29 April 2022, 18:00 WIB

Jalan Terang Transisi Energi Negara-negara G20


Khoiria Oktaviani, Subkoordinator Rencana dan Program Komunikasi dan Informasi Kementerian ESDM |

TRANSISI energi di Indonesia telah mendorong perekonomian yang lebih ramah lingkungan, salah satunya penggunaan sumber energi yang mulai beralih dari energi fosil ke penggunaan energi bersih nir emisi. Hal ini juga menegaskan kembali komitmen negara kita dalam mencapai target net zero emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat lagi.

Dalam kaitan itulah momentum Indonesia sebagai tuan rumah perhelatan pertemuan pimpinan negara-negara G-20 menjadi catatan sejarah dalam perkembangan transisi energi global. Mungkin banyak yang tidak sadar, negara-negara G-20 adalah penyokong utama ekonomi global, memegang porsi 80% gross domestic product (GDP) dunia dan berkontribusi 75% terhadap perdagangan dunia. Dengan kontribusi yang besar tersebut, di sisi lain negara-negara G-20 juga menjadi penyumbang 81% emisi karbon dari sektor energi, juga mengonsumsi 77% energi di dunia. 

Menilik semua itu, pemerintah menyadari benar pentingnya isu transisi energi diangkat dalam pembahasan utama G-20. Isu ini kemudian menjadi isu prioritas pada gelaran G-20 mendampingi dua isu lainnya, yakni sistem kesehatan dunia serta transformasi ekonomi dan digital. Posisi strategis Indonesia sebagai satu-satunya perwakilan negara ASEAN yang tergabung dalam G-20, bisa jadi alasan kenapa isu transisi energi harus dibahas lebih serius ke depan. Seiring upaya akselerasi target nasional sekaligus menyokong upaya kolektif dunia mewujudkan kebijakan yang dapat mempercepat transisi energi global.

Green economy

Perhelatan pertama Energy Transitions Working Group (ETWG) yang digelar di Yogyakarta, 23-25 Maret 2022 meninggalkan banyak cerita. Sambutan hangat tuan rumah dirasakan banyak peserta. Pengalaman menikmati gelaran sendratari sembari makan malam di area Candi Prambanan dan Candi Borobudur jadi kenangan para delegasi yang hadir di Yogyakarta.

Terlepas dari kesan keramahan nusantara yang didapat para delegasi G20, forum ETWG menjadi momen yang tepat untuk menunjukkan pada dunia bahwa kebijakan energi yang diambil Indonesia telah sejalan dengan tren green economy.  Secara subtansi, Yogyakarta telah sukses mengantarkan lahirnya sebuah aklamasi agenda transisi energi negara-negara G-20. Pada akhir pembahasan, aksesibilitas energi, peningkatan teknologi energi bersih, dan peningkatan pembiayaan energi disepakati menjadi tiga pilar ETWG G-20 Presidensi tahun ini. 

Dari sisi aksesibilitas energi, para anggota G-20 telah memiliki komitmen NZE untuk melakukan transisi energi sesuai dengan kondisi ekonomi, sosial, energi dan kemampuan teknologi masing-masing negara, yang ditargetkan dicapai pada 2050 hingga 2070. Fokus mencapai peningkatan aksesibilitas energi, khususnya target global pada akses energi yang terjangkau, handal, berkelanjutan, dan modern untuk mencapai target sustainable development goal no.7 (SDG7) serta SDGs yang terkait. 

Pada 2022 mengawali 'tahun-tahun aksi' hingga 2030 sebagai 'dekade aksi' untuk mencapai SDG7 serta transisi yang berkeadilan. Pencapaian SDG7 juga dipacu untuk mendekatkan jarak akses energi universal, termasuk dalam konteks tematik negara-negara kepulauan, melalui pendekatan yang fleksibel, tepat, terdesentralisasi, serta didukung perencanaan nasional yang solid.

Dari sisi peningkatan teknologi energi bersih, negara-negara G-20 fokus mendorong penggunaan teknologi rendah emisi yang terjangkau, termasuk pemanfaatan carbon capture utilization and storage (CCUS) dalam peta jalan NZE serta pengembangan industri bersih, transfer teknologi, integrasi energi terbarukan dan efisiensi energi dalam proses transisi energi.

Di sini kerja sama internasional berbasis teknologi pada sektor ketenagalistrikan dan industri besar mutlak dilakukan. Peningkatan harus didukung dengan pendanaan, inovasi, serta research, revelopment, & deployment (RD&D) dalam memaksimalkan teknologi yang tersedia, serta mengintegrasikan dengan teknologi generasi selajutnya.

Dari sisi pembiayaan, diperlukan upaya memobilisasi praktik-praktik terbaik serta kebijakan-kebijakan yang efektif untuk meningkatkan pembiayaan berkelanjutan dalam transisi energi. Yang juga harus diperhatikan adalah menghindari ketimpangan dalam pembiayaan energi bersih berdasarkan pada beberapa metode pendekatan yang komprehensif. 

Negara-negara G-20 sepakat perlunya pemahaman bersama bahwa transisi energi global merupakan kesempatan untuk menyeimbangkan kembali perekenomian global menjadi lebih berkelanjutan melalui ekonomi berkelanjutan, penciptaan lapangan kerja, serta kemitraan antarpihak termasuk sektor swasta dalam pendanaan berkelanjutan.

Tanpa menafikkan peran penting kedua pilar ETWG lainnya, G-20 dianggap menjadi forum penting untuk memobilisasi kebutuhan pendanaan transisi energi, yang hingga saat ini masih dirasa menjadi tantangan besar negara-negara berkembang yang tergabung dalam G20. Tanpa adanya dukungan dari negara lain dan kolaborasi bersama dari seluruh pemangku kepentingan untuk menyediakan pendanaan baik skala nasional maupun internasional, transisi energi dirasa tidak dapat berjalan bagi negara-negara yang berstatus masih berkembang. 

Transisi energi

Dukungan dan komitmen anggota-anggota G20 juga dibutuhkan dalam upaya menjaga kestabilan pasar, terutama di tengah ketidakpastian pasar energi akibat konflik global yang terjadi. Semua jenis teknologi dan bahan bakar juga penting untuk dipertimbangkan secara ekonomi dalam mengakselerasi transisi sebagai upaya menjamin ketahanan energi negara-negara G20.

Dalam satu dekade terakhir, tercatat penambahan kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT) di dunia semakin dominan dibandingkan dengan penambahan pembangkit fosil. Di Indonesia sendiri, harga EBT juga cenderung turun dari tahun ke tahun, menunjukkan negara kita telah bergerak cepat mengakselerasi transisi energi. Bukan tidak mungkin bila harga energi EBT nantinya akan setara dengan harga energi fosil dan mencapai keekonomiannya, sehingga masyarakat tak lagi segan untuk turut serta mengambil peran memanfaatkan energi dari sumber-sumber terbarukan.

Sebagai negara kepulauan yang ada di garis khatulistiwa dan juga dikelilingi ring of fire, potensi EBT di Indonesia sangat besar dan beranekaragam. Namun sayangnya potensi besar tersebut belum termanfaatkan secara optimal. Dibutuhkan upaya kolektif mendorong pemanfaatan sumber EBT yang didukung berbagai pihak, termasuk para generasi muda yang akan menjadi tulang punggung penyediaan energi nasional di masa depan. Di tangan para pemuda inilah estafet transisi energi akan dilanjutkan. Di tangan para pemuda, target besar NZE digantungkan. 

Pada gelaran ETWG Yogyakarta, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, secara khusus memberi perhatian dan mendorong inisiatif yang dilahirkan para pemuda dalam mendorong transisi energi dunia melalui event khusus bagi kalangan milenial bertajuk Energy Transitions Youth Forum. Jalur komunikasi antar pemuda negara-negara G-20 memang perlu mendapat perhatian khusus, terutama dalam mencapai target green economy. 

Memanfaatkan momentum G-20, pemuda negara-negara di dunia selayaknya mendapat kesempatan dalam menjalin kerja sama satu sama lain, mencetuskan ide dan merumuskan pemikiran pada Presidensi G-20 Indonesia 2022. Poin penting lain yang bisa dilakukan para pemuda adalah mengawal hasil dari G-20 melalui pantauan, analisis dan sikap kritis yang terus dikembangkan seiring rangkaian perjalanan G-20, sehingga tongkat estafet dapat diselaraskan demi jalannya transisi energi yang lebih baik di masa mendatang.

Bila ini sudah bisa diperhatikan dan difasilitasi dengan baik, negara-negara G-20 tak perlu lagi khawatir. Sejatinya para pemudalah yang membuka jalan terang transisi energi negara-negara G20 ke depan. 

BERITA TERKAIT