19 May 2022, 05:00 WIB

Pemimpin ASEAN: Saatnya Belajar pada Angsa Hitam Ukraina


Hary Prabowo Analis Internasional dan Geopolitik Asia-Pasifi k |

UKRAINA kini telah menjadi bara api paling membara. Pelan, tapi pasti. Sumbu api merembet ke negeri-negeri Balkan, Eropa Timur, hingga Eropa Selatan. Sementara itu, bara di Timur Tengah belum padam, bara dalam sekam di wilayah Asia-Pasifik kian meningkat suhu panasnya. Dari Sungai Mekong hingga Kepulauan Pasifik, dari Asia Timur Laut hingga Asia Tenggara; telah berkembang menjadi tempat yang semakin berbahaya.

Seluruh api konflik, baik yang berkobar maupun bara dalam sekam, tak ada yang kalis dari kehadiran dan intervensi kebijakan luar negeri AS. Di tengah situasi demikian, para pemimpin Asia Tenggara menggelar KTT AS-ASEAN di Washington DC pada 12-13 Mei 2022. Dengan kedudukan Gedung Putih sebagai tuan rumah, KTT kali ini tentu sarat kepentingan AS, baik secara taktis maupun strategis. Agenda utama menitikberatkan masalah keamanan, perdagangan, dan investasi.

Produk kebijakan luar negeri AS tentang poros Indo-Pasifik (pivot to Asia) sejak era Barack Obama belum direvisi hingga sekarang. Dus, poros Asia yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global dan populasi terbesar dunia masih berlangsung hingga sekarang di tengah ketegangan dunia yang kian genting, rumit, dan berbahaya.

Diplomasi AS di bawah pemerintahan Joe Biden sudah pasti akan memperkuat bandul imbangan kepentingan AS atas geopolitik Asia Tenggara di pihaknya. Setiap napas dan langkah kebijakan luar negeri AS diabdikan sepenuhnya untuk melanggengkan hegemoni dan menghalau pengaruh Tiongkok atas wilayah Asia-Pasifik. Patut dicatat, di tengah AS getol menyerang agresivitas Tiongkok, AS sendiri terus menambah bahan bakar lebih panas sebagai bara dalam sekam di Asia-Pasifik.

SEATO memang sudah lama tiada, tetapi AS memiliki sejumlah penggantinya; pangkalan militer di Papua Nugini serta membangun kaukus kerja sama kemiliteran baru seperti AUKUS (Australia-Inggris-AS) dan QUAD (AS, Jepang, Australia, dan India).

Kebijakan AS-NATO atas Ukraina dan negeri-negeri bekas Uni Soviet di Eropa Timur yang sekarang porak poranda oleh perang pantas menjadi pelajaran paling berharga bagi para pemimpin Asia Tenggara. Agresivitas AS-NATO yang memicu konflik militer sangat serius dengan Rusia, telah menghancurkan Ukraina dan menyeret kawasan Eropa di tepi jurang konflik paling berbahaya pasca-Perang Dingin.

 

Mewaspadai perang proksi dan pecah belah

Tak bisa dimungkiri bangsa Indonesia sekarang hidup dalam pusaran bara dalam sekam yang bertebaran di wilayah geopolitik Asia-Pasifik di tengah negeri-negeri besar sedang beradu kekuatan dan pengaruh secara langsung maupun proksional.

Kebijakan luar negeri AS masih menunjukkan sikap hegemoniknya di semua kawasan yang berurusan dengan rivalnya. Satu sisi, tetap ingin fokus pada prioritas pivot to Asia untuk memperkuat hegemoninya. Di sisi lain, terus menyebarkan bara api panas di mana-mana. Pergulatan AS yang terus memperbesar bahan bakar perang di Ukraina agar berkobar lebih lama dan merusak makin menjauhkan harapan langkah negosiasi dan dialog damai.

Di Asia, Tiongkok muncul dengan wajah lebih soft melalui Inisiatif Keamanan Global (GSI) dengan enam poin yang memberi tekanan jalan damai atas krisis militer global terkini. Kebijakan Xi Jinping ini diumumkan di tengah kebijakan jalur sutra dunia terus dirajut tanpa henti. Tiongkok juga tak lengah dengan terus memperkuat semua armada militer dan mempercanggih alutsistanya sebagai penjaga utama kedaulatan teritorialnya.

Situasi sekarang sangat tidak mudah bagi para pemimpin Asia Tenggara. Terlebih menghadapi jamuan makan malam di Gedung Putih. Perang proksi dan pecah belah semakin kentara dan menajam di berbagai belahan benua. AS tetap memainkan peran sentral dalam memobilisasi dukungan atas kebijakan luar negeri yang sedang dijalankannya di Ukraina maupun di Asia-Pasifik.

Tiongkok memang bukan Rusia di kawasan Asia-Pasifik. Ukraina juga pasti berbeda kasus dengan Taiwan maupun Laut China Selatan. Namun, semua bermakna sama sebagai bara dalam sekam. Bahkan, tidak mustahil akan muncul angsa hitam di Asia bila gendang dan agresif yang ditabuh AS di kawasan Asia-Pasifik semakin merusak keseimbangan bagi keamanan kawasan.

 

Tantangan esensial kepemimpinan RI

Di tengah situasi demikian, peran kepemimpinan Indonesia sangat dibutuhkan tampil lebih nyata. Bukan hanya bagi ASEAN, melainkan bagi geopolitik Asia-Pasifik dan kedudukan presidensi G-20 yang sangat strategis secara global.

Langkah esensial terpenting bagi para pemimpin di Asia Tenggara yang hadir dalam KTT AS-ASEAN ialah mengambil pelajaran paling berharga atas implikasi kebijakan AS-NATO yang memicu Rusia melancarkan operasi militer khusus di Ukraina yang sama sekali tak bisa dibenarkan. Ukraina telah menjadi black swan (angsa hitam) yang memilukan, berimplikasi besar, dan rumit.

Angsa hitam yang serupa tidak boleh terjadi di kawasan Asia-Pasifik. Setidaknya, bagi para pemimpin ASEAN, kini bukan saatnya manut dan menjadi anak manis penghamba kapital AS dengan kompensasi apa pun yang akan memperuncing kontradiksi yang sudah sangat genting, rumit, dan berbahaya. Janji manis peningkatan investasi dan perdagangan tidak akan menguntungkan jangka pendek maupun jangka panjang di tengah isu keamanan global yang kian panas membara dan sangat mendesak dipecahkan.

Kebijakan seorang pemimpin kesatria bijaksana perlu dikedepankan dalam menghadapi situasi genting dan pangkuan politik AS. Politik pragmatisme ekonomi sekarang bukan waktunya dipertuhankan di atas segalanya. Suatu politik bebas aktif harus benar-benar diperankan oleh Indonesia sebagai amanat konstitusi dalam menjaga perdamaian dunia.

Saat ini mendapatkan momentum yang pas. Ibarat berjalan di titian di atas jurang terjal, perhitungan presisi sangat menentukan walau satu inci bagi keseimbangan. Bila berhasil, akan menjadi legasi kebijakan yang dikenang anak-cucu. Namun, bila tergelincir, kemalangan dan nasib buruk juga akan menimpa anak cucu bangsa Indonesia.

 

BERITA TERKAIT