18 June 2022, 11:00 WIB

Pameran Dagang Jadi Instrumen Pendorong Pertumbuhan Ekspor, Efektifkah?


Anugrah Avianty, Pranata Humas Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag |

SALAH satu upaya yang banyak dilakukan pemerintah untuk mempromosikan berbagai produk Indonesia ke pasar global ialah dengan berpartisipasi pada pameran-pameran internasional di berbagai negara. Upaya ini telah dilakukan pemerintah selama beberapa dekade. Langkah ini pun merupakan fasilitasi pemerintah untuk partisipasi pada pameran dagang menjadi jalan pintas bagi usaha kecil menengah (UKM) untuk 'naik kelas'.

Merespons kebutuhan pasar yang terus tumbuh, industri pameran dagang juga kian menggeliat. Berdasarkan data Asosiasi Industri Pameran Dagang di Jerman, AUMA, sebagaimana dikutip Hauswirth (2012), di era 90an, diestimasi terdapat lebih dari 450 kegiatan pameran dagang di Asia. Enam tahun kemudian, angka tersebut tumbuh lebih dari dua kali lipat, mencapai 1.100 pameran. Angka ini diprediksi terus tumbuh di tahun-tahun selanjutnya.

Partisipasi pameran dagang, khususnya dengan label internasional, dipandang memberikan peluang besar untuk meningkatkan eksposur atas produk-produk yang diproduksi di dalam negeri, kepada calon pembelinya yang berasal dari berbagai belahan dunia. Beraneka produk dipamerkan di satu tempat khusus, para calon pembeli dengan latar belakang industri tertentu– tergantung jenis pameran– datang untuk melihat, menyentuh, dan mempelajari aneka produk yang ditampilkan. 

Tidak jarang, para calon pembeli juga menggali informasi produk lebih dalam melalui interaksi dengan penjual atau pihak yang bertugas untuk mempromosikan produk secara langsung di ajang pameran. Dengan kata lain, pameran menyediakan fitur yang sarat informasi. Informasi yang tidak hanya perlu bagi calon pembeli, namun juga bagi penjual.

Pada sebuah pameran, penjual dapat secara langsung melihat produk para kompetitornya, menjumpai calon mitra baru untuk distribusi, hingga menjalin hubungan dengan pelanggan lamanya. Aspek-aspek inilah yang kemudian menjadi keunggulan pameran dagang sebagai salah satu instrumen promosi ekspor.

Bagaimana selanjutnya trade-off antara keunggulan dengan biaya yang perlu dikeluarkan jika berpartipasi pada pameran dagang? Pada pameran dagang, terutama pameran internasional, tentunya membutuhkan biaya keikutsertaan yang cukup besar dengan banyak komponennya. Sebut saja di antaranya biaya menyewa area pameran (space), biaya membangun konstruksi booth pameran (jika memilih untuk menampilkan booth dengan desain khusus), termasuk di dalamnya biaya desain dan furnishings, biaya membawa produk contoh, biaya membuat materi promosi (cetak ataupun digital), hingga biaya perjalanan dan biaya hidup selama dalam perjalanan. 

Belum lagi jika memerlukan tambahan jasa pendamping penerjemah bila bahasa yang digunakan di wilayah pameran tak familiar bagi peserta pameran. Bandingkan dengan biaya yang kemudian dikeluarkan jika promosi dilakukan secara virtual, misalnya di platform Alibaba. Informasi yang dikutip dari artikel yang dimuat situs berita CNN pada Mei 2017 menyebutkan bahwa paket keanggotaan di platform jual beli ternama alibaba.com dibanderol mulai dari Rp22 juta. Jauh di bawah biaya berpameran secara konvensional.

Menjawab pertanyaan efektivitas pameran, tentunya perlu instrumen evaluasi. Evaluasi dimaksudkan untuk mengukur pembandingan antara benefit dan biaya keikutsertaan pada pameran dagang. Harapannya, anggaran yang digelontorkan oleh berbagai instansi pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, untuk mendanai kegiatan partisipasi pada pameran dagang, memberi hasil yang sepadan, bila perlu lebih besar. Lebih jauh lagi, pameran dagang mampu menjadi pendorong bagi UKM Indonesia berperan dalam rantai nilai global.

Studi yang dilakukan oleh Deres (2019) di Afrika mengonfirmasi hubungan positif antara partisipasi pameran dagang internasional dengan peningkatan ekspor perusahaan peserta. Lebih dari 90% peserta pameran yang terlibat dalam studi tersebut menegaskan bahwa hasil dari partisipasi pameran dagang sejalan dengan tujuan perkembangan usaha mereka.

Studi-studi yang menjadi referensi tersebut menjadi jawaban sekaligus memberi tantangan baru. Pameran dagang benar memberikan dampak positif bagi peningkatan ekspor. Tantangannya adalah bagaimana pemerintah selanjutnya dapat menjamin tersedianya akses yang sama bagi pelaku usaha Indonesia untuk menikmati fasilitas pameran dagang.

BERITA TERKAIT