24 February 2022, 05:00 WIB

Menakar Perekonomian Indonesia di Kawasan Asia


Ryan Kiryanto Ekonom dan Staf Ahli Otoritas Jasa Keuangan | Opini

DI berbagai media asing, Asia diramalkan akan menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi global di masa pascapandemi covid-19. Sebagai kawasan yang terus bertumbuh, Asia menjadi magnet ekonomi dunia. Dimotori Tiongkok, Jepang, Singapura, India dan Indonesia, Asia mencerminkan suatu oase perekonomian yang menjanjikan.

Banyak pemikir hebat di Asia telah belajar banyak dari para koleganya di negara-negara maju (terutama Eropa dan Amerika Serikat) tentang bagaimana mengelola perekonomian yang efisien dan efektif dengan segala regulasi yang harus dipersiapkan, baik yang bersifat market driven maupun regulatory driven. 

Satu hal, yang bisa dipetik dari keberhasilan kisah mereka mengangkat jati dirinya di pentas internasional, ialah berani mengambil risiko atas setiap langkah inovasi dan kreativitas yang dilakukannya.

Kemajuan bidang teknologi informasi terus dikembangkan karena keyakinan bahwa penguasaan teknologi menjadi salah satu kunci utama memajukan ekonomi. Pada akhirnya, digitalisasi di semua aspek kehidupan menjadi sesuatu yang tidak terelakkan lagi karena ketergantungan yang makin tinggi. Diskursus mengenai metaverse, kini menjadi satu contoh nyata bahwa peradaban manusia terus berubah, bergerak, dan berkembang sesuai dengan tingkat literasi teknologi masyarakatnya.

 

 

Pelajaran berharga dari pandemi

Negara-negara Asia telah belajar banyak dari masa pandemi selama dua tahun terakhir ini. Mereka, termasuk Indonesia, berjibaku mengendalikan pandemi dengan tetap berusaha keras menjaga roda perekonomian tidak macet. Pada 2020 lalu, hampir semua negara mengalami tekanan yang hebat dan luar biasa karena belum mampu secara tepat mengendalikan pandemi. Kebijakan yang ditelurkan lebih bersifat coba-coba karena sifat pandemi ini yang unprecedented. Apa pun kebijakan yang ditempuh terlihat hasilnya kurang lebih sama, yakni perekonomian terpuruk dan hampir semuanya mengalami kontraksi ekonomi.

Seiring dengan waktu, pengendalian pandemi semakin baik dengan ditemukannya vaksin anti covid-19 di sejumlah negara. Konfirmasi atas keberhasilan sejumlah negara dalam mengendalikan pandemi covid-19. Meskipun belum tuntas, itu terlihat dari angka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) negara-negara Asia yang sudah positif. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Asia pada 2021 berkisar 6,5% setelah pada 2020 tumbuh minus 1,3%.

Ekonomi Tiongkok sebagai motor Asia tumbuh 8,1% dan lebih tinggi daripada 2020 yang hanya 2,3% dan melampaui ekspektasi pemerintah yang hanya 6%. Ekonomi Singapura tumbuh 7,2% pada 2021, bangkit dari resesi terburuk akibat pandemi sejak 1965. Salah satu negara ASEAN, yakni Filipina, pada 2021 ekonominya tumbuh 5,6%. Realisasi angka ini menempatkan ekonomi Filipina di jalur level prapandemi meskipun kini dibayangi varian omikron dan laju inflasi yang menimbulkan risiko terhadap pertumbuhan. Indonesia pun mampu mencatatkan pertumbuhan pada 2021 sebesar 3,69%, angka yang relatif moderat jika dibandingkan pada 2020 yang minus 2,07%.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi tahunan negara-negara Asia, tercatat pula total volume PDB juga membaik. Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan Tiongkok masih memimpin sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia. Menurut besaran PDB, nominal ekonomi negara ‘Tirai Bambu’ itu mencapai US$16,86 triliun pada 2021.

Nilai tersebut merupakan terbesar kedua di dunia setelah AS. Jepang yang selama beberapa dekade memimpin kini tersalip oleh Tiongkok. Besaran PDB Jepang tercatat US$ 5,1 triliun menempati posisi kedua di Asia. India dengan nilai PDB US$2,94 triliun. Menyusul Korea Selatan dengan nilai PDB US$ 1,82 triliun. Adapun besaran PDB Indonesia US$1,51 triliun yang menempatkannya di posisi kelima negara ekonomi terbesar di Asia.

 

 

Outlook 2022

IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global akan melemah dari 5,9% pada 2021 menjadi 4,4% pada 2022 (World Economic Outlook Update, Januari 2022). IMF menilai pelemahan ekonomi global dipengaruhi risiko penyebaran varian omikron, gangguan rantai pasok global, volatilitas harga energi, laju inflasi, ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina, serta ancaman bencana alam terkait perubahan iklim.

Beberapa negara akan tetap stabil, bahkan meningkat cukup signifikan dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan PDB India pada 2022 diproyeksikan stabil seperti 2021, yakni di level 9%. Filipina diproyeksikan tumbuh dari 4,6% menjadi 6,3%, Spanyol tumbuh dari 4,9% menjadi 5,8%, Malaysia tumbuh dari 3,5% menjadi 5,7%. Lalu, Mesir tumbuh dari 3,3% menjadi 5,6%, Arab Saudi tumbuh dari 2,9% menjadi 4,8% dan Indonesia tumbuh dari 3,7% (angka realisasi) menjadi 5,6%.

Namun, terdapat beberapa negara yang diramalkan mengalami penurunan PDB meskipun tetap terhitung cukup kuat di skala global, yaitu Tiongkok dari 8,1% menjadi 4,8%, Inggris dari 7,2% menjadi 4,7%, dan Polandia dari 5,4% menjadi 4,6%.

Untuk menghadapi tantangan ekonomi pada 2022, IMF mendorong negara-negara untuk memperkuat kebijakan penanganan pandemi, menggencarkan vaksinasi covid-19, memperkuat kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi, meningkatkan investasi untuk mengantisipasi bencana perubahan iklim, serta menjaga likuiditas melalui kerja sama internasional.

Masifnya vaksinasi dan pelonggaran kebijakan restriksi akan mendorong mobilitas sehingga mempercepat pemulihan konsumsi lebih kuat. Sektor pariwisata pun akan lebih bergairah. Paralele dengan itu implementasi program pemulihan ekonomi nasional (PEN) pada 2021 dan berlanjut pada 2022 ini diperkuat dengan fokus kebijakan pada penciptaan lapangan kerja, perbaikan manajemen sistem kesehatan dan perlindungan sosial, akan menjadi faktor kunci pemulihan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan dan inklusif.

 

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi

 

BERITA TERKAIT