29 June 2022, 05:00 WIB

Menggerakkan Cendekiawan Muhammadiyah


Zuly Qodir Sosiolog dan Dosen Program Doktor Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Associate Researcher Maarif Institute |

TIDAK berdiri di atas awan dan duduk di menara gading, tetapi berbaur dengan masyarakat, inilah sosok cendekiawan. Cendekiawan menara gading pernah dikritik WS Rendra sebagai cendekiawan yang tidak mengerti di mana bumi dipijak. Cendekiawan menara gading merupakan sosok cendekiawan yang hanya bersedia didengarkan ‘nasihatnya’, pitutur, dan analisisnya. Namun, tidak bersedia mendengarkan denyut nadi, denyut jantung masyarakat yang berada di sampingnya ataupun di belakangnya.

Sosok cendekiawan yang digambarkan WS Rendra seperti di atas, jelas tidak menjadi harapan kita semua. Kita membutuhkan sosok dan sekumpulan cendekiawan yang mampu memberikan nasihat dengan jernih, adil, dan santun. Namun, kita juga membutuhkan kehadiran para cendekiawan yang mampu mendengarkan keluh kesah, perasaan, penderitaan, serta berbagai kekesalan umat. Cendekiawan semacam itulah yang oleh Antonio Gramsci disebut sebagai cendekiawan organik.

Cendekiawan organik merupakan sosok yang diharapkan bersedia menjadi bagian dari rakyat (umat yang kesusahan), menjadi teman dalam berkarya, dan sahabat dalam berpikir masalah-masalah sederhana sekaligus masalah yang rumit. Cendekiawan yang mampu menghadirkan alternatif pemikiran di tengah hadirnya tantangan umat yang demikian keras dan kadang sarat dengan kepentingan politik golongan.

Sosok cendekiawan organik seperti digambarkan Antonio Gramsci atau cendekiawan yang ‘membumi’ tidak di atas langit seperti saran WS Rendra dapat dikatakan sebagai sosok ideal seorang (sekelompok) cendekiawan oleh sebab banyaknya kritik yang saat ini mengarah pada kehadiran cendekiawan yang ada di negeri ini.

Saat negeri ini banyak masalah kemanusiaan yang melanda, seperti penggusuran di Wadas, Purworejo. Masyarakat sekitar Wadas menolak pembangunan bendungan karena gagasan kepentingan politik dan bahkan mungkin investor sehingga akan berdampak pada terpinggirnya masyarakat sekitar. Ketika banyak aparat keamanan dan pemerintah berlomba-lomba mendukung rencana proyek pembangunan bendungan Wadas serta politisi yang ‘berteriak’ demi kepentingan dan ambisi politiknya, kehadiran cendekiawan yang berpihak pada kesengsaraan rakyat sangat dibutuhkan.

Selain masalah pembangunan Bendungan Wadas, hadirnya megaproyek ibu kota negara (IKN) di Kalimantan Timur, yang mendapatkan dukungan para pejabat negara dan sebagian sarjana dari perguruan tinggi negeri di Tanah Air, kehadiran para cendekiawan yang tidak hanya mengkritik kebijakan negara, tetapi juga memberikan alternatif penyelesaian masalah yang muncul. Para sarjana di perguruan tinggi negeri tampaknya tidak memberikan kritik yang signifikan atas megaproyek IKN karena berbagai alasan yang dikemukakan. Dari alasan klise soal jabatan di perguruan tinggi sampai persoalan politis yang mungkin menghampirinya.

 

Hanya sarjana

Terlalu banyak mereka yang senantiasa bangga menyandang predikat cendekiawan, tapi sejatinya ialah sarjana (scholar). Itu karena hanya mampu menjejerkan deretan gelar yang diperolehnya dari bangku perkuliahan, baik di dalam maupun di luar negeri. Gelar yang terjejer rapi tersebut, ternyata tidak pula menggerakkan untuk bertanggung jawab atas persoalan umat yang menunggu alternatif pemikiran sebagaimana yang disarankan Gramsci ataupun WS Rendra.

Banyaknya sarjana yang memiliki deretan gelar, ternyata tidak berbanding lurus dengan adanya penyelesaian masalah kemanusiaan yang melanda rakyat luas. Para sarjana sibuk dengan urusannya seperti masalah administrasi kampus, urusan jabatan di kampus, jabatan di luar kampus, dan kasak-kusuk yang senantiasa menjadi bagian dalam kehidupan kaum sarjana. Para sarjana sibuk dengan masalahnya yang tak kunjung selesai. Oleh karena itu, tidak sempat lagi membagi pikiran dan tangannya untuk menyapa rakyat yang terkena berbagai masalah kebijakan politik yang dibuat negara.

Bahkan, yang paling kentara, banyak sarjana bangga dengan perolehan derajat gelar tertinggi di kampus sebagai rektor, memiliki jabatan akademik tersohor sebagai guru besar, tapi minus pengabdian pada masyarakat. Mereka para guru besar sibuk dengan urusan kasak-kusuk menjadi pejabat di pemerintahan dan memperbanyak karya tulis yang tidak ada sangkut pautnya dengan nasib rakyat banyak. Para guru besar tidak lagi mampu memberikan hikmah yang mendalam pada masyarakat luas, tapi sibuk dengan mengejar sitasi karya tulis yang dihasilkan dengan berbagai cara.

Tentu tidak semua guru besar bertindak tidak memberikan perhatian pada nasib rakyat yang sengsara karena kebijakan negara. Namun, tidak sedikit para sarjana yang memiliki gelar akademik tertinggi sebagai guru besar hanya berhenti berkarya di belakang meja untuk mengejar publikasi dan sitasi karya publikasi melalui berbagai cara. Itu sehingga dianggap hebat oleh model pemberi rangking sitasi indeks publikasi.

Sarjana semacam itu sebenarnya sarjana yang telah kehilangan roh pergerakan untuk membela masyarakat tertindas. Namun, tidak jarang dibanggakan kampus dan rezim administrasi perguruan tinggi yang mendewakan artifisial ketimbang substansi kaum sarjana.

Jika para sarjana terus bergerak pada ranah perebutan artifisial seperti saling berlomba dalam publikasi artikel dan sitasi publikasi, tidak mustahil pada akhirnya para sarjana dan perguruan tinggi hanya akan menjadi ‘tukang publikasi’. Nanti, akan lahir para sarjana tanpa adanya perasaan berdosa jika tidak turut andil dalam menyelesaikan masalah rakyat.

Terlalu banyak kelompok sarjana yang bangga dengan gelar yang demikian banyak diperoleh. Namun, lebih untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya saja, bukan untuk bangsa dan negara. Bahkan, yang lebih menyedihkan lagi ialah terlalu banyak orang yang memiliki gelar kesarjanaan, tetapi perilakunya tidak berbeda dengan para preman yang bekerja sebagai ‘tukang todong’ perusahaan, politikus, serta pejabat.

Bahkan, tidak hanya sebagai tukang todong, tetapi juga sebagai ‘pemain panggung politik’ yang penuh dengan kecurangan, keculasan, tipu muslihat, serta caci maki. Sarjana semacam itu ialah sarjana yang bergelar akademik mumpuni, tetapi moralitas kecendekiawanannya berada di level paling bawah.

Cendekiawan semacam itu secara khusus, sejatinya tidak sesuai dengan pesan KH Ahmad Dahlan, ketika memberikan tafsir secara progresif terkait dengan surah Ali Imran ayat 104 tentang bagaimana membangun masyarakat, mencerdaskan kehidupan rakyat, menyejahterakan dan memberikan perhatian secara sungguh-sungguh. Cendekiawan Muhammadiyah, oleh sebab itu semestinya memiliki daya rekat dan ikatan yang mendalam dengan denyut penderitaan rakyat siapa pun mereka. Setiap rakyat yang menderita secara fisik, kurang gizi, tidak sehat, dan sejenisnya, butuh diberi perhatian dan pertolongan.

Demikian pula cendekiawan Muhammadiyah, harus memberikan perhatian pada penderitaan rakyat yang menderita secara spiritual sehingga cendekiawan Muhammadiyah perlu melakukan literasi keagamaan yang bersifat mencerahkan. Mencerahkan, mencerdaskan, dan membebaskan dari penderitaan batin-spiritual sehingga tidak menghamba pada hal-hal yang sifatnya mitos dan serbainstan. Sarjana Muhammadiyah dengan demikian harus hadir di tengah penderitaan rakyat, bukan berkasak-kusuk di tengah gelimang penderitaan rakyat banyak.

 

Tanggung jawab

Masalah bangsa dan umat yang demikian banyak, sudah seharusnya menjadi bagian dari tanggung jawab cendekiawan untuk merespons dengan cermat dan segera. Seperti sudah dikemukakan, rakyat saat ini tengah menderita karena banyak kebijakan negara yang tidak memihak rakyat. Banyak kebijakan negara yang berjalan menguntungkan para tengkulak, para cukong, dan para broker politik. Oleh karenanya, cendekiawan Muhammadiyah tidak boleh membiarkan bangsa ini larut dalam kebangkrutan peradaban. Cendekiawan Muhammadiyah juga tidak membiarkan umat berkubang dengan kesengsaraan yang menyayat perasaan. Cendekiawan Muhammadiyah tidak boleh membiarkan umat saling beradu otot hanya karena masalah-masalah beda pendapat.

Bangsa dan umat perlu diselamatkan para cendekiawan yang mendapatkan berbagai macam kelebihan, baik kesempatan, ekonomi, ilmu pengetahuan, maupun teknologi. Cendekiawan Muhammadiyah tidak boleh menambah kesengsaraan umat karena ucapan yang dipelintir, kosakata yang plintat-plintut, pagi dele sore tempe, serta mengobarkan semangat kebencian karena perbedaan pilihan politik maupun keagamaan. Bukanlah watak cendekiawan yang suka mengobarkan semangat kebencian pada pihak lain hanya karena perbedaan pilihan politik dan keagamaan.

Pendidikan politik warga negara, literasi keagamaan yang progresif, moderat, dan toleran, sudah seharusnya menjadi perhatian para cendekiawan Muhammadiyah. Cendekiawan Muhammadiyah tidak boleh larut dalam konstruksi keagamaan (keislaman) yang menyesatkan warga negara dengan berbagai persebaran informasi yang cenderung saling mengadu domba dan menyesatkan. Cendekiawan Muhammadiyah perlu betul-betul hadir sebagai pemberi pencerahan (tanwir) serta sebagai pemberi solusi atas problem sosial kemanusiaan yang melanda rakyat Indonesia.

Cendekiawan Muhammadiyah, hemat saya turut bertanggung jawab atas kejadian yang menelikung antarsesama umat muslim dengan berbagai isu politik yang terus dikembangkan oleh berbagai pihak. Cendekiawan Muhammadiyah boleh saja menjadi bagian dari kekuatan politik partai politik dan kekuatan rezim negara. Namun, pada saat yang sama cendekiawan Muhammadiyah juga harus hadir sebagai pemberi kontrol, kritik, dan alternatif penyelesaian masalah bangsa. Hanya mengkritik dan mencela kebijakan pemerintah tentu saja tidak layak dikemukakan cendekiawan Muhammadiyah sebab tidak sesuai dengan karakteristik Muhammadiyah.

Oleh sebab itu, tanggung jawab sosial dan keumatan cendekiawan Muhammadiyah akan menjadi ujian yang paling nyata, apakah peran sebagai penggerak umat, bangsa, dan negara dapat dilakukan mereka. Apakah cendekiawan Muhammadiyah mampu lahir sebagai ulul albab, pemimpin umat dan pemberi penenang umat yang menderita. Jika peran-peran strategis dapat dilakukan cendekiawan Muhammadiyah, kita masih dapat berharap tumbuh dan berkembangnya tradisi pencerahan, ijtihad, dan kritik yang selama ini telah mulai menghilang dari hadapan hidung kita semua.

Ijtihad progresif agaknya menjadi agenda yang perlu terus digelorakan di dalam tubuh Muhammadiyah, terutama oleh para cendekiawan dengan pelbagai perspektif keilmuan. Hal itu sangat penting mengingat persoalan keumatan dan kebangsaan yang terus berjalan mengiringi setiap ruang kehidupan masyarakat Indonesia. Gelombang perubahan yang demikian cepat dan dahsyat membutuhkan pemikiran-pemikiran cerdas dan alternatif agar rakyat tidak terombang-ambingkan oleh keadaan yang semakin tidak menentu arahnya. Di sinilah cendekiawan Muhammadiyah perlu hadir dengan ijtihad progresifnya.

Ali Syari’ati, sosok cendekiawan muslim asal Iran, juga pernah menyampaikan pesan yang sangat tajam kepada para insan yang mendapatkan gelar cendekiawan. Pesan itu ialah agar para cendekiawan tidak lupa pada tugasnya sebagai makhluk pembela kaum mustad’afin (kaum tertindas). Mustad’afin ialah makhluk yang tertindas dalam banyak dimensi, bukan hanya dimensi materialistic kemiskinan keuangan, melainkan juga ketertindasan akan perilaku orang yang ingin menang sendiri, tidak mampu bersaing dalam memperoleh akses informasi, pengetahuan, serta spiritual.

Oleh sebab itulah, sebagai cendekiawan Muhammadiyah sebenarnya mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sangat berat jika itu diperankan secara sendirian. Namun, beban sosial yang menghadang di depan hidung para cendekiawan, akan menjadi ringan untuk ditangani jika dikerjakan secara kolektif. Kerja kolektif hanya akan berjalan jika egoisme dari para cendekiawan tidak dihadirkan di sana. Karena itu, seorang cendekiawan tidak boleh egois dan ingin menang sendiri. Cendekiawan tidak bisa hanya menyalahkan orang lain yang berbeda dengan diri dan kelompoknya. Harus mampu berlaku adil pada diri sendiri dan orang lain.

Saat ini menjadi sangat penting untuk para cendekiawan Muhammadiyah di Indonesia ketika banyak kampus tunduk pada kekuasaan. Cendekiawan sibuk dengan agenda politik dan kelompoknya. Kampus banyak ‘tertidur’ karena berbagai hal yang datangnya dari kekuasaan dan para cendekiawan sendiri. Kampus tampak lengah bahkan abai atas kesengsaraan rakyat. Kita tentu berharap, peran serta cendekiawan Muhammadiyah organik. Semoga penderitaan rakyat dan bangsa ini perlahan terurai dengan hadirnya para cendekiawan organik dari rahim Muhammadiyah sehingga masyarakat (umat) kembali tergerak untuk berjalan dalam kebajikan!

BERITA TERKAIT