25 February 2022, 20:15 WIB

Tantangan Pengembangan SDM


Isti Nuryati, Widyaiswara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemendagri |

SUMBER daya manusia (SDM) adalah komponen penting sebagai pemikir, perencana dan penggerak dalam sebuah organisasi, baik institusi, perusahaan maupun negara. Jadi secara mikro, SDM adalah individu yang bekerja dan menjadi anggota suatu perusahaan atau institusi, disebut sebagai pegawai, buruh dan karyawan, pekerja ataupun tenaga kerja. 

Secara makro, SDM dimaknai sebagai penduduk suatu negara yang sudah memasuki usia angkatan kerja, baik yang belum bekerja maupun yang sudah bekerja. Jadi SDM adalah aset organisasi yang harus dikembangkan kemampuannya untuk mewujudkan tujuan organisasi.

Semua organisasi, baik institusi, perusahaan, maupun negara, pasti berharap SDMnya unggul. Namun harapan tersebut tidak semuanya terpenuhi. Tidak semua pegawai, karyawan, atau buruh memenuhi kemampuan yang diharapkan. Untuk itu perlu dilakukan pengembangan SDM, yang meliputi pengembangan daya pikir dan daya fisik. 

Pengembangan SDM dapat dilakukan melalui pendidikan formal, pendidikan dan pelatihan, bimbingan teknis, workshop, seminar, lokakarya, coaching, mentoring, dan pendampingan. Bahkan di era keterbukaan informasi sekarang ini, pengembangan pengetahuan dapat diperoleh secara otodidak dengan mempelajari sendiri bersumber dari berbagai media informasi.

Pengembangan daya pikir 

Daya pikir merupakan kecerdasan (modal dasar) yang dibawa oleh manusia sejak lahir yang membuat manusia mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan secara fisik atau daya fisik manusia. Dengan menggunakan akal budi, manusia mampu mencari cara atau jalan keluar untuk berbagai permasalahan yang tidak mampu dilakukan oleh daya fisik manusia dengan berbagai inovasi dan ide yang diolah oleh daya pikir manusia. Kecerdasan manusia tolak ukurnya intelligence quotient (IQ) dan emotional quotient (EQ).

Daya pikir dikembangkan mulai dengan meningkatkan kualitas hulunya, yaitu pendidikan formal. Badan Pusat Statistik (17 November 2021) mencatat di Indonesia terdapat angkatan kerja sebanyak 138,2 juta jiwa. Tidak tamat SD 10%, tamat SD 26,2%, tamat SMP 18,2%, tamat SMA/SMK 32%, dan tamat perguruan tinggi 13,6%.

Semakin tinggi tingkat pendidikan suatu penduduk, menunjukan semakin tinggi kualitas SDM di negara tersebut. Pendidikan akan meningkatkan kemampuan penduduk untuk mengolah sumber daya alam yang dimiliki sehingga akan meningkatkan kesejahtraan penduduk.

Sumber daya manusia menjadi perhatian utama bagi organisasi, perusahaan, institusi dan negara. Kualitas dan talenta yang dimiliki setiap  individu dipandang memegang peranan penting dalam pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja, dan inovasi. Untuk itu negara-negara mempersiapkan dan menetapkan langkah dalam meningkatkan daya saing, talenta, dan kualitas SDM.

Peranan pendidikan tinggi sangat signifikan sebagai penggerak dalam meningkatkan SDM. Sebab pendidikan tinggi bertujuan mempersiapkan peserta didik dalam memasuki dunia kerja serta mempersiapkan peserta didik untuk dapat berinteraksi dan hidup dengan baik di dalam masyarakat. Sistem pendidikan tinggi diharapkan mampu memudahkan seseorang menuntut pendidikan tinggi sesuai dengan bakat minat dan tujuannya, meskipun dengan tetap mempertahankan persyaratan-persyaratan pendirian program studi yang bersangkutan.
    
Pengembangan daya fisik

Daya fisik merupakan kekuatan dan ketahanan seseorang untuk melakukan pekerjaan yang berat dan bekerja dalam waktu lama, maupun ketahanannya menghadapi serangan penyakit. Misalnya, ada orang hanya mampu bekerja 4 jam sehari, tetapi ada yang sampai 8-10 jam sehari. Daya fisik sangat penting dan merupakan penentu bagi seseorang untuk dapat mencapai cita-citanya. 

Manusia adalah orangnya, sedangkan SDM adalah kemampuan totalitas daya pikir dan daya fisik yang terdapat pada orang tersebut. Kualitas SDM harus ditingkatkan supaya produktivitas kerjanya meningkat, sehingga tujuan organisasi tercapai.

Daya fisik berupa ketrampilan atau kecakapan dapat dikembangmelalui pelatihan dan usaha belajar oleh manusia itu sendiri. Dengan kata lain, kemampuan manusia itu sendiri ditentukan oleh daya pikir dan daya fisiknya, sehingga manusia menjadi unsur utama dalam aktivitas kegiatan baik secara individual maupun dalam organisasi. Contohnya, peralatan canggih atau mesin dengan teknologi tinggi seperti laptop, CCTV, dan lain-lain itu semua adalah hasil olah daya pikir atau akal budi manusia yang bertujuan untuk meringankan kerja fisik manusia.

Manajemen SDM

Manajemen SDM diperlukan agar dapat dilakukan pengembangan secara optimal. Manajemen SDM dimulai dari proses perencanaan sampai dengan pemberhentian SDM dalam suatu organisasi. Perencanaan SDM dapat diuraikan sebagai suatu proses yang berusaha menjamin jumlah dan jenis pegawai yang tepat tersedia, pada tempat yang tepat, serta pada waktu yang tepat untuk waktu yang akan datang mampu melakukan hal-hal yang diperlukan. Hal itu agar organisasi dapat terus mencapai tujuannya. 

Perencanaan SDM adalah merencanakan tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan secara efektif dan efisien dalam membantu terwujudnya tujuan. Perencanaan SDM ini untuk menetapkan program pengorganisasian, pengarahan, pengendalian, pengadaan, pengembangan, kompensai, pengintegrasian, pemeliharaan, kedisiplinan, dan pemberhentian karyawan. Jadi, dalam rencana SDM harus ditetapkan semua hal tersebut di atas secara baik dan benar.

Peran PNS
 
Negara, sebagai organisasi makro, memiliki pemerintahan yang berdaulat. Pemerintah mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemerintah mengurus dan mengelola baik SDM maupun sumber daya alam (SDA). Roda pemerintahan dijalankan oleh aparatur sipil negara (ASN), yang terdiri dari pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), yang mempunyai tugas melaksanakan kebijakan publik, memberikan pelayanan publik, mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.
 
Data BPS 2021 persentase PNS hanya 1,52% (4.168.118 jiwa) dari penduduk nasional (273.523.615 jiwa). Namun, peranannya dalam pembangunan nasional sangatlah signifikan. PNS dituntut dalam melaksanakan tugasnya dengan mengimplementasikan core value ASN BerAKHLAK (berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif), dengan employer branding ASN 'Bangga Melayani Bangsa'. 

Amanah ini berat, perlu serius dalam mengembangkan SDM, baik daya pikir maupun daya fisiknya. Seperti yang sudah lama dicita-citakan para pendiri bangsa. WR Supratman menuangkan hal itu dalam petikan lagu kebangsaan, 'Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya untuk Indonesia Raya'.

BERITA TERKAIT