersebut. 

Hijrah sebagai konversi religius

Hasil penelitian Sunesti dkk (2018) menemukan konsep hijrah di kalangan niqabi milenial menunjukkan proses negosiasi yang kompleks antara mengikuti manhaj Salafi secara ketat dan mengisi masa muda mereka. Doktrin Salafi yang mengharuskan para wanita muda ini untuk hidup secara ketat sesuai dengan aturan Salafi telah mengubah cara kaum milenial ini mengalami dunia muda mereka. 

Melalui konsep hijrah, mereka mengubah apa yang mereka sebut masa lalu yang tidak islami menjadi islami. Identitas baru ini mengubah cara mereka melihat diri sendiri dan lingkungan, bagaimana mereka berperilaku, dan bagaimana mereka membayangkan masa depan. 

Proses perubahan dari tidak islami menjadi islami, merupakan bahasan dalam konversi religius. Konversi religius yaitu berubah dari nonreligius ke religius atau pun berubah dari pribadi yang religius menjadi sangat religius. Proses transformatif dalam konversi dapat memakan waktu yang bervariasi, mulai dari beberapa saat hingga beberapa tahun, tetapi kekhasan perubahanlah yang merupakan elemen pengidentifikasi utamanya (Spilka, Hood, Hunsberger, & Gorsuch, 2003). 

Bahasan tentang konversi religius ini telah menjadi titik fokus baik bagi para teolog maupun psikolog. Penelitian di bidang psikologi tentang konversi agama misalnya pada penelitian yang dilakukan oleh Paloutzian et al. (1999). Ia menemukan faktor-faktor seperti tujuan yang lebih luas atau lebih sempit yang diperjuangkan seseorang (misalnya, untuk melayani orang lain untuk membawa mereka ke dalam keluarga iman ini), tujuan khusus (misalnya, untuk melakukan pekerjaan saya dengan baik sebagai bukti iman), atau nilai-nilai dan sikap yang diungkapkan sebagai cara-cara baru yang mungkin diinginkan seseorang (misalnya, saya ingin menjadi seorang Muslim yang baik) (lihat Emmons, 1999, sebagai contoh). 

Fungsi tingkat global yang dapat berubah dengan pertobatan mencakup panduan hidup menyeluruh seperti definisi diri dan identitas (misalnya, sebelum saya menjadi Kristen, sekarang saya seorang Yahudi), tujuan keseluruhan (misalnya, untuk memenuhi misi Tuhan), sebuah narasi kehidupan baru yang menyoroti pentingnya titik balik ini dalam cerita dan konsekuensinya, dan apa yang menjadi perhatian utama (misalnya, Tuhan atau entitas tertinggi lainnya).

Perpindahan atau konversi merupakan salah satu variasi transformasi spiritual dan digambarkan pada mekanisme psikologis mendasar (Paloutzian, 2005): 1) harus ada tekanan pada sistem— keraguan, retak, putus, atau semacam ketegangan— didorong oleh perbedaan atau diskontinuitas antara harapan implisit atau yang dimaksudkan tentang bagaimana suatu aspek makna akan menjadi yang diungkapkan atau kebutuhan yang terkait dengannya akan terpenuhi. 2) jenis transformasi spiritual tradisional yang dipelajari dalam psikologi agama adalah konversi agama. 3) konsep transformasi spiritual lebih luas daripada konsep konversi agama karena orang bisa menjadi spiritual dengan cara yang tidak mereka anggap religius, dan 4) transformasi spiritual merupakan perubahan dalam sistem makna orang tersebut.

Manifest anxiety dan konversi religius

Perasaan bersalah adalah salah satu faktor motivasi konversi yang telah diteliti sebelumnya. Clark (1929) menemukan lebih sedikit dari 10% dari populasi umum yang melaporkan perasaan bersalah, baik Clark (1929) dan Roberts (1965) mengamati sekitar setengah dari orang yang berhijrah (tiba-tiba dan bertahap) dalam sampel mereka menderita perasaan bersalah sebelum hijrah mereka. 

Kecemasan telah menjadi perhatian banyak peneliti dan beberapa peneliti telah melakukan penelitian topik tersebut dan kaitannya dengan perilaku keagamaan. Studi oleh Clark (1929) dan Roberts (1965) telah menyatakan bahwa perasaan bersalah sering dirasakan oleh pehijrah. Peningkatan perasaan bersalah seharusnya diteorikan berkaitan dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi dan bahwa penurunan rasa bersalah akan menyebabkan penurunan kecemasan. 

Namun, sejak Salzman berpendapat bahwa 'hijrah mendadak' hanya merupakan solusi semu untuk masalah individu, 'hijrah yang mendadak' tidak akan menyebabkan penurunan kecemasan yang permanen. Oleh karena itu, pelaku hijrah mendadak harusnya mendapat skor lebih tinggi pada kecemasan daripada pelaku hijrah bertahap. 

Hasil penelitian dari Spellman et al. (1971) menunjukkan bahwa konversi religius mungkin merupakan solusi semu untuk masalah individu yang tiba-tiba berhijrah. Itu karena untuk individu tersebut konversi tampaknya gagal untuk membawa pengurangan kecemasan secara permanen. Oleh karena itu, ketika individu yang berhijrah tiba-tiba menyadari bahwa kecemasannya tetap tinggi, dia akan cenderung untuk meninggalkan proses hijrahnya dan/atau mencari solusi baru (Salzman, 1953). 

Berdasarkan penjelasan ini, disarankan bagi individu memaknai proses hijrah bukan sekadar untuk lari dari kecemasan yang dialami. Menjadikan proses hijrah sebagai proses sadar untuk pengembangan ruhani ke arah yang lebih tinggi, merupakan pilihan yang lebih baik. 

BERITA TERKAIT