20 May 2022, 05:00 WIB

Spirit Harkitnas dan KKN di Desa Penari


Dewa Gde Satrya Dosen hotel & tourism business School of Tourism, Universitas Ciputra Surabaya | Opini

FILM bergenre horor KKN di Desa Penari yang telah ditonton hampir 4 juta orang dalam kurun waktu 11 hari mengingatkan pada eksistensi dan performa mahasiswa yang menjadi cerminan generasi penerus, yang menghidupi spirit gerakan Budi Oetomo yang dirayakan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tampak pada film tersebut kearifan lokal, adat istiadat, norma dan peraturan sosial yang tidak boleh dilanggar, serta komunikasi antarsesama manusia dan alam semesta. Harmoni kehidupan, kedamaian, dan kesejahteraan bersama akan tercapai jika semua unsur itu terpenuhi, sebagaimana diteladankan para pendahulu.

Sebagai karya seni dan sastra visual yang memiliki elemen cerita seperti tokoh, alur, dan setting, film menjadi media untuk mendidik masyarakat, dalam hal ini generasi muda (mahasiswa) khususnya.

Cerita tentang enam mahasiswa yang sedang melakukan KKN (kuliah kerja nyata) mengingatkan pada program khas perguruan tinggi. Melalui program itu, mahasiswa menerapkan ide dalam rupa program berdasarkan realitas kebutuhan di masyarakat. Ilustrasi tersebut khas dilakukan pada kegiatan pembelajaran yang mendekatkan mahasiswa dengan realitas di masyarakat, tidak hanya di perdesaan dan dalam bentuk KKN.

 

Realitas masyarakat

Modifikasi dan pembaruan program KKN menjadi aneka program yang mendekatkan mahasiswa kepada realitas masyarakat. Khususnya masyarakat perdesaaan, salah satunya proyek di desa yang diinisiasi Kemendikbud. Program itu menyediakan sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki pada realitas sosial. Sejarah gerakan Boedi Oetomo, yang diinisiasi kaum cerdik pandai, relevan dengan konteks zaman ini, dengan mahasiswa sebagai agent of social change diharapkan memiliki kemampuan intelektualitas sekaligus keterampilan berkomunikasi, berinteraksi, dan berhadapan dengan situasi sosial yang riil di masyarakat. Realitas di desa menjadi model realitas sosial secara luas, yang akan dihadapi mahasiswa ketika lulus kuliah.

Sejumlah program digelar bagi perguruan tinggi (PT) untuk memperkuat pendidikan dan internalisasi soft skill pada anak didiknya. Gayung bersambut, prioritas dan orientasi penumbuhkembangan soft skill sebenarnya terbuka oleh kekecewaan dan kegelisahan kalangan dunia usaha dan industri, serta masyarakat umum akan mentalitas dan performance lulusan PT. Banyak sarjana ber-IPK cemerlang, tetapi tidak membuat performance di dunia kerja. Kalangan sarjana tidak meminati kehidupan dan pekerjaan di perdesaan dan sebagainya.

Menurut Illah Sailah (2008: 17), soft skill adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (termasuk dengan dirinya sendiri). Atribut soft skill terdiri dari nilai yang dianut, motivasi, perilaku, kebiasaan, karakter, dan sikap. Dalam dunia kerja, soft skill lebih dibutuhkan (80%) daripada hard skill (20%). Sayangnya, ilmu-ilmu soft skill itu kurang diperhatikan dan menarik minat mahasiswa dalam pembelajaran. Pada umumnya, mereka lebih memfokuskan pada kemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan bidang studi atau hard skill.

KKN Kebangsaan, salah satu KKN tematik unik, pernah diadakan Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, TNI, dan perguruan tinggi negeri, bertujuan menumbuhkan harapan akan sosok mahasiswa yang mampu menjadi agen perubahan sosial. Peserta KKN Kebangsaan sebanyak 224 mahasiswa berasal dari 32 universitas di Indonesia, disebar di 25 desa di tiga kecamatan di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Selama beberapa bulan, para peserta melaksanakan implementasi penanganan ketahanan pangan hingga membantu pembukaan infrastruktur daerah-daerah terisolasi.

‘Perjumpaan’ dengan bangsanya dan ‘hati’ untuk persoalan-persoalan sosial yang merupakan misi intrinsik di setiap KKN di masa mendatang diharapkan menumbuhkan kepekaan dan selanjutnya empati sosial di kalangan terdidik. ‘Perjumpaan’ dan interaksi sosial itu dibutuhkan untuk menyatukan idealitas akademik di perguruan tinggi dengan fakta sosial.

Model pembelajaran serupa juga berlaku pada program magang/internship, dengan mahasiswa terlibat secara langsung dalam dunia kerja. Bedanya, dalam KKN, intuisi dan empati sosial serta ‘hati’ lebih diasah sebagai bagian pembelajaran atas permasalahan sosial yang dijumpai di masyarakat. Mahasiswa memiliki kesempatan belajar melakukan analisis sosial (ansos) ketika berada di desa. Diharapkan, ansos yang dilakukan dalam KKN akan melengkapi kecakapan mahasiswa untuk nantinya menjadi sarjana yang human.

Melalui KKN, mahasiswa belajar multiaspek (Daldiyono, 2009), yaitu ranah attitude (berperilaku etis, jujur, rajin, disiplin, dan beramal saleh di masyarakat), ranah psikomotor (keterampilan dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah sosial), dan ranah kognitif (memperdalam pengetahuan). Mahasiswa ideal adalah yang aktif belajar multiaspek tersebut dengan metode belajar maju selangkah.

Suatu cara pengembangan diri mahasiswa selama belajar pada pendidikan tinggi bertujuan agar dapat menyelesaikan pendidikan dengan menjadi sarjana sekaligus menjadi pribadi yang dewasa dalam hal etika dan moral, dewasa dalam hal emosi di samping kedewasaan intelektual. Sarjana dengan kualifikasi seperti inilah yang kiranya juga secara implisit hendak dihasilkan pendidikan tinggi kita di Indonesia.

Sebagian contoh persoalan sosial di Indonesia ialah buta aksara. Penduduk buta aksara pada sebagian besar tinggal di daerah perdesaan, seperti petani kecil, buruh, nelayan, dan kelompok masyarakat miskin perkotaan, yaitu masyarakat berpenghasilan rendah atau penganggur. Mereka tertinggal dalam hal pengetahuan, keterampilan, serta sikap mental pembaruan dan pembangunan. Akibatnya, akses terhadap informasi dan komunikasi yang penting untuk membuka cakrawala kehidupan dunia juga terbatas karena mereka tidak memiliki kemampuan keaksaraan yang memadai.

Solusi yang dilakukan Kemendikbud saat itu untuk mengentaskan rakyat dari masalah buta aksara melalui kegiatan Keaksaraan Dasar dan Keaksaraan Usaha Mandiri. Kegiatan itu dapat diakses para penyelenggara pendidikan masyarakat yang memenuhi persyaratan.

 

Agen perubahan sosial

Agen perubahan sosial yang dialamatkan kepada kaum muda bisa dimaknai dengan menyiapkan semakin banyak mahasiswa menjadi social entrepreneur (sociopreneur). Program Kemendikbud untuk penguatan kapasistas organisasi kemahasiswaan (ormawa), salah satunya, akan meningkatkan kuantitas dan kualitas sociopreneur di Indonesia. Mahasiswa, melalui ormawa, melakukan pengabdian masyarakat berkolaborasi dengan desa/kelurahan.

Dalam kerangka global, sosok sociopreneur dan program social entrepreneurship merupakan kontribusi riil atas tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs). Beberapa negara pernah berkomitmen untuk mengintegrasikan SDGs sebagai bagian dari program pembangunan nasional dalam upaya menangani isu-isu yang sangat mendasar tentang pendidikan, kemiskinan, kesetaraan gender, lingkungan, dan aspek-aspek penting lainnya di kehidupan. Film KKN di Desa Penari menjadi materi refleksi bersama di Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, untuk mendekatkan mahasiswa pada realitas sosial, memahami kebutuhan dan kebudayaan masyarakat di kehidupan sehari-hari. Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2022.

BERITA TERKAIT