27 June 2022, 23:35 WIB

Belajar Ketahanan Pangan dari Bali


Andi Muh Darlis, Kolonel Sus, Widyaiswara Pusdiklat Bela Negara Kemhan RI |

MENYUSURI kawasan Tabanan, Bali yang dipenuhi area persawahan saat melalukan kunjungan bakti bela negara, mengingatkan kepada kebijakan pemerintah soal ketahanan pangan. Pangan merupakan sebuah keniscayaan bagi makhluk  hidup khususnya manusia. Pesona Tabanan tidak hanya menawarkan landscape laut dan pantai serta gunung, tetapi yang terpenting dan menyita perhatian adalah kawasan persawahan yang menggugah hasrat untuk mengajak petani ikut pendidikan bela negara.      

Petani sebagai bagian integral dari sistem pertanian memiliki peran penting bagi ketersediaan pangan. Bagi Bung Karno petani juga mendapat tempat bagi kelangsungan hidup negara. Sebutan petani bukan hanya sebatas profesi tetapi juga memiliki makna lain di mata Bung Karno yaitu Petani merupakan sebuah kepanjangan penjaga tatanan negara Indonesia.

Sepenggal keindahan Bali bisa dinikmati dengan berkunjung ke Desa Jatiluwih yang berada di kawasan Kabupaten Tabanan juga merupakan andil petani dalam ikut merawat alam dan hamparan sawahnya. Panorama sawah hijau yang dihadirkan akan membuat kita semakin dalam mencintai tanah air. Jatiluwih adalah sebuah kawasan desa yang telah ditetapkan  menjadi bagian dari salah satu situs warisan budaya dunia dari UNESCO. 

Selain Jatiluwih yang berada di Tabanan, masih ada empat lagi wilayah di Bali yang mendapat penghargaan UNESCO sebagai warisan budaya dunia, yaitu Badung, Bangli, Buleleng, dan Gianyar. Sistem pertaniannya yang lekat dengan kearifan lokal menghadirkan nuansa yang sulit ditemukan di wilayah lain bahkan mungkin hanya ada di Bali. 

Hamparan sawah yang menghijau dan sebagian sudah menguning disertai topografi yang berundag (terasering) membuat Jatiluwih yang daerahnya masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Penebal, Kabupaten Tabanan akan selalu mempesona dan menjadi destinasi wisata yang banyak menarik minat bagi siapa saja. Kawasan ini memiliki pemandangan indah yang khas landscape persawahan dipadu dengan lembah dan perbukitan di hulu Gunung Batukaru.  

Konsep pertanian di Bali dinaungi oleh filosofi Tri Hita Karana, sebuah filosofi mengenai keseimbangan antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, dan manusia dengan sang pencipta menjadi pedoman masyarakat Bali dalam melakukan interaksi dengan Tuhan, manusia dan semesta. Berdasarkan penuturan Dayu Pawitrani, Kepala Perpustakaan Subak Tabanan Bali bahwa hamparan sawah di Jatiluwih dan kawasan sawah-sawah yang ada di Bali tidak bisa dilepaskan dari konsep keberadaan Subak yang merupakan manifestasi filosofi Tri Hita Karana. Tri artinya tiga, Hita artinya kebahagiaan atau kesejahteraan, dan Karana artinya penyebab. 

Tri Hita Karana disimpulkan bermakna tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan. Penerapannya dalam sistem Subak menjadi parahyangan (hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan), pawongan (hubungan harmonis antara manusia dengan sesama), dan palemahan (hubungan harmonis antara manusia dengan alam dan lingkungan). Jatiluwih adalah contoh manifestasi ajaran tersebut dan menjadi salah satu kawasan andalan bagi wisatawan yang tidak saja indah dan memesona tetapi menjadi kawasan strategis bagi kelangsungan hidup masa depan karena berfungsi sebagai lumbung pangan. 

Warisan budaya tak benda ini menjadi lahan bagi padi merah Bali yang merupakan varietas lokal yang ditanam di Subak Jatiluwih. Hal ini pun menjadi salah satu faktor pertimbangan kawasan ini ditetapkan oleh UNESCO sebagai  warisan dunia. 

Sebagai negara agraris Indonesia seharusnya menjadi penopang pangan di dunia. Indonesia harus dapat mengulangi kisah sukses swasembada pangan di 1984 era pemerintahan Soeharto. Sebuah catatan kebanggaan yang prestisius yang ditorehkan Pak Harto. Swasembada pangan (beras) ini menjadi legacy Soeharto kala memimpin Republik ini.  

Kesuksesan ini mendapatkan penghargaan dari FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) pada 1985. Beras yang berasal dari buliran-buliran padi adalah komoditi pangan terpenting di Indonesia dan sebagian belahan dunia lain yang ketersediaannya harus mendapat porsi terbesar pemerintah. Pasalnya, pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia untuk dapat mempertahankan hidup. 

Dalam konteks pangan di era Orde Baru tersebut, dimasa kepemimpinan Soeharto, pernah pula mencanangkan sebuah strategi pangan yang disebut Revolusi Hijau. Strategi itu adalah teknik bercocok tanam dari tradisional berubah ke cara modern untuk meningkatkan produktivitas pertanian. 

Revolusi Hijau muncul karena adanya masalah kemiskinan yang disebabkan karena pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat pesat tidak sebanding dengan peningkatan produksi pangan. Beberapa upaya yang dilakukan pemerintah Orde Baru masa silam untuk menggalakkan Revolusi Hijau, di antaranya upaya intensifikasi pertanian, ekstensifikasi pertanian, diversifikasi pertanian, dan rehabilitasi pertanian.

Kembali ke Tabanan, di daerah ini juga terdapat sebuah paguyuban bernama Subak, sebuah organisasi milik masyarakat petani di Bali yang khusus mengatur sistem pengairan atau irigasi sawah secara tradisional. Luas area irigasinya mencapai sekitar 20.000 hektare dan berada dalam lima kabupaten, yaitu Kabupaten Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, dan Tabanan. Bersama Jatiluwih, sistem Subak juga ikut dijadikan sebagai situs warisan dunia yang disetujui dan ditetapkan oleh di Saint Petersburg, Rusia. Kearifan lokal di Bali. keindahan subak, sistem irigasi tradisional sawah di Bali menjadi pertimbangan penting bagi UNESCO untuk menetapkannya sebagai warisan dunia.

Desa Jatiluwih berada di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan merupakan produsen utama beras merah Bali. Beras merah Bali telah menembus pasar internasional. Beras merah tidak menggunakan pestisida dalam proses pertumbuhan dan perawatannya, memiliki warna, aroma dan rasa yang sangat khas membuatnya menjadi produk unggulan. Patut dicatat bahwa beras merah ini juga bisa diolah menjadi teh beras merah yang tentu saja memiliki khasiat tertentu. Bahkan Barrack Obama mantan Presiden AS membawa teh beras merah sebagai oleh-oleh ketika berkunjung ke Subak Jatiluwih pada 2017.

Pangan dan masa depan dunia

Persoalan pangan menjadi penting karena tingkat populasi dunia yang terus melaju naik. Menurut Dashboard Populasi Dunia PBB yang diakses pada Kamis (9/6), total populasi pada 2022 mencapai 7,954 miliar jiwa, dengan perkiraan laju pertumbuhan populasi tahunan sebesar 1% pada rentang 2020 hingga 2025. Sebuah angka populasi yang sangat besar dan berpotensi bahaya bila ketersediaan pangan langka akibat degradasi daya dukung alam karena kerusakan lingkungan dan perubahan iklim dunia.

Peningkatan angka populasi manusia di dunia telah lama dikhawatirkan oleh Thomas Robert Malthus dalam An Essay on the Principle of Population (sebuah esai tentang prinsip mengenai kependudukan), yang pertama kali diterbitkan pada 1798. Dalam esai itu Malthus menyatakan bahwa peningkatan produksi pangan mengikuti deret hitung dan pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sehingga manusia pada masa depan akan mengalami ancaman kekurangan pangan. 

Pangan (beras) adalah komoditi strategis. Bagi Indonesia pangan berupa beras menjadi tak terpisahkan dengan kebutuhan bangsa Indonesia. Terkait dengan persoalan pangan ini, Indonesia dan India melalui pertemuan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi dan Menlu India S Jaishankar membahas berbagai kerja sama bilateral dalam pertemuan di New Delhi, Jumat (17/6). Kedua menlu membahas penguatan kerja sama di bidang energi, ketahanan pangan, dan kesehatan. 

Dalam pertemuan itu Retno mengatakan bahwa "Di bidang ketahanan pangan, kita memiliki kekhawatiran yang sama mengenai terganggunya rantai pasok pangan yang dihadapi hampir seluruh negara dunia saat ini. Karena itu, kita berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama." Indonesia dan India adalah dua negara dari lima negara yang memiliki populasi terpadat di dunia. 

Tiongkok, India, AS, Indonesia dan Brasil adalah deretan negara-negara dengan tingkat populasi manusia yang tinggi. Dengan begitu mengharuskan adanya ketersediaan pangan yang cukup. Keterbatasan pangan dapat menyebabkan runtuhnya peradaban dunia (Lester Brown, Kepala Kebijakan Bumi di Washinton DC). 

Prediksi pesimistis Malthus ini harus dijawab oleh otoritas pengambil kebijakan untuk menyiapkan tindakan antisipasinya. Bali memiliki sistem pertanian yang patut menjadi contoh bagi wilayah lain di Indonesia, sebuah  warisan yang harus dijaga demi ketahanan pangan yang mutlak harus dimiliki agar peradaban sebagai bangsa tetap terjaga. 

Indonesia adalah tanah tumpah darah dan Bali adalah salah satu bagian dari Republik yang patut kita ikut menjaga kelestarian alamnya. Kita dukung dan rawat kearifan lokalnya dan berinteraksi dengan manusianya yang memiliki ketinggian spiritual dalam ikatan bhinneka tunggal Ika.

BERITA TERKAIT