09 June 2022, 16:02 WIB

Pertanian Urat Nadi Perekonomian Nasional


Abiyadun, Humas Kementerian Pertanian |

SEKTOR pertanian menjadi urat nadi pertumbuhan perekonomian nasional adalah kesimpulan yang sangat tepat untuk mengakui ketangguhan sektor pertanian dibanding sektor lainnya menghadapi dampak buruk pandemi covid 19. Wabah yang melanda dunia ini telah menyebabkan semua sendi kehidupan lumpuh, semua sektor tak beroperasi dan akhirnya menyebabkan resesi global. Indonesia diprediksikan adalah satu satu negara yang paling merasakan dampak buruknya.

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani dalam rapat kerja virtual dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat pada 6 April 2020 mengatakan bahwa pandemi covid 19 memberikan dampak ekonomi yang lebih buruk dibanding krisis keuangan global saat itu. Di seluruh negara, khususnya Indonesia menerapkan lockdown untuk membendung penyebaran COVID-19. Fenomena ini menyebabkan gelombang ekonomi shutdown sehingga membuat gelombang kejut bagi perekonomian global. 

Food and Agriculture Organization (FAO) pun mengatakan bahwa dampak pandemi covid19 dapat menimbulkan krisis pangan baru. Pandemi covid 19 menyebabkan terganggunya aktivitas di on-farm, off-farm dan sistem logistik pangan karena aktivitas yang terbatas dan rantai pasok pangan sehingga masyarakat akan kehilangan akses pangan yang mengancam kehidupan. 

Perkiraan terjadinya dampak buruk covid 19 terhadap perekonomian Indonesia pun benar terjadi. BPS mengumumkan di tahun 2020 Indonesia mengalami resesi. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen (year on year/yoy).  Alhasil, Indonesia resmi masuk ke jurang resesi, setelah pada kuartal II-2020 ekonomi Indonesia mengalami konstraksi.

Namun demikian, di masa resesi ini bahwa berbagai perkiraan akan memburuknya sektor pertanian akibat pandemi korona bak jauh panggang dari api. Faktanya, pertanian menjadi satu-satunya sektor yang tumbuh positif dengan angka yang sangat tinggi, sementara sektor lainnya pertumbuhannya sangat kecil bahkan sebagian besar mengalami konstraksi. 

Mengutip data BPS, pertumbuhan PDB sektor pertanian ada triwulan II 2020 (Q to Q) 16,24 persen. Angka ini jauh lebih besar dibanding sektor lainnya yang positif. Sektor infokom 3,44 persen dan pengadaan air 1,28 persen. Sementara sektor lainnya jasa, administrasi pemerintahan, transportasi, akomodasi dan makan minum serta pengalami listrik mengalami pertumbuhan yang minus. Bahkan sektor Industri, perdagangan dan konstruksi yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional menjadi makanan empuk corona alias pertumbuhannya negatif.

Di tengah ganasnya wabah dunia ini, moncernya kinerja sektor pertanian tak hanya dilihat dari satu indikator ekonomi makro. BPS pun mencatat nilai ekspor pertanian dari 2019 hingga 2021 mengalami kenaikan. Di tahun 2019, nilai ekspor pertanian Rp 390,16 triliun, naik 15,79 persen di tahun 2020 sebesar Rp 451,77 triliun dan nilai ekspor pertanian 2021 sebesar Rp 625,04 triliun, naik 38,68 persen dibanding tahun sebelumnya.

BPS pun mencatat, kebijakan dan program pembangunan pertanian yang dinakhodai Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berhasil meningkatkan daya beli petani sebagai indikator kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) Maret 2022 sebesar 109,29 atau naik 0,42% dibanding NTP bulan Februari 2022 sebesar 108,83 dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) Maret 2022 sebesar 109,25 atau naik 0,67% dibanding NTUP bulan Februari 2022 sebesar 108,53.

Peningkatan daya beli pun tentu karena adanya peningkatan produksi pangan dan harga yang menguntungkan petani, salah satunya naiknya produksi beras sebagai komoditas pokok masyarakat. Mengutip data BPS, produksi beras 2020 sebesar 31,33 juta ton dan surplus 7,39 juta ton. Di tahun 2021, produksi beras pun mengalami kenaikan yaitu 31,82 juta ton dan surplus 9,63 juta ton. 

Menurut penulis, beberapa indikator ekonomi makro ini dapat dikapitalisasikan sebagai indikator yang membuat cemerlangnya kinerja pertumbuhan ekonomi nasional. Pun, akademisi, polisi dan praktisi pertanian bahkan lembaga pangan dunia pun mengakuinya. Berbagai keberhasilan yang dicetak sektor pertanian ini dikatakan sebagai bantalan, tulung punggun bahkan penyelamat perekonomian nasional dalam tiga tahun terakhir ini, utamanya di masa terpuruk global.

Mengutip pemberitaan di beberapa media baru-baru ini, Anggota Komisi IV DPR Salim Fakhri menilai produksi pertanian selama tiga tahun terakhir ini mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut bisa dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada  Januari 2022, dimana nilai tukar petani (NTP) mencapai 108,67 atau naik sebesar 0,30 persen. Sedangkan nilai tukar usaha petani (NTUP) mencapai 108,65 atau naik 0,12 persen.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University Prof. Edi Santosa mengomentari kenaikan NTP dan NTUP sebagaimana dirilis BPS membuktikan, peningkatan produksi pertanian ikut berdampak kepada kesejahteraan petani. Peningkatan ini tidak lepas dari tiga hal, yakni peningkatan kualitas benih, penyediaan pupuk dan penggunaan alsintan yang massive di tingkat petani.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional Yadi Sofyan Noor pun membeberkan kerja keras Kementerian Pertanian di masa pandemi covid 19 mampu menjadi menjadi sektor pertanian sebagai bantalan pertumbuhan ekonomi nasional. PDB sektor pertanian, nilai ekspor, kesejahteraan petani dan produksi beras mengalami kenaikan. 

Dikatakan Sofyan, di era Menteri Syahrul Yasin Limpo produksi beras dan jagung mengalami peningkatan, dan beberapa komoditi pangan tidak perlu lagi impor bahkan bisa melakukan ekspor. Faktanya berdasarkan data BPS, Indonesia di tahun 2021 sukses ekspor beras untuk konsumsi sebanyak 3,3 ribu ton.

FAO melalui Kepala Perwakilan untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal pun turut mengapresiasi pembangunan pertanian Indonesia selama masa pandemi Covid-19. Di saat perekonomian lesu, pertanian Indonesia tetap mampu menyediakan pangan sehingga pertumbuhan PDB pertanian terus mengalami pertumbuhan positif.

Penguatan Pangan

Pemerintah khususnya Kementerian Pertanian mau tidak mau ke depanya harus lari lebih kencang lagi untuk melakukan berbagai upaya penguatan pangan mempertahankan, minimal kinerjanya di atas. Namun melihat tekadnya untuk terus menggenjot produksi dan ekspor, dengan cara dan inovasi baru adalah langkah yang tepat.

Mengapa demikian? Karena tantangan yang hadapi sektor pertanian ke depan cukup berat. Perubahan iklim ekstrim dan adanya geopolitik global yang saat ini terfokus pada konflik Rusia-Ukraina adalah sebuah keniscayaan yang harus dihadapi.

Oleh karena itu, beberapa kebijakan dan program yang sederhana dapat dijalankan agar secara masif diimplementasikan di berbagai daerah. Misalnya, terus melakukan pendampingan kepada para petani dan meningkatkan skala teknologi dengan menurunkan mekanisasi modern. Program Taxi Alsintan yang tengah dijalankan Kementerian Pertanian adalah sebuah wadah yang tepat untuk meningkatkan volume dan menaikkan kelas Alsintan menjadi modern bahkan ke depannya Alsintan berbasis listrik karena penekan biaya atau memberikan added value yang tinggi pada tonase produksi, kualitas pangan dan pendapatan petani. 

Program lainnya yang tak kalah penting untuk digalakkan adalah pendampingan dan pemberdayaan petani pada pertanian presisi dan digitalitasi sektor pertanian sebagai solusi penguatan ketahanan pangan. Yakni pada kegiatan on-farm maupun off-farm, peningkatan kapabilitas penyuluh dan petani,  sebagai sarana dalam melakukan koordinasi dan komunikasi antar stake-holder, dalam monitoring ketersediaan dan distribusi produksi pertanian, serta dalam kegiatan pendataan pertanian.

Terakhir, solusi penguatan pangan ke depanya adalah penerapan program pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan. Misalnya, penggunaan pupuk organik dengan bahannya dari alam sekitar selain bernilai ramah lingkungan, tapi secara ekonomi pun memberikan benefit yang tinggi. Petani efisien mengeluarkan biaya usaha tani, produktvitasnya pun tinggi dan manfaat tambahan yang tak kalah didapat dibanding budidaya pertanian kimiawi adalah pangan yang dihasilkan lebih berkualiatas dan diikuti harga yang tinggi. Menariknya, pertanian ramah lingkungan sebagai solusi juga mendongkrak volume ekspor sehingga berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi nasional. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT