06 February 2022, 05:00 WIB

Pers di Tengah Pusaran Pandemi


Adiyanto Wartawan Media Indonesia |

PETUGAS kesehatan dan wartawan merupakan profesi di garda terdepan di tengah kecamuk pandemi covid-19. Dokter, perawat, hingga petugas ambulans berperan menyelamatkan nyawa kita dari serangan penyakit tersebut. Sementara itu, pers ikut membantu menyingkap kabut misteri yang menyelimuti wabah ini. Mereka harus menerangkan secara jelas kepada masyarakat agar mengetahui dan memahami fenomena penyakit tersebut. Selain memerangi berita palsu yang berseliweran di media sosial, dalam drama global ini, mereka mesti pula bertarung dengan para buzzer, pemimpin populis macam Donald Trump dan Presiden Brasil Jail Bolsonaro, dan sejumlah influencer bayaran, yang membuat suara pakar kesehatan seperti nyaris tidak didengar.

Kita mungkin ingat, ketika awal pandemi ini merebak dua tahun lalu, para petugas kesehatan mesti berjuang tanpa dilengkapi alat pelindung diri (APD) yang memadai. Mereka bahkan terpaksa menangani pasien berbekal jas hujan plastik. Fenomena itu tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris. Menurut estimasi WHO, ada sekitar 80 ribu hingga 180 ribu tenaga kesehatan di seluruh dunia meninggal akibat covid-19 pada periode Januari 2020 hingga Mei 2021. Sebuah organisasi nirlaba di bidang kebebasan pers yang bermarkas di Jenewa, The Press Emblem Campaign (PEC), pada Jumat (7/1) lalu mengungkapkan lebih dari 1.400 jurnalis di seluruh dunia meninggal akibat covid-19 sepanjang tahun lalu.

Ketika program vaksinasi di Indonesia mulai digelar awal tahun lalu, wajar jika pemerintah menempatkan para pejuang di garis depan (petugas kesehatan dan wartawan) itu sebagai prioritas utama agar tidak semakin banyak dari mereka yang terpapar dan berguguran. Peran wartawan vital di tengah wabah ini meski umumnya kurang mendapat perlindungan asuransi yang memadai. Itu tentunya menjadi tantangan bagi organisasi profesi tersebut, baik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Asosiasi Jurnalis Independen (AJI), maupun kalangan industri pers, untuk lebih memperhatikan dan mengupayakan kesehatan serta keselamatan para jurnalis.

Peringatan Hari Pers di Kendari, Sulawesi Tenggara, tahun ini yang puncaknya akan dihadiri Presiden Jokowi pada 9 Februari nanti, kiranya juga dapat menjadi momentum untuk mengingatkan lagi fungsi dan peran wartawan/jurnalis, terutama dalam mengatasi pandemi yang hingga kini masih jauh dari kata akhir. Perjuangan masih panjang. Semua pihak mesti bersinergi untuk sama-sama keluar dari krisis ini. Apalagi Indonesia sebentar lagi akan menjadi tuan rumah KTT G-20, yang salah satu agendanya juga bakal membahas penanganan covid-19. Indonesia harus menjadi contoh yang baik di mata internasional.

Selain mengedukasi masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan, sejauh ini pers telah ikut berperan mengawasi berbagai penyelewengan terkait dengan penanganan wabah, seperti penggelembungan harga obat, permainan vaksin dan masker palsu, maupun pelanggaran proses karantina. Para pemenang Adinegoro, sebuah ajang bergengsi bagi insan pers tahun ini, umumnya juga mengulas dan mengangkat persoalan tersebut, seperti bahaya masker medis palsu yang beredar di masyarakat dan mereka yang bertaruh nyawa melawan ganasnya pandemi. Tulisan atau laporan-laporan semacam itu penting untuk menjadi inspirasi dan motivasi bagi bangsa ini untuk segera bangkit dan keluar dari krisis. Selamat menyongsong peringatan Hari Pers!

BERITA TERKAIT