13 March 2022, 05:00 WIB

Yin Yang


Adiyanto Wartawan Media Indonesia |

SUATU hari, sehabis berolahraga pagi, saya melihat tiga ekor capung hendak hinggap di alang-alang pada tepi sebuah tanah lapang. Saya sempat tertegun (tepatnya mungkin merenung) melihat pemandangan itu. Bukan lantaran terpesona pada merah tubuh atau ekornya, yang berbeda dengan jenis capung pada umumnya yang berkelir hijau. Bukan itu. Namun, lebih tepat memantik pertanyaan apa manfaat makhluk-makhluk tersebut bagi manusia.

Pertanyaan kalkulatif itu mungkin ciri khas manusia di zaman antroposen ini, era yang menurut para ahli ilmu bumi, ditandai dengan dampak eksploitasi berlebihan manusia terhadap alam. Menurut mereka, kini segala aktivitas manusia telah berdampak pada ekosistem di planet ini. Untuk memenuhi selera busana, misalnya, entah sudah berapa puluh jenis flora dan fauna yang mati. Entah sudah berapa ratus hektare hutan yang dibabat untuk berbagai keperluan. Belum lagi berbagai jenis hewan dan tanaman yang dikonsumsi untuk memenuhi selera makan.

Memang Tuhan menciptakan beragam mahluk itu di antaranya untuk keberlangsungan hidup manusia. Namun, pernahkah kita juga memikirkan dampak laku hidup kita terhadap keberlangsungan hidup mereka? Capung secara ekonomi mungkin tidak bermanfaat untuk manusia (makanya tidak ada yang mau beternak serangga tersebut), tapi bukankah ia juga berguna untuk membantu penyerbukan tanaman sekaligus menjaga rantai makanan.

Jumat (11/3), saya membaca sebuah artikel di The Guardian tentang hasil sebuah penelitian mengenai jumlah spesies tumbuhan yang terancam punah. Para peneliti itu mengategorikan spesies tanaman mana yang paling terpengaruh oleh manusia sejak awal era antroposen. Mereka, para peneliti dari lembaga Smithsonian, mengategorikan lebih dari 80 ribu spesies tanaman di seluruh dunia dan menemukan bahwa sebagian besar dari tumbuhan itu akan punah karena manusia tidak lagi membutuhkan. Temuan ini menunjukkan secara gamblang tentang ancaman terhadap keanekaragaman hayati, yang pada gilirannya akan membuat ekosistem kian rentan dalam menghadapi cuaca ekstrem dan perubahan iklim.

Berbagai bencana yang terjadi makin sering akhir-akhir ini, entah banjir, tanah longsor, badai, entah kekeringan, atau kelaparan, mungkin seharusnya menjadi peringatan bagi kita untuk belajar lagi mengenai art of loving, seperti yang didengungkan Erich Fromm. Seni mencintai tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga makhluk hidup lainnya di muka Bumi ini.

Dulu nenek moyang kita, makhluk pemburu-pengumpul, menciptakan perkakas sederhana sebagai keterampilan sebagai sarana beradaptasi dengan ganasnya alam. Namun, ironisnya, teknologi yang semakin canggih akhirnya malah membuat manusia berjarak dengan alam. Begitu menguasainya, mereka lantas jemawa dan berbuat seenaknya. Makhluk-makhluk lainnya dianggap tidak lagi sejajar dan punya hak hidup yang sama di planet ini. Padahal, mereka juga bagian dari ekosistem.

Teknologi tentu bukan barang haram. Ia lahir sebagai manifestasi puncak pengetahuan manusia guna mempermudah hidup mereka. Namun, pemanfaatannya bukan cuma sebatas nilai guna. Ia harus pula mempertimbangkan sisi etis. Penggunaan pestisida misalnya, tidak serta-merta semata demi keuntungan perusahaan pabrik kimia, tapi juga mesti memperhitungkan dampaknya terhadap kesuburan tanah. Begitu pun dengan pemanfaatan nuklir, batu bara, dan sebagainya. Selain asas manfaat, kita juga mesti mempertimbangkan sisi mudaratnya. Tanpa keseimbangan ini (Yin Yang, kata orang), kehidupan di dunia bakal tambah sengsara, alih-alih sejahtera.

BERITA TERKAIT