12 May 2022, 05:05 WIB

Dua Kartini Milenial 2022


Guntur Soekarno Pemerhati sosial | Opini

DALAM memperingati Hari Kartini 21 April 2022, ada dua sosok Kartini milenial yang patut diketahui masyarakat umum. Keduanya mempunyai kemampuan dan keistimewaan yang berbeda. Namun, keduanya dibakar semangat pembaruan dari RA Kartini beberapa dekade yang lalu.

Yang pertama ialah seorang mahasiswi tingkat akhir Jurusan Antropologi Budaya Universitas Indonesia, yang merupakan cucu penulis dan cicit Bung Karno, bernama Rakyan Ratri Syandriasari Kameron dengan panggilan akrab Non Syandria. Ia penerima IBW (Indonesia’s Beautiful Women) dari High End Magazine pada 2022.

Pertimbangannya ialah yang bersangkutan berhasil memopulerkan kembali budaya Indonesia di kalangan milenial/generasi muda saat ini, khususnya budaya tari Bali, antara lain dengan keberhasilannya mendirikan sebuah sanggar tari Bali yang bernama Kembalikan Baliku di lokasi Jakarta Selatan.

Prestasi pertama yang diraih sanggar tari tersebut ialah menyelenggarakan pergelaran akbar berjudul Sesolahan Bali Titiang di Restauran Kunstkring, Jakarta Pusat, beberapa waktu yang lalu.

Non Syandria, selain piawai menari, bahkan menjadi guru tari Bali dimulai dengan belajar Tari Bali dan Tari Nasional yang lainnya di bawah bimbingan Eyang Guruh Soekarnoputra. Selain tari Bali, yang bersangkutan menguasai seni lukis cat minyak di bawah bimbingan pelukis Mulyadi.

Non Syandria pernah membawakan Tari Gending Sriwijaya di hadapan Raja Kamboja Norodom Sihamoni pada 2019 di Phnom Penh. Bersama dengan rekannya, Wulan Desiari, sanggar tarinya kini mempunyai anggota aktif sebanyak lebih dari 20 muda mudi milenial dan berencana pada akhir 2022 akan mengadakan pergelaran kolosal lagi di Jakarta. Sebenarnya di dalam sanggar tarinya muda mudi milenial tersebut tidak hanya dilatih menari, tetapi juga dilatih agar mencintai budaya nasional, cara berpakaian nasional, bahkan mencintai kuliner nasional dari berbagai daerah.

Sebagai pemegang award Indonesia’s Beautiful Women foto-foto Non Syandria tampil di High End Magazine yang sebenarnya sebelumnya foto-foto sosok Non Syandria sudah pernah tampil di majalah Tatler hasil karya penulis jauh hari sebelumnya.

 

Tokoh lain sosok Kartini milenial 2022

Dalam menghadapi perhelatan G-20 di Bali, ada sosok Kartini lain yang perlu diketahui masyarakat pada umumnya, yang tugasnya tidak tanggung-tanggung beratnya, yaitu menjadi juru bicara pada perhelatan G-20 di Bali.

Maudy Ayunda, begitu ia disapa, telah membekali dirinya dengan berbagai macam pengalaman seperti bintang film, penyanyi, dan pesohor di majalah. Tugasnya yang tidak tanggung-tanggung tersebut ialah memberikan seluruh informasi dari perhelatan G-20 kepada masyarakat agar seluruh masyarakat mengetahui apa yang sedang terjadi di perhelatan G-20 tersebut. “Kita harus bangga Indonesia berkesempatan mempunyai perubahan skenario menyelamatkan dunia dari pandemi, krisis ekonomi berkepanjangan, perubahan iklim, dan transformasi digital,” ujarnya (Media Indonesia, 2 April 2022).

Maudy yang penuh percaya diri akan mampu melaksanakan tugasnya sebagai juru bicara perhelatan internasional G-20, yang presidensinya dipegang Indonesia, ternyata ialah sarjana lulusan Universitas Oxford Inggris dan Standford Amerika Serikat. Hal itu akan sangat membantu yang bersangkutan dalam rangka berkomunikasi dengan seluruh anggota terhormat yang nantinya akan hadir di G-20.

Untuk kita-kita kaum patriotik yang awam akan tugas yang diemban Maudy, rasanya amat berat. Akan tetapi, jika melihat dari kesiapan baik fisik, terutama mental dari yang bersangkutan, kita optimistis dan yakin bahwa Ayunda Faza Maudya, begitu nama lengkap Maudy Ayunda, akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Sukses untuk Maudy Ayunda!

 

Sosok hebat lelaki milenial 2022

Beberapa waktu yang lalu, penulis diwawancarai seorang 'pemuda' berumur 16 tahun yang berkemampuan sangat menakjubkan. Bayangkan saja, pada usianya ke-14 ia pernah mewawancarai tokoh dunia yang tidak tanggung-tanggung, yang dijuluki 'Soekarno Kecil', yaitu Mahathir Mohamad dari Malaysia.

Kemudian berturut-turut, ia melalap tokoh-tokoh Indonesia seperti dubes-dubes RI berkuasa penuh di mancanegara, beberapa mantan pejabat tinggi Indonesia termasuk mantan KSAU Marsekal (Purn) Chappy Hakim, tokoh Pusat Study Air Power Indonesia.

Pada perjumpaan pertama dengan penulis, Dimaz Kurniawan tampil sangat tenang dan percaya diri untuk melakukan wawancara dengan penulis yang usianya 60 tahun lebih tua daripada yang bersangkutan, dan pantas menjadi eyang kakungnya.

Wawancara yang dilakukan membuat penulis bertambah penasaran karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bukan pertanyaan yang remeh, melainkan pertanyaan yang sangat berbobot ilmiah layaknya diajukan seorang profesor. Akibatnya, penulis selama wawancara harus benar-benar konsentrasi dan berhati-hati dalam mengajukan jawaban-jawaban yang kadang-kadang sangat pelik.

Wawancara yang dilakukan secara sangat terbuka dan spontan tanpa ada topik tertentu yang direncanakan ternyata dapat berjalan dengan baik berkat kebolehan cucunda Dimaz Kurniawan dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara sistematis. Sambil menjawab pertanyaan, pikiran penulis bertanya-tanya, berapa IQ anak genius ini sehingga demikian dalam dan sistematisnya yang bersangkutan mengajukan pertanyaan-pertanyaannya.

Di penghujung wawancara, penulis terkejut karena yang bersangkutan menawarkan agar penulis mengajukan pertanyaan kepadanya sekehendak hati penulis. Dalam menjawab 'tantangannya', penulis membuka pertanyaan, sejak usia berapa yang bersangkutan mulai melakukan wawancara kepada tokoh-tokoh masyarakat. Jawabannya mengejutkan! Sejak berumur 12 tahun ia sudah melakukan wawancara-wawancara tokoh-tokoh masyarakat, termasuk tokoh-tokoh politik.

Pertanyaan penulis selanjutnya ialah setelah penulis, siapa tokoh yang ingin ia wawancarai, dijawab yang bersangkutan, “Eyang Putri Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan.” Sekaligus yang bersangkutan minta tolong agar keinginannya disampaikan kepada yang bersangkutan.

Ketika ditanya mengenai hobinya, jawabannya ialah membaca bahkan di toilet pun ia sempatkan untuk membaca. Bukan main! Hal itu sama dengan kebiasaan Bung Karno yang di dalam toilet pun disempatkan untuk membaca berbagai berkas, surat kabar, majalah, dan lain-lain. Jawaban yang paling mengejutkan ialah mengenai cita-citanya di kelak kemudian hari. Tanpa ragu ia menjawab ingin menjadi Presiden Ke-10 RI pada 2042.

Penulis benar-benar dibuat geleng-geleng kepala karena kagum dan spontan memberikan nasihat-nasihat, dari sekarang sudah harus mempersiapkan diri dengan pikiran-pikiran dan ajaran-ajaran fundamental Bung Karno agar pada 2042 yang bersangkutan dapat menjadi Soekarno ke-2 untuk NKRI di masa depan.

Dimaz, doa dari Akung!

BERITA TERKAIT