13 February 2022, 05:00 WIB

Mengelola Limbah Belanja


Adiyanto Wartawan Media Indonesia |

“PAKET!” Teriakan itu kini hampir setiap hari terdengar di sejumlah kompleks perumahan. Namun, sebagian dari kita mungkin tidak menyadari bahwa ucapan yang disampaikan para kurir pengantar barang/makanan itu berarti ancaman kematian bagi sejumlah biota laut. Melalui plastik pembungkus barang/makanan yang sulit terurai dan akhirnya kerap bermuara di lautan, populasi ikan dan penghuni samudra lainnya semakin terancam, yang ujung-ujungnya juga membahayakan kelangsungan hidup manusia.

Menurut laporan Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Amerika Serikat (NAS) yang dirilis Desember lalu, di seluruh dunia setidaknya ada 8,8 juta metrik ton sampah plastik memasuki lautan setiap tahun. Laporan itu menyebut AS menjadi penyumbang sampah plastik terbanyak jika dibandingkan dengan negara lain di mana pun, bahkan melebihi gabungan semua negara anggota Uni Eropa (UE). Kita (saya dan Anda) tentu juga ikut berkontribusi sekian persen dari jutaan metrik ton sampah plastik tersebut, melalui aktivitas sehari-hari yang kita lakukan, termasuk dalam berbelanja online (daring).

Berdasarkan hasil studi Pusat Penelitian Oseanografi dan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI mengenai dampak pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan aktivitas bekerja dari rumah (WFH) terhadap sampah plastik di kawasan Jabodetabek yang dilakukan melalui survei daring pada 20 April-5 Mei 2020, aktivitas mayoritas warga Jabodetabek dalam berbelanja daring disebutkan cenderung meningkat. Dari yang sebelumnya hanya 1 hingga 5 kali dalam satu bulan menjadi 1 hingga 10 kali selama PSBB/WFH. Padahal, kata laporan tersebut, mayoritas (96%) paket belanja daring dibungkus dengan plastik yang tebal, belum lagi ditambah dengan bubble wrap dan selotip. Bahkan, laporan itu menyebut, di kawasan Jabodetabek, jumlah sampah plastik dari bungkus paket mengungguli jumlah sampah plastik dari kemasan yang dibeli. Artinya, kandungan plastiknya lebih banyak di pembungkusnya ketimbang pada isi paketnya.

Keberadaan sampah-sampah plastik itu, baik dari aktivitas belanja luring maupun daring, tentu harus dikendalikan. Pada akhir Februari nanti, Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEA) akan membahas hal itu. Kendati tanggalnya belum disepakati, sejauh ini sebagian besar negara dan organisasi nirlaba di bidang lingkungan, serta kalangan industri plastik, telah setuju untuk berpartisipasi. Jika melihat volume sampah plastik yang menutupi bahkan hingga di tepi laut terpencil di dunia, umumnya kita tentu setuju inilah saatnya untuk bertindak. Apalagi, menurut laporan PBB pada 2020 seperti yang dilansir Mongabay.com pada Rabu (2/2), pertumbuhan produksi sampah plastik telah menyebabkan masalah yang membuat masyarakat kesulitan untuk mengelolanya secara efektif.

Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan pengurangan 70% sampah plastik di laut pada 2025. Namun, berdasarkan laporan National Plastic Action Partnership (NPAP) dan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), saat ini baru sekitar 39%-54% sampah di Indonesia yang telah terkelola dengan baik. Hal itu mengakibatkan sekitar 30 hingga 40 juta ton sampah (3-4 juta ton di antaranya berupa sampah plastik) mencemari lingkungan setiap tahunnya. Sejauh ini, beberapa marketplace dan produsen barang/makanan memang telah bekerja sama mengupayakan penggunaan kemasan yang lebih ramah lingkungan. Namun, umumnya penggunaan plastik masih terjadi dalam aktivitas belanja daring, terutama sebagai pembungkus kemasan.

Para pengelola marketplace mungkin harus berani ‘memaksa’ para penjual untuk mengemas barang dagangan mereka dengan produk ramah lingkungan. Kita, selaku konsumen atau mungkin juga merangkap produsen yang ikut berjualan daring, mungkin sudah saatnya pula mulai beralih menggunakan kemasan dari bahan kertas/kardus daur ulang yang tidak merusak lingkungan. Biayanya mungkin relatif lebih mahal, tetapi itu lebih baik ketimbang menggunakan plastik yang sulit diurai. Terlepas nanti dibungkus plastik lagi oleh perusahaan jasa pengirimannya, toh, setidaknya kita tidak ikut-ikutan menambah jumlah limbah yang mencemari planet ini. Selain seperangkat aturan, hal penting yang dibutuhkan untuk mengatur laku hidup manusia ialah kesadaran. Sulit, memang, tapi itu harus mulai ditumbuhkan dari sekarang.

BERITA TERKAIT