14 February 2022, 05:10 WIB

Edukasi Literasi Iklim


Syamsir Alam Dewan Pengawas Yayasan Sukma |

PERMASALAHAN perubahan iklim dalam kurun dua dekade terakhir ini sudah menjadi diskursus global dan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya, tak terkecuali dunia pendidikan/kurikulum. Dampak perubahan iklim merupakan sesuatu yang nyata dan bahkan telah dirasakan penduduk Planet Bumi, terutama pada aspek kehidupan ekonomi, sosial budaya, kesehatan, dan lingkungan. Berbagai bencana berupa suhu udara ekstrem yang berakibat pada kekeringan, kebakaran hutan, bencana alam banjir, dan tanah longsor.

Semua itu terjadi sebagai akibat, baik langsung maupun tidak langsung, perubahan iklim dan pemanasan global. Sayangnya, meskipun perubahan iklim sudah menjadi ancaman serius dan nyata, kesadaran publik terhadap masalah ini ternyata masih rendah, khususnya di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dan bahkan perubahan iklim itu dinilai 'kurang populer jika dibandingkan dengan isu-isu lain, seperti korupsi, pemilu, terorisme dan pengungsi'. (Putrawidjaja, 2008; Wahyuni, 2017).

 

 

Peran lembaga pendidikan

UNESCO, melalui program Climate Change Education for Sustainable Development, menekankan pentingnya peran lembaga pendidikan sebagai agen perubahan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman generasi muda dalam 'literasi iklim' dan dampak destruktif dari pemanasan global terhadap kehidupan. Salah satu strategi yang ditempuh untuk mewujudkan harapan itu ialah mengintegrasikan isu-isu yang terkait dengan perubahan iklim ke dalam kurikulum sekolah (Satia Zen, 2022).

Untuk itu, menurut Satia Zen (2022), diperlukan tenaga pendidik (guru) yang memiliki kesadaran dan kemampuan merancang kurikulum (lokal), yang mampu merespons dampak perubahan iklim dan pemanasan global sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sekolah. Upaya semacam itu perlu dilakukan guna menjadikan isu perubahan iklim dan pemanasan global sebagai bagian dari kesadaran generasi muda sekarang dan mendatang, yang kelak diharapkan mampu membentuk perubahan perilaku dan gaya hidup yang nyata dan relevan dengan kondisi mereka sehari-hari.

Sebagai langkah awal, Yayasan Sukma, bersama Tampere University (TAU), Finlandia, dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Indonesia bersepakat membangun kemitraan dalam suatu konsorsium guna pengembangan kurikulum pendidikan berwawasan perubahan iklim. Kurikulum itu nantinya dapat digunakan pada lembaga pendidikan (sekolah menengah) dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK)/universitas. Kemitraan itu dilakukan untuk merumuskan kurikulum yang berwawasan perubahan iklim pada jenjang pendidikan persiapan atau calon tenaga pendidik di universitas (lembaga pendidikan tenaga pendidikan), dan pengembangan kapasitas tenaga pendidik (guru) di sekolah-sekolah.

Selain itu, proyek itu akan membantu tenaga kependidikan (guru) dalam mengintegrasikan topik perubahan iklim dan pemanasan global ke dalam kurikulum sekolah. Proyek itu akan melibatkan calon pendidik, pendidik, peserta didik, dan dosen pengajar yang berada di Finlandia dan Indonesia. Proyek itu dimulai pada 2021 dan akan berakhir 2023.

 

 

Desain kurikulum

Untuk mencapai sasaran dan tujuan di atas, proyek itu menggunakan pendekatan naratif (Ropo, 2019). Dengan pendekatan naratif, proyek itu bertujuan mendorong calon pendidik (guru) di universitas/LPTK dan pendidik (guru) di sekolah menengah memiliki kemampuan mengintegrasikan ide-ide lokal ke dalam mata pelajaran yang diampu sehingga membuat permasalahan perubahan iklim menjadi konkret dan nyata bagi peserta didik (siswa).

Itu juga membantu mereka mengonseptualisasikan fenomena dalam konteks mereka. Pada tataran metodologis, proyek itu juga bertujuan mengimplementasikan pendekatan naratif untuk membuat calon pendidik dan pendidik (guru) melihat perubahan iklim dengan cara yang berfokus pada tanggung jawab dan efikasi diri, baik dalam mitigasi maupun adaptasi.

 

 

Hasil dan dampak kemitraan

Hasil yang paling penting diharapkan dari proyek itu berupa, antara lain, pertama, pengembangan modul-modul pembelajaran secara bersama-sama yang terkait dengan pendidikan perubahan iklim. Modul-modul itu akan diujicobakan dan diajarkan pada calon tenaga pendidik (guru), pre-service training, dan pendidikan (guru), in-service training. Terkait dengan modul, konsorsium berencana mengembangkan setidaknya 3 hingga 5 modul pembelajaran.

Kedua, konsorsium berharap—dengan kolaborasi—dapat menciptakan inovasi dan pemikiran inovatif tentang perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, dan pendidikan pada umumnya. Pemikiran inovatif diharapkan juga dapat meluas ke sistem pendidikan, isu-isu kesetaraan dan keadilan, serta etika global. Singkatnya, pendidikan perubahan iklim akan memperluas cakrawala berpikir peserta dan pendidik/instruktur dan program aksi.

Ketiga, konsorsium juga mengharapkan—dari kolaborasi yang dibangun—dapat menghasilkan proyek penelitian bersama dan publikasi. Itu termasuk bagian dari hasil yang sangat penting karena para pihak yang bermitra bertujuan mengembangkan pemahaman mereka tentang teori kurikulum dan menciptakan pengetahuan baru terkait dengan pendidikan. Narasi, pendekatan autobiografi untuk konstruksi pengetahuan (pembelajaran), akan diadopsi dalam upaya untuk meningkatkan pemahaman peserta tentang masalah kompleks yang terkait dengan pribadi, narasi identitas sosial dan budaya, dan gaya hidup.

Keempat, konsorsium berharap proyek itu dapat memperkuat jaringan internasional mengenai pendidikan perubahan iklim dalam berbagai mata pelajaran yang berbeda. Untuk itu, para pihak yang bermitra akan menjaga agar kolaborasi yang sudah dibangun tetap terbuka untuk mengundang peneliti dan guru-guru baru, dan berbagi keahlian, hasil dalam upaya untuk memperoleh masa depan yang lebih baik.

Kelima, konsorsium berharap ada mahasiswa doktoral yang tertarik dengan topik pendidikan perubahan iklim itu. Jika itu terjadi, akan membuka peluang kerja sama supervisi/bimbingan di bidang studi kurikulum pendidikan perubahan iklim dan pelatihan.

Keenam, proyek itu akan berdampak pada pendidikan sekolah di kedua negara, Indonesia dan Finlandia. Pengaruhnya akan bisa diwujudkan melalui pelatihan bersama yang akan ditawarkan dengan membuka sumber pembelajaran berbasis proyek yang dimiliki tiap pihak, yang dapat digunakan guru dalam proyek sekolah yang berbeda, misalnya, proyek berbasis fenomena.

Yayasan Sukma saat ini mengelola sembilan sekolah dari level SD, SMP, hingga SMA, yang tersebar di Kabupaten Pidie, Kabupaten Bireuen, dan Kota Lhokseumawe, Aceh, serta dua sekolah untuk level SMP dan SMA di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Keterlibatan Yayasan Sukma dalam proyek kemitraan internasional itu diharapkan memberi nilai tambah tersendiri. Proyek itu telah membuka kesempatan bagi guru dan manajemen sekolah untuk memperoleh pengalaman tambahan dalam riset dan pengembangan kurikulum pendidikan berwawasan perubahan iklim melalui pendekatan naratif. Pengalaman itu tentunya akan lebih meneguhkan moto yang disandang Sekolah Sukma Bangsa, A school that learns.

BERITA TERKAIT