09 June 2022, 00:15 WIB

Aku Viral Maka Aku Ada


Suwatno, Guru Besar Komunikasi Organisasi FPEB UPI, Direktur Direktorat Kemahasiswaan UPI |

DULU, ungkapan 'aku berpikir maka aku ada' (cogito ergo sum) dari Rene Descartes demikian masyhur. Kalimat tersebut sesungguhnya mencerminkan sebuah narasi peradaban di zamannya, ketika rasionalitas adalah tema utama keunggulan eksistensi manusia. Manusia dianggap eksis jika ia mampu berpikir. 

Di kemudian hari, saat kapitalisme semakin merajalela hingga menciptakan kultur konsumerisme yang akut, muncul ungkapan yang sejatinya merupakan kritis sosial; 'aku mengonsumsi maka aku ada'. Di titik ini, narasi 'rasional' tereliminasi oleh narasi 'emosional'. 

Hari ini, di era media sosial (medsos), eksistensi manusia diukur dari ungkapan 'aku selfie maka aku ada' dan 'aku viral maka aku ada'. Kita hidup ketika viralitas menjadi obsesi dan tujuan. Banyak orang, terutama generasi baru, yang rela menghalalkan berbagai cara untuk menikmati gurihnya viralitas. Bahkan sebagian di antaranya tidak ragu melakukan hal-hal memalukan, tidak sopan, amoral, hingga mengancam nyawa (diri sendiri dan orang lain). Tidak heran, di berbagai platform medsos kita dengan sangat mudah menemukan konten-konten yang sengaja diproduksi demi mengejar viralitas. Sebagian di antaranya memang positif, namun tidak sedikit yang jauh dari kata bermanfaat.

Oxford mendefinisikan kata viral sebagai an image, video, advertisement, etc., that is circulated rapidly on the internet (gambar, video, iklan, dan lainnya, yang beredar dengan cepat di internet). Jika dulu misi akan viralitas lebih banyak menjadi area program pemasaran perusahaan demi membangun awareness produk, kini tampaknya obsesi viralitas telah 'terdemokratisasi' di level individu. Siapapun kemudian merasa butuh untuk populer. Bahkan seolah menentukan status sosial seseorang. 

Demi sebuah konten, baru-baru ini seorang remaja tewas akibat nekat menghadang truk yang sedang melaju. Ia hanya salah satu contoh dari banyak kasus yang kebetulan mendapatkan eksposur di media massa. Yang cukup meresahkan adalah banyaknya konten-konten, baik foto maupun video, pengumbaran aurat dan keseksian yang tersebar dengan sangat bebas. Bahkan, banyak media mainstream (arus utama) yang justru mengambil materi berita dari konten-konten media sosial yang viral tersebut, demi mendatangkan viewers.

Tampaknya ini merupakan gejala demokratisasi konten, atau lebih jauh dari itu, liberalisasi konten. Siapapun bebas membagikan konten apapun. Semua konten akan aman selama tidak dipersoalkan, tidak melanggar ketentuan platform ataupun UU ITE. Realitasnya lebih banyak yang selamat dibanding yang terjerat. Di era seliberal hari ini, filter konten dikembalikan kepada penggunanya. Sayangnya, tidak semua pengguna bijaksana.

Tentu kita juga bangga, ada sebagian anak muda yang mengisi saluran medsosnya dengan konten-konten positif. Kemasannya entertaining, renyah dan sangat dekat dengan dunia muda, meski terkadang tidak senada sepenuhnya dengan parameter moralitas generasi tua yang konservatif. Namun, selagi keunikan konten tersebut masih dalam batas-batas kepatutan dan toleransi multi-budaya bangsa ini, barangkali mereka perlu mendapat kesempatan untuk berkreasi.

Fenomena ini menjadikan dunia informasi dan hiburan publik tidak sentralistik, dan tidak hanya mampu dilakukan oleh level korporasi seperti selama ini. Bahkan, ada seorang perempuan muda dari pelosok negeri, dengan modal kamera handphone seadanya, mampu memproduksi konten-konten viral, yang belum tentu bisa dihasilkan oleh seorang profesional. Konon, viralitas berkorelasi dengan hoki. Meski demikian, menurut saya tetap ada eksplanasi rasionalnya, mengapa yang satu berhasil dan lainnya gagal.

Berburu viral memang tidak harus dilakukan dengan cara-cara negatif-destruktif. Bahkan seharusnya ini menjadi tantangan bagi anak-anak muda, agar mampu menghasilkan konten-konten viral dengan cara-cara yang lebih elegan dan bermartabat. Kalaupun merasa perlu sesekali melakukan hal-hal ekstrem, tetap harus terukur dan mempertimbangkan risikonya. 

Saya pernah menonton konten adu nyali memakan cabai super pedas, seperti paqui atau carolina reaper. Jika semuanya telah dipersiapkan secara terukur, memang menghasilkan konten yang lucu dan seru, dan menciptakan keviralan. Namun, jika itu dilakukan secara membabi buta, akibatnya bisa sangat fatal.

Viralitas memang bermata dua. Produsen konten bisa untung, bisa pula buntung. Selain mereka harus siap dengan risiko dalam proses produksinya, mereka juga harus siap dengan efek viralitasnya. Terkadang pembuatnya tidak dapat memprediksi secara pasti bagaimana reaksi publik. Ada konten yang disangka akan menuai pujian, ternyata sebaliknya memanen hujatan. Apalagi, warganet Indonesia sangat kritis. 

Kehati-hatian dalam penyebaran konten juga sepatutnya dimiliki oleh para politisi, apalagi figur-figur yang masuk daftar bakal calon presiden potensial di Pemilu 2024. Viralitas politik memang merupakan investasi yang sangat mahal jika dikonversi secara material. Namun, respons warganet juga sama-sama tidak bisa dikendalikan sebagaimana mereka melihat konten dari kreator lainnya. Apalagi, konten-konten politik hari ini masih kerap direspon warganet secara 'bipolar'. Tampaknya kita masih membutuhkan waktu untuk menyikapi viralitas secara dewasa.

BERITA TERKAIT