26 May 2022, 15:00 WIB

Jokowi, Ende, dan Bung Karno


Ansel Deri, mantan Relawan Duta Jokowi |

PRESIDEN Joko Widodo kembali mengunjungi Nusa Tenggara Timur. Jokowi bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo hadir di Ende, ibu kota Kabupaten Ende, Flores dalam rangka peringatan hari lahir Pancasila 2022, Rabu (1/6) nanti. Dalam lawatan resmi itu, hadir juga tokoh nasional Hj Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri alias Megawati Sekarnoputri, putri Presiden Pertama Ir Soekarno (Bung Karno).

Selain Mega, Presiden ke-5 Indonesia sekaligus Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, hadir pula cucu Bung Karno, Puan Maharani yang kini menjabat ketua DPR. Ia sempat juga menjadi menteri Kabinet Kerja dan kini ikut diundang sebagai tamu VIP di Ende. Kota Ende terletak di tengah daratan Flores, nusa bunga yang pernah jadi tempat pengasingan Bung Karno.

Sejarah mencatat pada 28 Desember 1933 Gubernur Jenderal Hindia Belanda De Jonge mengeluarkan surat untuk mengasingkan Bung Karno dari Surabaya menuju Ende. Ia membawa sang istri Inggit Garnasih, Amsi (mertua), dan Ratna Djuami (anak angkat). Mereka berada dalam perut KM Van Riebeck selama delapan hari sebelum akhirnya merapat di bibir dermaga Ende pada 14 Januari 1934. Mereka lalu dibawa ke rumah pengasingan di Kampung Ambugaga, Kelurahan Kotaraja. Selam empat tahun Bung Karno tinggal di rumah H Abdullah Amburawu.

Kehadiran Jokowi didampingi ibu negara, Mega, dan Puan boleh jadi merupakan buah doa Bupati Ende Djafar Achmad, Wakil Bupati Erikos Emanuel Rede, serta kerinduan kolektif warga Ende dan NTT jauh sebelumnya. Jokowi paling kurang mengikuti jejak Bung Karno di tempat pembuangan tempo doeloe. Tempat di kabupaten yang kesohor dengan pesona Danau Tiga Warna Kelimutu, dan salah satu pusat Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini) dengan anggota yang sudah sejak lama menyebar di seantero jagat.

Karena itu tak berlebihan apabila kehadiran Jokowi dan rombongan mengobati rasa rindu Bupati Djafar, Wakil Bupati Erik Rede dan masyarakat Ende. Selain Ende menjadi kota bersejarah dan salah satu tempat Bung Karno memperoleh inspirasi tentang butir-butir Pancasila, Ende juga memiliki pesona alam eksotik dan pusat pendidikan sejarah peradaban dengan penerbit Nusa Indah, tempat diskusi Bung Karno. Di kota itu Bung Karno bersahabat dengan para misionaris Eropa dan Amerika lalu tekun berdiskusi tentang filsafat, etika kebangsaan, moral sosial hingga bermain sandiwara bersama masyarakat di tonil Kelimoetoe yang ia dirikan dengan keanggotaan 47 grup seni.

Menepati janji
 
Kehadiran Presiden Jokowi dalam momentum bersejarah itu tentu bukan tanpa pertimbangan dan hasil permenungan sesaat. Pilihan Kepala Negara menginjakkan kaki di tanah para mosalaki (raja) juga bentuk tanggung jawab atas janji Jokowi jauh sebelumnya. Bupati Jafar berterus terang, saat Jokowi pertama kali mengunjungi NTT 2014, ia mendengar langsung rencana Jokowi di hadapan Gubernur Frans Lebu Raya (alm) untuk kelak melihat langsung Kelimutu. 

Karena itu di hadapan utusan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Bupati Djafar mengharapkan agar setiba di Istana undangan ini mendapat restu Jokowi agar berkenan mengunjungi Ende. "Jalan ke Kelimutu itu hanya satu jam saja. Karena itu bapak ibu yang ada saat ini bisa bantu kami. Barangkali bisa bisik ke Pak Jokowi," katanya saat berdialog bersama anggota BPIP dan sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah di kantor Bupati Ende, Selasa (11/5).

Gayung bersambut. Jokowi memastikan hadir. Masyarakat tanah Flobamora khususnya Ende, tentu berbahagia. Pada Senin (31/5), hari terakhir bulan khusus umat Katolik NTT dan dunia menutup bulan Rosario, pesawat yang membawa rombongan Jokowi segera menyentuh bibir bandara H Hasan Aroeboesman menjelang Magrib. Jokowi dan rombongan akan disambut Kepala BPIP, Pangdam Udayana, Gubernur Viktor Laiskodat, Danrem 161/Wirasakti, Kapolda NTT, dan Bupati Bupati Djafar di kota rahim Pancasila.

Nilai-nilai Pancasila

Kehadiran Jokowi menarik dilihat dari berbagai aspek. Paling kurang ada yang dicatat. Pertama, Presiden Jokowi tak sekadar hadir di Ende sebagai seorang kepala negara dan kepala pemerintahan yang memimpin Indonesia dengan heterogenitas suku, agama, ras maupun golongan. Atau seorang Presiden dari sebuah negara dengan sumber daya alam melimpah mulai dari Sabang hingga Merauke dan dari Miangas hingga Rote.

Kedua, Jokowi sekaligus menunjukkan kehadiran dirinya sebagai bagian sesama anak bangsa yang lahir dari rahim rakyat kecil dan kondisi ekonomi yang keras di masanya. Namun, semangat juang dan militansi yang membara dalam jiwa guna mewujudkan cita-citanya kelak menjadi orang berguna di negeri yang ia cintai. 

Ende, seperti juga daerah-daerah lain di Indonesia yang disambangi dalam lawatan resminya, perlu juga disentuh dan dalam jarak dekat mendengar langsung apa sesungguhnya yang diperlukan. Ende melahirkan sebuah harapan bernama Jokowi bagi bangsa dan negara bertolak dari perjalanan Jokowi mulai dari tukang mebel, lalu menjadi wali kota Solo, gubernur DKI Jakarta hingga presiden.

Menurut Zaenuddin dalam Jokowi: Dari Jualan Kursi Hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi (2012), saat menjadi wali kota Solo Jokowi menjadi fenomenal karena melakukan yang memang semestinya dilakukan seorang kepala daerah. Fakta ini menyakitkan karena mengandung makna bahwa umumnya kepala daerah lain tak melakukan yang semestinya mereka lakukan. 

Jokowi menjadi cermin yang memantulkan bopeng-bopeng pada rupa wajah demokrasi dan otonomi daerah kita. Tapi, Jokowi juga sekaligus menjadi penanda bahwa seburuk apapun rupa wajah itu, tak ada alasan untuk berhenti berharap pada esok yang lebih baik. Kehadirannya di Ende, hemat penulis, sekaligus mengabarkan sebuah harapan bagi masyarakat dan para pemimpin di semua level bahwa sukses hari esok dapat diraih dengan kerja, kerja, kerja.

Ketiga, kehadiran Jokowi memberi pesan tambahan bahwa setiap presiden di masanya, masih ada daerah yang perlu dibantu mengingat keterbatasan sumber dana baik di daerah maupun pusat. Juga kepemimpinan setiap berganti rezim wajah bopeng daerah masih saja terlihat dan memerlukan komitmen para pemimpinnya. Sedang di lain sisi, tentu sudah banyak daerah yang maju berkat komitmen pemimpin dan warganya bekerja keras dengan dukungan anggaran daerahnya.

Keempat, kehadiran Jokowi sekaligus menyegarkan memori kolektif bahwa Ende memiliki nilai khusus bagi Bung Karno dalam sejarah perjalanan negeri dan menjadi oase seluruh anak bangsa membumikan nilai-nilai Pancasila yang digali di bawah pohon sukun (artocarpus communis).

Bung Karno dalam otobiografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2018) karya jurnalis asal Amerika Serikat Cindy Adams menceritakan keberadaannya selama masa pembuangan di Ende. Testimoni Bung Karno menarik, menguras dasar jiwanya. 

Kata si Bung, Ende sebuah kampung nelayan telah dipilih sebagai penjara terbuka untukku. Keberadaannya masih terkebelakang. Aku mendekat kepada rakyat jelata karena aku melihat diriku sendiri dalam orang-orang yang melarat ini. Di Ende yang terpencil dan membosankan itu, banyak waktuku terluang untuk berpikir. 

Kehadiran Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Mega, dan Puan serta rombongan adalah kabar inspiratif dari nusa bunga untuk nusantara dan dunia. Doa warga Flobamora tentu menyatu dalam doa warga Ende terdaras untuk Jokowi, Ngga’E berka (Tuhan berkati).
 

BERITA TERKAIT